
“Alie ... Sayang ... Tunggu!” seorang wanita sedikit tua itu mengejar sang anak, ia ingin membujuk anaknya agar tak pergi dari mansion.
Bagaimanapun juga, Cerin ingin tahu alasan yang sebenarnya dari sudut bibir Alie. Apa alasan Alie untuk menikahi Mikayla Jackson yang telah membuat kerugian cukup banyak.
Alie menghentikan langkah kakinya, ia membalikkan tubuhnya menatap sang ibunda yang kini berjalan mendekat ke arahnya.
Cerin mengembangkan senyuman di raut wajahnya, ia memeluk erat putra sulungnya. Ia mengelus punggung Alie dengan lembut, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Alie.
“Momy menyayangimu, Nak. Jangan pergi dari Momy,” pinta Cerin dengan lirih.
“Alie juga menyayangi Momy, bukan hanya Momy saja. Momy tenang saja, Alie bisa menjaga diri Alie sendiri, Mom.” Alie melepaskan pelukannya. Ia menatap Cerin dengan dalam.
“Bolehkah Momy tahu alasan apa yang membuatmu menikahi wanita itu, Nak?” tanya Cerin dengan penasaran. Ia menatap balik netra mata sang anak.
Alie mengembuskan nafasnya perlahan-lahan, ia menundukkan wajahnya tanpa menatap wajah sang ibunda, “Alie ingin membuat kehidupannya berubah. Mikayla terpaksa menerima tawaran dari seorang pria yang menjadi musuh kita untuk membocorkan rahasia itu kepada pihak berwajib. Alie sudah mencari tahu semua tentang wanita itu, ia adalah wanita baik. Namun karena harus melunasi hutang-hutang sang ayah, ia terpaksa memakai cara itu agar mendapatkan uang.”
__ADS_1
Cerin kagum akan pendapat putranya, sikap Alie begitu berbeda dengan Alio—si putra bungsunya.
Wanita itu terharu, ia memeluk erat putra sulungngnya. Ia bisa merasakan sendiri bagaimana jika berada di posisi gadis itu sekarang. Karena dahulu, kisahnya begitu lebih perih saat mendapati perlakuan suaminya begitu kasar. Untung saja wanita itu bertemu dengan Alie, bukan dengan Alio. Jika bertemu dengan Alio, mungkin nasib wanita itu akan sama dengan dirinya.
Alio begitu mewarisi sikap Dave, kejam, sadis, tidak peduli laki-laki ataupun perempuan. Sedangkan Alie, ia tidak bisa menyakiti hati perempuan, apalagi sampai main kekerasaan.
Mungkin Alie mewarisi sikap lembut, penyayang, dan pemaaf seperti dirinya.
“Momy mendukung keputusanmu, Nak. Momy tolong, jangan pernah pergi meninggalkan Momy, ya, Sayang?” pinta Cerin pada putranya.
“Alie juga sayang sama Momy. Alie begitu menyayangi Momy sampai akhir.” Alie membalas pelukan sang ibunda.
“Thank you so much, Mom.”
...----------------...
__ADS_1
Di Sebuah Ruangan
Di sebuah kamar utama pribadi milik Dave dan Cerin, tempat di mana mereka mengadu nasib bersama, berbagi suka-duka, canda-tawa, susah-senang, kamar itu menjadi saksi cinta mereka berdua.
Cerin berjalan mendekati sang suami yang kini tengah sibuk dengan majalah di tangannya.
“Dave,”
“Iya? Ada apa?”
“Izinkanlah Alie untuk menikah dengan wanita yang sudah dipilihnya.” Cerin mendudukan dirinya di samping Dave. Ia menyandarkan punggungnya di dada bidang pria itu.
Meskipun usia mereka sudah sedikit tua, Dave masih seperti dahulu, saat muda. Ia masih begitu tampan, tubuhnya masih segar, pria itu pandai merawat tubuhnya, hingga membuat Cerin masih sering tergoda dengannya.
“Aku tidak ingin hidup Alie akan sengsara,” jawabnya lirih.
__ADS_1
“Tidak, Dave. Hidup Alie tidak akan sengsara. Percayalah padaku, aku ibunya, yang melahirkannya, membesarkannya, dan merawatnya, aku yakin pilihan putraku adalah yang terbaik, Dave.” Cerin menggengam tangan suaminya, mencoba meyakinkan Dave akan hal itu.
“Tapi Cerin—”