Bos Mafia Jatuh Cinta

Bos Mafia Jatuh Cinta
Season 2 : Penderitaan


__ADS_3

“Aku akui aku memang bersalah atas perbuatanku, apakah aku ... manusia yang berlumur kesalahan ini tak dapat kesempatan dua kali di dalam hidup?” isak tangis wanita itu semakin kuat, tetesan-tetesan air mengalir ke permukaan pipi hingga terjatuh ke atas lantai.


 


Alio masih tak bergeming, dia berdiam diri di tempatnya duduk seraya memandangi ke arah Bella yang menangis sesegukan. Hatinya tak sedikitpun tersentuh dengan perkataan wanita itu. Rasa sakit sudah menjamah seluruh tubuhnya.


 


“Setelah apa yang kau perbuat padaku, mampukah aku memaafkanmu? Setelah penderitaan yang kau lakukan, haruskah aku memberikanmu kehidupan yang lebih layak? Apakah begitu?” hardik Alio nada tinggi, urat lehernya pun tampak sedikit keluar. Semarah itukah dia terhadap perempuan itu?


 


Bella tertunduk, lagi dan lagi rasa bersalah kembali menghantuinya saat ini. Apa yang harus dia perbuat sekarang? Semua sudah selesai. Akankah tak ada lagi kesempatan untuknya menebus kesalahan?


 


“Andaikan aku merasakan kehangatan sebuah keluarga, aku tak akan melakukan itu. Apakah kau merasakan menjadi aku? Aku adalah anak yang tak diinginkan, bahkan dibuang oleh ibuku sendiri. Miris bukan? Bahkan lebih sedihnya, aku tak tahu wajah orang tuaku, aku tak tahu mereka ke mana dan di mana. Lebih sakit, bukan? Cobalah mengerti,” jelas Bella, dia tertawa sambil menangis meratapi nasibnya yang begitu menyedihkan.


 


“Haruskah kau melibatkanku dalam masalahmu? Aku tak ingin tahu, bahkan aku tak mau tahu!” marah Alio, dia pun membuang ludahnya ke hadapan Bella.


 


“Jika kau mengerti arti penderitaan yang sesungguhnya, kau bisa memaafkan aku,” lirih Bella.


 


“Arti penderitaan?” Alio mengerutkan dahinya heran, dia masih menatap wanita itu dengan sorot mata tajam bak elang yang siap menerkam mangsanya. “Penderitaan semacam apa yang harus aku rasakan setelah penderitaan itu kau buat sendiri, J*lang?” tanya Alio marah.


 


“Bukankah penderitaanmu hanya kehilangan keluarga? Lalu, bagaimana denganku sendiri? Aku bahkan tak pernah melihat dengan jelas bagaimana wajah orang tuaku, kehangatan orang tuaku, bahkan untuk melihat mereka saja aku tak diizinkan. Aku tahu, kehilangan orang yang bearti sangatlah sakit. Namun, bukankah kita sama-sama merasa sakit atas masa lalu? Mengapa kita dihukum atas dosa masa lalu yang tidak pernah kita lakukan?” Bella mengutarakan isi hatinya kepada pria itu, dia menyeka air matanya. Dengan keberanian di dalam diri dia berkata tentang unek-unek di hatinya.


 


Alio mengembuskan nafasnya kasar. Kemudian dia mengeluarkan sebuah foto kecil berukuran 10R. Terlihat sebuah keluarga kecil yang tengah berfoto berempat, menikmati momen liburan di sebuah Pulau.


 

__ADS_1


“Kau telah merampas ketiga nyawa beharga dihidupku!”


 


Bella menatap foto itu dengan dalam, ada keindahan dan kebahagiaan tersendiri di dalam foto tersebut. Melihat foto itu membuat hatinya terasa nyeri seperti ditusuk oleh beribu belati, sesak di dada membuatnya sedikit kesulitan untuk menghirup udara.


 


Kenapa dia tidak bisa seperti laki-laki itu? Mengapa garis takdir begitu perih harus dia lewati?


 


Penderitaan semacam apa itu?


 


Mengapa dia tidak bisa berfoto bersama dengan orang tua kandungnya sendiri?


 


Terbesit rasa iri di hatinya ketika menatap foto itu, hati kecilnya tak dapat membohongi perasaannya, air mata menjadi wakil atas rasa sakit yang dia alami sendiri.


 


 


Alio menatapnya pun terkejut, hingga akhirnya dia mendekatkan diri, lelaki itu menepuk kedua pipi Bella dengan kuat.


 


“Bangunlah! Tidak usah drama di hadapanku, aku benci wanita lemah!”


 


Berulang kali pria itu mencoba membangunkan Bella, hasilnya pun nothing. Wanita itu tak kunjung sadarkan diri, hingga akhirnya dia memutuskan untuk membawa Bella ke Mansion agar ditangani oleh ayahnya—Ziko.


 


***

__ADS_1


 


“Apa yang sudah kau lakukan padanya, Alio?” tanya seorang laki-laki bernada sedikit tinggi kepada Alio, dia menatap Alio dengan tatapan mematikan. “Bukankah aku sudah pernah katakan padamu jangan bermain fisik dengannya!” hardik Ziko kesal.


 


“Aku tidak melakukan kekerasan fisik padanya, Ayah. Aku tidak berbohong padamu,” jawab Alio dengan nada sama tinggi seperti Ziko.


 


“Kau bisa saja merusak batinnya, Nak. Kau tahu itu? Jika kau telah merusak mentalnya, aku gagal mendidikmu,” ujar Ziko penuh penegasan di setiap kalimatnya.


 


“Tapi, aku tidak—”


 


“Aku sudah menyelidiki latar belakangnya dari Max, dan aku sudah memberitahunya tentang kebenaran siapa dirinya. Apakah kau masih akan menyiksanya karena kesalahan yang jelas dia tidak tahu inti permasalahan itu?” Ziko melirik ke arah wanita yang tengah terbaring lemah di atas ranjang ruang kesehatan di Mansion.


 


“Penderitaanya tidak sepahit diriku, Ayah.”


 


“Benarkah begitu? Kau tahu bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati? Lalu, bagaimana dengan nasib seorang anak yang dibuang oleh orang tuanya, bahkan tak pernah tahu bagaimana wajah orang tuanya sendiri?” tanya Ziko, dia membiarkan Alio membuka pikirannya, dan mencerna apa yang dia ucapkan. “Apa yang akan kau lakukan jika merasakan hal yang sama seperti Bella?” sambung Ziko dengan serius.


 


“Aku akan membunuhnya, orang tua macam apa yang membuang darah dagingnya sendiri? Mengapa harus dibuat jika tak menginginkannya?”


 


“Hal itu murni dari yang namanya cinta, Nak. Itulah mengapa disebut dengan buah hati,” balas Ziko. “Setiap anak tidak pernah meminta untuk dilahirkan dan tidak bisa memilih mau dari rahim siapa dia lahir ke dunia.” sambungnya.


 


“Jika kau tak bisa memaafkannya, setidaknya jangan memberikannya penderitaan lagi. Aku tahu rasa sakitmu, bahkan penderitaanku lebih daripada itu. Dan sekarang aku mencoba mengiklashkan semuanya. Ketika kita iklash, yakinlah semua akan tergantikan dengan kebahagiaan.”

__ADS_1


__ADS_2