
Dave mendapati sebuah notifikasi pesan masuk di ponselnya, nomor asing mengirimkannya pesan, membuatnya menjadi sedikit penasaran, pesan apa itu?
Karena begitu penasaran, Dave membuka layar ponselnya, ia membuka pesan masuk yang berisi rekaman suara. Ia memutar rekaman itu, kemudian membesarkan volume ponsel.
Terdengar jelas di kedua telinga Dave, suara wanita yang sudah tak asing lagi baginya. Dave berpikir keras, suara siapa yang ada di rekaman suara pesan ini?
Anita.
Ya, ini adalah suara Anita, batin Dave.
Dave memejamkan bola matanya, terasa amat panas sekali. Ia menghempaskan ponselnya ke atas lantai, pria itu tampak menggeram marah, wajahnya telah memerah padam. Bola matanya berapi-api, memancarkan kemarahan yang begitu dahsyat.
“Seharusnya waktu itu aku tak membiarkanmu mati lebih dulu, harusnya kau mendapatkan siksa yang amat pedih di dunia baru kau boleh pergi, arkghhh.” Dave menggeram marah, melampiaskan kemarahannya di dalam ruang kerja di rumah utama.
Pria itu tampak kacau, ia meremas rambutnya kasar. Rasa bersalah menyelimuti hatinya saat ini, akankah Cerin mampu memaafkan kesalahan terbesar yang telah ia lakukan padanya?
Bagaimana jika Cerin tak mau memaafkannya dan memilih untuk pergi dari kehidupannya? Harus berapa kali ia merasa kehilangan? Sudah cukup rasanya penderitaan kali ini.
Dave tampak kacau, pikirannya berkecamuk. Harus dari mana ia menjelaskan kepada Cerin bahwa dirinya telah salah paham mengenai Cerin?
Tanpa berpikir panjang, Dave meninggalkan ruangan kerjanya dan bergegas menuju kamar yang ditempati oleh Cerin.
Kedua matanya menangkap sosok wanita cantik itu tengah asik menikmati setiap embusan angin mengenai dirinya, Cerin duduk di atas sofa di dekat jendela.
Dave berjalan mendekat, meski dengan ragu, ia bertekad meminta maaf kepada Cerin, agar wanita itu mau memaafkan kesalahan terbesar yang telah ia lakukan.
Dave mendudukan dirinya di samping Cerin, lalu menarik wanita itu masuk ke dalam pelukannya, ia memeluk erat Cerin, seakan-akan sikapnya menunjukan bahwa ia tidak ingin kehilangan Cerin. Sudah cukup rasanya ia mengalami rasa kehilangan.
“Ada apa, Dave?” tanya Cerin yang bingung karena ulah Dave begitu membuatnya tidak mengerti.
“Maafkan aku, aku sungguh minta maaf.” Dave terisak menangis memeluk erat Cerin.
__ADS_1
Cerin bingung, ada apa dengan Dave? Tidak biasanya Dave bersikap seolah seperti ini padanya, entahlah. Cerin pun bingung.
“Maafkan aku, kumohon padamu, jangan pergi dariku,” pinta Dave menangis.
“Maksudmu? Katakan dengan jelas, Dave. Jangan berbicara sedikit-sedikit!” ketus Cerin.
Dave melepaskan pelukannya, ia menatap Cerin dengan dalam, terlihat kedua pipinya telah basah dengan air mata, membuat Cerin semakin tidak mengerti dengan pria yang ada di hadapannya.
“Andai aku mendengarkanmu, mungkin aku tak akan menyiksamu layaknya binatang.” ujarnya merasa bersalah.
Cerin terdiam sesaat, ia sedikit menjauhi dirinya dari Dave, menjaga jarak antara mereka. Ia kembali mengingat jelas bagaimana siksaan Dave yang begitu kejam padanya tanpa belas kasih, berulang kali bibirnya terucap, berulang kali ia mengatakan bahwa dirinya tak bersalah namun diacuhkan oleh pria ini.
Tersadar dari pemikiran yang salah, tak seharusnya ia berdamai dengan pria ini. Mengapa dirinya terlalu bodoh masuk ke dalam rayuan pria yang telah mencoba membunuhnya?
“Ja ... jadi kau sudah tahu siapa orang yang membunuh putrimu?” Cerin menatap dengan tatapan kosong, ia sedikit gugup untuk bertanya.
