
Tahun ke tahun telah berganti, kini si kembar telah beranjak dewasa, menginjakkan umurnya tepat pada hari ini usia keduanya dua puluh lima tahun, sebagai orang tua, tentu Dave dan Cerin ingin merayakan pesta ulang tahun putra kembarnya.
Meski terkadang Alie dan Alio tak se-frekuensi, tapi Cerin yakin, Alie pasti akan melindungi Alio sebagai adiknya. Begitupula dengan Alio, ia pasti akan menjaga Alie sebagai kakaknya.
Kini di sebuah gedung ternama di Kota itu, berkumpul beberapa orang berpakaian hitam elegan, mereka tengah asik berbincang, begitupula dengan Dave. Ia sibuk berbicara dengan rekan bisnisnya.
Seorang pria berpakaian rapi, mengenakan stelan jas hitam. Pria berkharisma tinggi, seorang bilionnaire, raja properti di bidang persenjataan, yaitu Alie Matthew Cristian.
“Ayah … Di mana Alio?” Alie mendekat ke arah pria tua yang masih terlihat segar itu.
“Bukankah Alio ada bersama denganmu?” Dave tampak bingung, ia mengerutkan dahinya dengan heran. Lalu tatapannya beralih menatap Cerin penuh pertanyaan.
“Tidak. Alio mengatakan dia akan lebih dulu ke gedung ini,” ujar Alie dengan gelisah.
Di mana Alio?
Mengapa adiknya yang lebih dulu pergi, namun belum juga sampai?
“Perintahkan semua anak buahmu untuk mencari di mana keberadaan Alio!” perintah Dave.
__ADS_1
Tubuhnya sudah panas-dingin, cemas akan keadaan putranya. Akankah Alio dalam bahaya? Pikirnya gelisah.
Kedua pria, ayah dan anak itu pergi meninggalkan Cerin. Mereka bergegas segera melacak di mana keberadaan Alio.
Dengan cepat, Dave masuk ke dalam mobil diikuti oleh Leo dan Alie di dalamnya. Ia mengendarai dengan kecepatan tinggi meninggalkan perkarangan gedung membelah jalan raya perkotaan.
“Tolong lacak di mana keberadaan Alio sekarang, Leo!” perintahnya masih dengan posisi menatap jalan raya, tanpa menoleh ke samping, di mana Leo berada.
“Ponsel Alio tak dapat dihubungi, Ayah,” ujar Alie dengan getir. Ia takut Alio dalam bahaya.
“Di mana putraku itu?” Dengan amat cemas Dave menaikkan pedal gas dengan amat tinggi.
Dave meraih ponsel yang ada di saku celana, kemudian mencoba menghubungi seseorang di dalam ponselnya. Ia meletakkan ponsel itu di bahunya.
“Ada apa, Bos?” Suara dari dalam ponsel bertanya.
“Periksa semua CCTV keamanan mansion, pastikan tidak ada gerak-gerik mencurigakan, jika ada tolong beri tahu aku segalanya, Max!” perintah Dave.
Pria itu langsung menutup panggilan, lalu beralih fokus mengendarai. Pikirannya sudah entah ke mana, entah mengapa firasat buruk kini hadir menyelimuti hatinya.
__ADS_1
“Lokasi Alio tak dapat ditemukan, Dave,” kata Leo dengan lirih. Ketiga pria di dalam mobil itu semakin gelisah.
“Bagaimana bisa aku tenang sekarang? Putraku entah di mana, bagaimana kondisinya,” lirih Dave gemetir.
“Aku sudah memerintahkan seluruh anak buah untuk mencari Alio, Ayah.” Alie menepuk pundak Dave pelan. “Pasti akan ada jalan kita menemukan Alio. Alio bukan pria lemah. Ayah tau itu bukan?”
Dave membuang nafas kasar, “Aku tahu putraku adalah ahli pembelaan diri, Alie. Alio tetaplah seorang anak kecil bagiku.”
***
Di Sebuah Tempat,
“Kau telah mengusik ketenanganku, apakah kau telah bosan hidup?” seorang pria menodongkan senjata api ke kepala pria di hadapannya.
“Cih, kau tak sadar dengan kesalahanmu? Apakah aku perlu menyadarimu?” Alio mencibir. “Jauhkan senjatamu atau kau akan—”
“Atau aku akan apa bocah tengik?” pria itu semakin arogan.
Alio mengembuskan nafas kasar, sorotan matanya amat tajam menatap pria di hadapannya ini dengan muak.
__ADS_1
“Bukankah ini yang kau mau?”
DORR!