Bos Mafia Jatuh Cinta

Bos Mafia Jatuh Cinta
Dua Garis Biru


__ADS_3

“Aku melupakan sesuatu yang ingin aku tunjukan padamu,” ujarnya seraya meletakkan pisau buah itu di atas meja makan.


“Apa itu, Sayang?” Dave penasaran, apa yang ingin diberi tahu oleh Cerin? Akankah sebuah kejutan indah?


Batinnya terus bertanya-tanya di dalam hati.


“Ikut aku!”


Cerin melangkahkan kedua kaki jenjangnya meninggalkan meja makan, ia menelusuri anak tangga menuju kamar utama, kamar di mana menjadi tempat terindah berbagi kisah cinta bersama sang suami.


Sesampainya di dalam kamar, Cerin meminta Dave untuk menutup kedua matanya tanpa melihat ke arahnya sedikitpun.


“Jangan sesekali membuka matamu, Dave!”


Wanita itu menatap Dave yang kini menatap ke arah luar kamar, pria itu berdiri di ambang pintu tanpa diperbolehkan masuk ke dalam kamar oleh sang istri bawelnya-Cerin.


Cerin membuka lemari pakaiannya di mana tempat ia menyimpan sebuah benda yang ingin ia tunjukan sebagai hadiah untuk sang suami. Ia ingin sekali melihat Dave bahagia atas kehamilannya kali ini.


Dengan senyuman indah terukir di sudut bibir, Cerin meraih benda yang menunjukan dua garis biru, lalu kembali menutup lemari pakaian.

__ADS_1


Ia mendekat ke arah Dave, kemudian memeluk pria itu dari belakang.


“Coba lihat ini.”


Cerin memberikan benda kecil itu kepada Dave, ia masih dengan posisi memeluk Dave dari belakang.


Dave menerimanya, kemudian melihat benda kecil yang dipegangnya, matanya bebinar bahagia saat menatap dua buah garis biru di sana.


“Kau hamil?”


Cerin melepas pelukannya, Dave membalikkan tubuh menatap dalam netra indah milik sang istri.


Wanita mengangguk pelan, kemudian ia tersenyum lebar menatap wajah sang suami.


Bahagia? Tentu ia sangat bahagia atas kehadiran malaikat kecil di dalam rahimnya. Setelah kepergian calon bayinya beberapa bulan lalu, kini kembali terisi dihadiri oleh malaikat yang mereka kasihi penuh cinta.


Tiada air mata ataupun amarah saat menerima benih itu masuk ke dalam rahimnya.


Dave tak kuasa menahan rasa bahagia karena sebentar lagi, ia akan menjadi seorang ayah. Ia sudah begitu merindukan sosok malikat kecil di mansion ini.

__ADS_1


Sebisanyanya Dave akan menjaga Cerin dengan baik sampai akhir, ia tak ingin anak dan istrinya kenapa-kenapa.


“Terima kasih, Cerin.”


Pria itu menciumi kening sang istri, lalu menggendong Cerin masuk ke dalam pelukannya, mereka berputar bahagia di dalam kamar utama, rasa terima kasih atas segalanya.


Dave amat bahagia karena kehadiran malaikat kecil di dalam rahim sang istri.


Pria itu menurunkan Cerin di atas ranjang, “Sudah berapa lama kau menyimpan taspack itu, Sayang?”


Cerin mendongak menatap wajah sang suami, nafasnya tampak tersengal, “Sudah hampir satu minggu yang lalu, maafkan aku, aku lupa memberitahumu. Kala itu, aku ingin memberimu kejutan, tetapi kau terlalu sibuk dengan pekerjaanmu.”


Dave menarik nafas panjang, “Sesibuk apapun aku, aku akan selalu ada untuk kau dan anak kita. Kau mengerti?”


“Ya, aku mengerti, Dave.” Cerin mengangguk.


“Jaga kesehatan agar anak kita selalu sehat sampai dia lahir nanti, kau jangan terlalu banyak beraktivitas, jika kau membutuhkan sesuatu panggil saja kepala pelayan di mansion ini, mereka akan memberimu apa yang kau butuhkan.” ujar Dave pelan.


Pria itu menumpuh satu kakinya di hadapan Cerin, ia berjongkok di hadapan wanita itu, kemudian memegangi kedua tangan Cerin.

__ADS_1


“Jadilah istri dan ibu yang baik untukku dan untuk anak kita, terima kasih telah memaafkan kesalahanku yang dulu dan menerimaku kembali untuk menebus semua kesalahanku dahulu padamu.” Pria itu mengecup punggung tangan Cerin.


__ADS_2