
Ziko yang mendapatkan kabar bahwa Alio mengalami kecelakaan hebat pun segera menyusul ke rumah sakit terdekat di mana Alio kini di bawa ke UGD untuk mendapatkan pertolongan pertama.
Seorang putra yang diasuhnya sejak kecil, yang telah dianggapnya sebagai putranya sendiri saat ini mengalami kondisi kritis, di mana nyawanya sedang berjuang melawan maut.
Di depan UGD, dia tengah mondar-mandir menunggu jawaban dari sang Dokter yang sedang menyelamatkan nyawa putranya, dia sungguh tidak tenang sebelum mendapatkan kabar mengenai Alio.
Keringat dingin bercucuran ke permukaan wajah, entah mengapa dia sangat takut akan kehilangan Alio. Baginya Alio adalah separuh nafas yang harus dijaga dengan baik atas bakti kepada ayah kandungnya.
Dave sudah dianggapnya seperti kakaknya sendiri. Sebagai balas budi terhadap kebaikan Dave, dia membesarkan Alio dengan ketulusan dari dalam diri, dia telah mengabdikan diri kepada laki-laki itu selama berpuluhan tahun lamanya.
Sejak kecil, Alio selalu bertengkar dengan sang kakak, hingga mereka menyakiti satu sama lain. Hal itu membuat Ziko meminta persetujuan untuk mengasuh Alio.
Saat Dokter keluar dari dalam ruangan UGD, Ziko segera menghampirinya dengan tergesa-gesa.
“Bagaimana keadaan putraku, Dok?”
“Untuk saat ini, pasien dinyatakan koma. Team Medis sudah melakukan yang terbaik, teruslah membantunya untuk siuman, Tuan. Kami harap, pasien tidak ditinggal sendirian.” jelas Dokter kepada Ziko dengan berat hati.
__ADS_1
Mendengar ucapan sang Dokter membuat hatinya seperti ditusuk oleh beribu anak panah, bagaikan tersambar petir di Malam Hari.
Sangat sulit baginya menerima kenyataan pahit.
Haruskah dia kehilangan Alio setelah kehilangan Dave?
Mengapa?
Tanpa disadari, butiran bening mengalir di kedua pipinya, dia bergegas masuk ke dalam UGD untuk melihat putranya.
“Mengapa kau tak mendengar perkataanku, Nak? Andaikan kau menuruti apa yang aku katakan, mungkin kau tak akan terbaring lemah di atas ranjang ini,” isak tangis Ziko melihat pria itu terbaring dengan seluruh alat medis di tubuhnya. “Aku menyayangimu meski kau bukan darah dagingku. Aku menyayangimu seperti ayahmu menyayangimu.” Lanjutnya lagi sambil menyeka air mata yang mengalir.
Kepergian keluarga Cristian tak pernah disangka oleh Ziko dan anak buah Dave lainnya. Kepergian Dave sangat membuat semua orang terpukul, begitupula dengan Ziko dan Max.
“Mengapa semua terjadi padaku? Orang tuaku, orang tuamu, Leo, Alie, dan sekarang? Apakah kau juga akan meninggalkanku?” Ziko menatapnya dengan haru.
__ADS_1
Rasanya begitu sakit saat melihat Alio terbaring tak sadarkan diri dengan seluruh alat medis di tubuhnya, bahkan untuk pernafasannya pun di bantu oleh alat.
Ziko adalah Dokter Pribadi keluarga Dave. Dia sangat tahu tentang alat medis, jika sudah dipakai di seluruh tubuh, bearti luka itu sangat parah melukai tubuh.
Bercak darah segar akibat kecelakaan itu masih terlihat di balutan kain kasa di kepala laki-laki itu.
“Seberapa hebat kecelakaan itu hingga membuatmu seperti ini?”
Rasa penasaran dari dalam diri Ziko pun membuatnya ingin mengetahui penyebab dari kecelakaan itu. Apakah ada dalang dibalik semua ini?
Apakah semua ini berhubungan dengan masa lalu?
Ziko pun mengeluarkan ponsel dari saku celananya, dia membuka layar hendak memberi kabar kepada Max untuk mencari tahu tentang balap liar yang diadakan di Arena.
Apakah ada kaitannya dengan kesalahan di masa lalu yang dibuat oleh ayahnya—Dave?
__ADS_1
Membunuh atau dibunuh adalah pilihan.