
Kisah ini adalah spin off “Bos Mafia Jatuh Cinta.” Disarankan untuk membaca cerita awalnya terlebih dahulu, agar mengerti alur cerita. Terima kasih❤️
...----------------...
Hari ini, hari di mana Bella akan berbahagia karena ia telah merencanakan yang seharusnya sudah direncanakan demi membalaskan rasa sakit yang ia terima pada beberapa hari lalu, ia akan membuat keluarga Cristian merasakan hal yang sama, kepedihan yang sama, penderitaan yang sama.
Ia harus memberikan sebuah pelajaran kepada keluarga itu tentang sebuah penderitaan kehilangan orang yang amat disayang dan paling berpengaruh di dalam hidup.
***
Alio kini berada di sebuah mansion besar, mewah, bagaikan istana dengan beberapa pelayan lengkap yang merawat mansion di pulau terpencil ini, kini pria itu tak hentinya mengutuki dirinya sendiri di dalam kamar utama, Dokter Ziko selalu menasihatinya namun, pria itu tetap saja mengutuki dirinya terus merasa bersalah atas kejadian yang menimpa keluarganya.
Alio terpuruk dan menderita karena menganggap bahwa dirinya yang sudah bersalah atas kematian keluarganya. Andai ia ikut, mungkin ia akan melindungi mereka semua.
Kini Max, tengah mencari tahu awal mula peledakan terjadi karena apa, siapa dalang dibalik masalah peledakan pesawat pribadi keluarga Cristian.
Max adalah seorang hacker handal Dave, yang dibesarkan oleh Dave saat Dave menemukan pria mungil itu berbungkus kardus di markas utama miliknya. Usia Max tidak jauh beda dari Alio.
Dave tidak tahu siapa orang tua kandung Max, tetapi ia telah mengangkat Max sebagai anak angkatnya, membiarkan Max menguasai ilmunya di bidang hacker.
“Alio, makanlah.” Ziko meletakkan sebuah piring di atas nakas, pria itu menangis di sudut ruangan, kondisinya semakin hari semakin terpuruk.
__ADS_1
Ziko turut bersedih atas musibah yang menimpa keluarganya, apalagi Ziko adalah orang yang mengabdi kepada Dave. Tentunya ia juga merasa kehilangan. Namun ia berusaha kuat demi Alio, anak yang pernah diasuhnya.
“Buang saja, atau berikan kepada para hewan,” cetus Alio dengan tatapan kosong menatap ke arah Ziko. Ziko bisa melihat banyak penderitaan dari pancaran bola matanya.
“Alio, jangan terus-terus seperti ini. Kau tahu? Kau bisa saja membuat dirimu sakit, makanlah. Ayah dan ibumu pasti akan sangat sedih apabila tahu kondisimu seperti ini,” saran Ziko tersenyum menatap Alio, ia tahu Alio adalah anak yang penurut.
“Haruskah aku menelan makanan itu saat kini tubuhku telah kenyang menelan kenyataan, Ayah?” Alio menatapnya dengan sorot mata sayu.
“Aku tahu penderitaanmu, Nak. Jangan salahkan apa yang sudah terjadi, semua terjadi bukan karena atas kehendakmu, ‘kan? Tidak ada yang berkehendak berpisah dengan orang yang kita cintai. Terimalah dengan hati yang lapang, semua yang terjadi sudah menjadi bagian dari takdir.” Ziko mendekat ke arah Alio, anak yang sekarang amat susah dinasihati.
“Haruskah aku menyalahkan takdir yang telah tergaris untukku? Haruskah perpisahan itu terjadi secepat ini? Haruskah aku mengiklashkan kepergian ayahku, ibuku, kakakku?” tanya Alio dengan nada seraknya. Netra mata itu kembali berkaca-kaca. “Kepedihan apa yang harus aku terima kali ini, Ayah? Coba katakan padaku!”
Ziko menumpuh satu kakinya di hadapan Alio, ia memegangi pundak Alio dan menepuknya dengan pelan. “Kita tidak bisa menyalahkan takdir, Alio. Jika kau bertanya padaku, apakah aku sedih atas kepergian ayahmu, tentu jawabanku adalah iya. Aku mengabdikan diriku selama bertahun-tahun lamanya dengan ayahmu, hingga aku membelakangi urusan cinta demi janji yang kuucapkan padanya.”
