
Mika masih tak mengangkat wajahnya, seluruh tubuhnya bergemetar hebat. Ia sungguh takut dengan dua pria di hadapannya. Alio semakin emosi, karena wanita itu tak bersuara menjawab pertanyaannya.
PLAK!
Satu tamparan keras mengenai pipi Mika hingga meninggalkan bekas memar di wajah cantiknya. Alio tak peduli rasa sakit yang dialami Mika, yang ia tahu adalah menyiksa Mika agar tak lagi mengganggu ketenangan mereka.
Alio benci dengan wanita.
“Keluarlah, aku akan mengurusnya, Alio!” perintah Alie dengan penekanan, ia menatap Alio dengan wajah serius.
Alio mengusap kasar wajahnya, ia menatap sang kakak dengan tajam. Lalu Alio memutuskan untuk meninggalkan ruangan, membiarkan Alie menangani wanita itu.
Alie menatap kepergian Alio sampai menghilang dari pandangannya. Ia menatap Mika dengan dalam.
“Apakah sakit?”
Mika mengangkat wajahnya menatap wajah Alie.
__ADS_1
Alie menatapnya dengan dalam, satu kata di hatinya untuk Mika, yaitu, kasihan.
Air mata wanita itu jatuh ke permukaan pipi, membuat Alie segera menghapusnya dengan jari–jemarinya.
“Kenapa kau tidak membunuhku saja?” pertanyaan itu terlontar dari sudut bibir Mika.
Alie tersenyum, “Aku tidak ingin menyakiti wanita. Karena aku tahu, ibuku adalah seorang wanita. Sekalipun ia bersalah, aku akan menegur kesalahannya.”
Mika merasa kagum terhadap sosok Alie, masih adakah lelaki yang berhati malaikat ini? “Bukankah kau akan melenyapkanku karena aku telah merugikanmu?”
Lengkungan senyuman terukir di bibirnya, Alie menumpuh satu kakinya di hadapan Mika, “Jika kau adalah laki-laki, mungkin kau sudah tak ada lagi di sini. Dan tak akan mungkin bisa berbicara padaku. Siapa namamu?”
“Nama yang cukup bagus. Aku ingin kau jujur padaku, apa alasanmu mengusik ketenanganku?” Alie menginginkan jawaban jujur dari Mika. Ia yakin, Mika bukanlah orang jahat.
“Aku terpaksa melakukannya karena aku dibayar dengan uang banyak untuk melunasi hutang-hutang ayahku, itu semua kulakukan untuk bertahan hidup di kerasnya dunia,” jawab Mika dengan mata berkaca-kaca.
“Lalu?”
__ADS_1
“Lalu aku menyetujui permintaan laki-laki yang memberikanku tawaran,” jawabnya dengan lirih. Mika tertunduk tanpa menatap Alie.
“Apa yang akan kau jamin padaku, apabila aku membiarkanmu hidup?” Alie berdiri, ia memasukan tangannya ke saku celana, sorot matanya masih melekat pada Mika.
Mika terdiam, ia tak tahu apa yang akan dijaminnya. Ia tak memiliki satupun barang beharga di hidupnya, selain nyawa.
Untuk bertahan hidup amatlah susah, apalagi untuk membeli barang-barang mewah.
“Aku tidak punya apa-apa, bahkan barang mewah sekalipun, Tuan. Yang kupunya hanyalah nyawa. Apabila kau membiarkanku hidup, aku akan memberikan nyawaku padamu. Aku berjanji padamu,” lirih Mika dengan serius.
“Kau yakin dengan perkataanmu itu?” Alie masih tidak percaya.
“Tentu. Aku tidak akan membuatmu kecewa padaku, aku akan memberikan nyawaku padamu.” Mikayla tersenyum. Mungkin hanya itu yang dapat menjamin, meskipun ia akan hidup menjadi budak pun ia akan tetap menerimanya.
Alie terdiam sesaat, akankah ia membebaskan Mikayla? Ataukah ia akan membuat keputusan lain agar Mika berada di sisinya? Namun, sebagai apa? Akankah ia menjadikan Mikayla sebagai budaknya?
“Apakah kau akan menyerahkan dirimu seutuhnya padaku?” tanya Alie dengan raut wajah serius. Ia tak akan percaya bahwa Mika memang betul-betul menyerahkan dirinya.
__ADS_1
“Tentu, Tuan. Aku akan memberikan apapun yang kau mau, dan menjadi apapun atas perintahmu.” Mika tertunduk, mungkin semua sudah menjadi jalan takdir hidupnya.
Meski berat hati ia mengatakan itu, namun ia yakinkan hatinya, mungkin semuanya sudah dalam garis tangannya.