Bos Mafia Jatuh Cinta

Bos Mafia Jatuh Cinta
Karena Aku Adalah Dave


__ADS_3

Pesta besar diadakan oleh Dave di sebuah gedung ternama di Las Vegas, Amerika Serikat. Atas peresmian kantor cabangnya di sana bernama Dc Group, gabungan antara namanya dan nama wanita yang teramat ia cintai.


“Selamat atas peresmian kantor cabangmu, Dave!” Jack mengulurkan tangannya ke arah pria arogan di hadapannya itu.


“Thank you, Mr.” Dave menerima jabatan tangan itu, kemudian menepuk-nepuk pundak pria itu dengan pelan.


“Apakah dia istrimu?” tanya Jack melirik ke arah wanita berparas cantik itu. “Cantik sekali.”


“Ya, dia istriku.” Dave merangkul pinggang ramping istrinya, ia menilai tatapan Jack sangat aneh. “Dia cantik? Tentu saja, dia wanita pilihanku.”


Jack menatap tak suka ketika Dave merangkul pinggang ramping wanita itu, kecantikan paripurna membuatnya terpanah, ingin memiliki wanita itu, bagaimana caranya.


“Dave, bagaimana jika kita beradu balap? Jika aku menang, maka istrimu untukku, jika aku kalah, aku akan memberikanmu seluruh saham yang kupunya,” tawar Jack tersenyum menyeringai.


“Kau menantangku, Jack?” Dave mengerutkan dahinya. “Istriku bukan taruhan yang pantas aku korbankan.”


“Mengapa? Bukankah kau sangat suka bertarung padaku waktu dulu? Dave, apakah kau lupa bahwa dahulu kau suka menaruhkan semua wanita padaku,” desirnya mengingatkan Dave tentang memori lamanya.


“Aku tidak akan menaruhkan istriku, kau mengerti?” ucap Dave dengan penekanan, ia benci berdebat seperti ini di hadapan Cerin.


Andainya Cerin tidak ada di sini, mungkin ia akan mengangkat senjatanya untuk melenyapkan Jack saat ini juga. Tak akan ia biarkan laki-laki ini menghirup udara segar di Bumi lagi.

__ADS_1


Dave melirik ke seluruh ruang, mencari keberadaan sang Asisten Pribadinya-Leo.


“Leo!” teriaknya memanggil Leo yang berada di pojok ruangan sedang berbincang dengan seorang rekan bisnis.


Leo menatap Dave, kemudian ia segera berjalan mendekat ke arah pria itu, “Ada apa?”


“Bawa istriku pulang ke mansion! Jangan sampai dia terluka, ataupun dalam bahaya!” perintahnya tegas, matanya mengawasi gerak-gerik Jack.


“Baik.” Leo mengangguk, “Mari ikuti aku, Cerin.”


Dave melontarkan tatapan tidak suka, ia menatap pria seusianya dengan tatapan marah, apa maksud dari pembicaraan Jack tadinya?


“Ikut aku, Jack!” suara dingin pria itu keluar, ia berjalan meninggalkan ruangan penuh dengan rekan bisnisnya dan undangan.


Memangnya Cerin serendah itu? Sampai-sampai akan dijadikan barang taruhan? Tentunya tidak, Cerin adalah wanita beharga, harta satu-satunya yang ia miliki, tiada duanya di dunia ini.


“Kau menginginkan wanitaku?” tanyanya dingin, kedua tangannya terlipat di depan dada, menatap Jack dengan marah.


“Bukankah dahulu kau suka membuat wanita menjadi bahan taruhan, Dave? Mengapa kau tak ingin melakukan hal itu lagi?” sindir Jack tertawa kecil.


Dave menggeram marah, kedua tangannya tampak mengepal, rahangnya mengeras, beraninya pria di hadapannya merendahkannya.

__ADS_1


“Masa dulu, jangan pernah kau kaitakan dengan sekarang, Jack!” gertak Dave marah, emosi menguasai dirinya, darahnya seakan mendidih sampai ke ubun-ubun.


“Why?” Jack menaikan alisnya menatap Dave dengan penuh penghinaan.


“Karena aku adalah Dave!” ucapnya penuh penekanan disetiap kalimat yang terucap dari sudut bibirnya.


Dave mendekat ke arah Jack, dengan cepat pria itu mengeluarkan senjata api kedap suara di balik jasnya, pria itu menodongkan sebuah pistol ke kepala Jack.


“Haruskah aku menghabisimu dengan timah panas ini?” hardiknya marah.


Jack tak percaya, tubuhnya bergemetar hebat, takut apabila timah panas itu melesat di kepalanya, dan tak bisa merasakan udara segar di dunia ini.


“Kumohon jangan, Dave!” pria itu berlutut memohon ampun di bawah telapak kaki Dave.


“Menangis darah sekalipun, aku tak akan membiarkanmu masih bernyawa, orang-orang sepertimu harus segera dilenyapkan!” ancamnya tak main-main.


Dave mengarahkan pistol itu di kepala Jack yang masih memohon di bawah kakinya, tak ada sedikitpun rasa kasihan kepada Jack.


“Ucapkanlah selamat tinggal, Jack.”


Dave menyeringai, kemudian beberapa detik timah panas melesat di kepala pria itu, hingga darah segar mengenai dirinya dan berceceran di atas lantai.

__ADS_1


Jack merenggang nyawa dalam hitungan detik, pria itu tersenyum puas.


“Jangan pernah bermain denganku, karena aku adalah Dave. Tak akan kubiarkan siapapun yang mengusik ketenanganku akan hidup dalam kedamaian.”


__ADS_2