“Maaf, aku sungguh minta maaf, Cerin. Kau berhak menghukumku tapi tolong jangan pergi dariku.” Dave menyesali perbuataannya, bagaimana tidak, seharusnya ia mencari tahu lebih dalam, bukan menghakimi seseorang yang tak bersalah.
Sangat dirasa tidak.
“Mampukah aku memaafkanmu, Dave?” Cerin menatap kosong ke luar jendela, rasanya hati ini seperti tertancap belati, sangat perih.
Wanita itu beranjak dari sofa, kedua bola matanya terasa begitu perih, ingin menangis. Ia mencoba untuk tegar dalam menghadapi setiap masalah yang akan ia lewati. Cerin berjalan menjauh dari Dave, ia pergi ke luar kamar, tepatnya di balkon.
Dave menyeka air mata penyesalannya, menyesal di sekarang waktu sungguh tak berguna, kesalahan yang telah ia lakukan amatlah fatal.
Pria itu menyusul Cerin pergi ke balkon.
“Kumohon padamu, maafkan aku, izinkan aku menebus kesalahanku padamu.” Dave memeluk erat Cerin dari belakang, kemudian menenggelamkan wajahnya di leher jenjang milik wanita itu, ia menghirup aroma tubuh Cerin.
Cerin tak menghiraukan kehadiran Dave, ia masih belum ingin berbicara kepada pria itu, ia membiarkan hatinya berdamai dengan kenyataan, di satu sisi, pria itu telah melakukan kesalahan besar padanya, di sisi lain, pria itu memiliki hati yang lembut, walau tampangnya sangat menakutkan.
__ADS_1
Mampukah Cerin memaafkan kesalahan Dave? Dan membuka lembaran baru bersama pria itu? Haruskah itu terjadi?
Jika ia memutuskan untuk pergi dari kehidupan Dave, bagaimana dengan anaknya? Akankah anaknya akan lahir tanpa seorang ayah?
Setega itukah ia memisahkan anaknya dari ayahnya sendiri?
Sanggupkah dirinya menjauh dari Dave? Yang telah dianggapnya sebagai pelangi di kehidupannya yang gelap tanpa warna?
“Izinkan aku menebus kesalahanku padamu.” Dave masih memeluk wanita itu.
Cerin menghela nafas panjang, ia tak tahu harus mengambil langkah apa, ia tidak ingin salah langkah dalam mengambil keputusan.
“Maaf, Dave. Aku minta padamu biarkan aku menenangkan pikiranku terlebih dahulu,” lirih pelan, membuat Dave melonggarkan pelukannya.
“Kumohon jangan pergi,” pinta Dave.
“Jika kau menyesal sekarang waktu sudah tak ada gunanya, Dave. Kau tahu? Aku sudah berulang kali menjelaskan padamu bahwa aku tidak pernah bersalah atas putrimu, tapi kau? Kau sama sekali tidak menghiraukan apa yang aku katakan padamu.” Cerin mengembalikan tubuhnya menatap Dave dengan dalam.
“Aku telah bersalah atasmu, izinkan aku menebus semuanya padamu, aku akan menjadi suami dan ayah yang baik untuk kita, kau mau, ‘kan?” Dave menggenggam tangan Cerin, mencoba menyakinkan wanita itu dengan keseriusannya.
Cerin terdiam, matanya menatap Dave dengan dalam, terlihat keseriusan pria itu terpancar jelas dari kedua bola matanya.
Tak dapat dibohongi bahwa Dave memang benar-benar telah menyesali perbuatannya kepada Cerin.
“Jika pelakunya masih ada, akanku cincang tubuhnya hidup-hidup di hadapanmu, Cerin.” Dave menatapnya dengan dalam, “Tapi sayangnya dia sudah aku lenyapkan lebih dulu, tanpa aku tahu bahwa dirinya juga mencoba menyingkirkan putriku.”
Mendengar tutur kata pria itu, membuat bulu kuduk Cerin berdiri seketika, ia tak bisa membayangkan bagaimana kekejam Dave begitu keterlaluan jika menyiksa seseorang yang mencoba mengusik hidupnya.
“Mampukah aku memaafkanmu?” Cerin membuang wajahnya, tanpa melihat ke arah Dave.
“Cerin, jika kau berada di posisiku mungkin kau akan mengerti bagaimana rasanya kehilangan darah dagingmu sendiri, aku telah kehilangan istriku, lalu aku harus kehilangan putriku, bagaimana aku tidak terpukul?” tanya Dave, pria itu tampak tersenyum kecut.
__ADS_1