“Jangan salahkan takdir, mungkin yang terjadi hari ini adalah ujian untukmu agar lebih kuat lagi. Sekarang jangan pernah berlarut dalam kesedihanmu, aku pernah berada di posisimu, namun penderitaanku jauh lebih pedih daripada dirimu, Alio. Aku menyaksikan sendiri bagaimana orang tuaku di bunuh dengan menggunakan bom waktu, bom itu terikat di tubuh mereka. Aku menyaksikan sendiri ledakan bom itu menghancurkan tubuh orang tuaku,” ungkap Ziko dengan wajah tertunduk, ia mengingat luka lama yang ia tutup selama bertahun-tahun.
“Lalu?”
“Ditinggal pergi oleh orang tuaku, aku menyaksikan kematian mereka. Namun hal yang amat aku sesali kala itu aku tidak bisa melindungi mereka. Disitulah titik penyesalanku, Nak.” Ziko menahan air matanya. “Setelah kejadian itu, aku mencoba menutup diri dari dunia, dunia menghukumku dengan kekejaman mereka. Hingga suatu hari aku bertemu dengan seorang wanita yang membuat semua kepedihanku menghilang, mengenalnya selama satu tahun, lalu ia pergi meninggalkanku selama-lamanya karena mengalami penyakit kanker telah memasuki stadium akhir.” Ziko mengangkat wajahnya, ia menarik sudut bibirnya melengkungkan senyuman. Ia tidak boleh lemah. Harus kuat demi Alio, anak kecil yang dahulu diasuhnya.
“Setelah kepergiannya, apakah Ayah kembali menutup diri?” tanya Alio penasaran dengan kisah Ziko.
__ADS_1
“Tentu. Itulah menjadi alasan mengapa aku sampai sekarang tidak tertarik membuka hati, Alio. Bahkan saat ayahmu menyuruhku mencari pasangan hidup, aku menolaknya dengan halus. Aku masih belum bisa melupakan kisah kelamku yang selama ini aku tutupi.” jelas Ziko.
Alio terdiam, pria itu mencoba mengatur nafasnya, ia tidak boleh lemah. Bahkan ada yang penderitaannya jauh lebih perih darinya, namun masih tetap bertahan. Ia harus mencari tahu siapa dalang dibalik kejadian perkara pembunuhan berencana menggunakan bom waktu itu. Alio berjanji akan membalaskan rasa sakit yang sama kepada orang itu, mau wanita ataupun pria, dendamnya haruslah terbalaskan.
Nyawa akan dibayar dengan nyawa.
“Jangan memendam masalahmu sendirian. Apabila kau ada masalah, ceritalah padaku. Aku akan menjadi tempatmu mengeluh, Nak. Sekarang jangan menganggap dirimu bersalah. Pikirkan masa depanmu.” Ziko menepuk pundak Alio kembali, pria itu bangkit dari hadapan Alio, hendak meninggalkan anak dari bosnya itu.
Alio menatap kepergian sang ayah angkat, ada banyak cinta untuk keluarganya. Namun mengapa waktu begitu cepat memisahkan mereka. Alio kembali menyalahkan dirinya, pria itu menghentam dadanya dengan kedua tangan dengan kuat, memukuli dadanya, kemudian kembali meneteskan air mata.
Sangat sakit menerima kenyataan bahwa orang tuanya telah tiada.
Cepat atau lambat, dalang dibalik kejadian ini akan terungkap. Alio tak akan segan-segan menyiksa orang itu hingga memohon ampun sampai menangis darah sekalipun, ia akan terus menyiksanya.
Darahnya kembali mendidih, pria itu bangkit dari sudut ruangan. Ia meneguk segelas air putih yang diberikan oleh Ziko sampai habis, ia membiarkan air itu mengalir membasahi kerongkongannya yang hampir mengering karena terlalu memendam kemarahan.
Alio menebar pandangannya ke seluruh sudut kamar, kedua bola matanya terhenti tepat di sebuah foto terpajang di dinding kamar, foto pernikahan Dave dan Cerin yang saling berpelukan mesra.
“Aku adalah putra kalian. Aku berjanji pada diriku akan membalaskan rasa sakit kalian!”
...----------------...
__ADS_1
Bersambung🎈