
“Aku akan menikah dengannya!”
PLAK!
Sebuah refleks-an dari tangan Alio berhasil mengenai pipi sang kakak, agar lelaki itu sadar dengan tindakan yang diambilnya.
Alio tidak suka dengan pola pikir Alie, ia membenci wanita yang tengah tertunduk di hadapannya.
Alie memegangi pipinya dengan satu tangan, sorot matanya tajam menatap ke arah Alio, menuntut banyak pertanyaan dan maksud tertentu.
“Apakah kau gila, Kak? Kau menikahi wanita yang sudah ingin membuat perusahaan gulung tikar. Semudah itukah kau mengambil langkah?” tanya Alio dengan sorot mata tajam, suaranya dengan nada begitu amat tinggi, membuat Mika semakin takut.
__ADS_1
“Aku selalu memikirkan hal dengan matang, Alio. Aku tak akan mungkin mengambil langkah yang salah.” Alie masih dengan pendiriannya, ia bersikeras meyakinkan sang adik agar menerima Mika.
“Cih, alasan apa yang akan membuatku bisa menerimanya sebagai kakak ipar. Dan, apa mungkin ayah dan momy akan menerima kehadirannya. Aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu, Kak. Kupikir kau akan menghukumnya dengan hukuman setimpal. Namun ternyata aku salah. Kau tidak akan menghukum wanita yang sudah berbuat kesalahan amat fatal,” tutur Alio dengan penjelasan. Ia menatap Alie dengan tatapan tak menyangka. Terbesit kekecewaan di dalam dirinya terhadap Alie.
“Kau ingat saat dahulu, Alio? Sesalah apapun ayah pada momy. Momy masih bisa memaafkan kesalahan ayah yang begitu amat fatal. Coba kau pikir sendiri, apakah penyiksaan ayah terhadap momy dahulu mampu dimaafkan? Tentu tidak. Tetapi karena satu hal, momy bersikap baik hati, justru daripada itu, ayah masih bersama dengan momy. Kehadiran momy di kehidupan ayah, sangat membuat ayah berubah 180°. Hal itu yang harus kau ingat, Alio.” Alie menjelaskan dengan panjang agar sang adik mengerti.
Sesalah apapun seseorang bukan bearti mereka tak bisa berubah. Justru daripada itu, Alie banyak mengambil pelajaran dari banyak hal dari kisah orang tuanya dahulu. Meski sejujurnya Alie sempat membenci ayahnya sendiri karena dulu selalu menyiksa Cerin. Namun lambat laun pria itu mengerti alasan apa yang membuat sang ayah selalu memberikan rasa sakit kepada sang ibu.
Ia menghormati wanita, karena ia tahu, ibunya adalah seorang wanita. Ia lahir ke dunia karena adanya wanita, ia dibesarkan oleh seorang wanita. Mangkanya daripada itu, ia selalu menghargai setiap wanita, sesalah apapun wanita, bukankah laki-laki seenaknya akan main kekerasan fisik, ‘kan?
Kekerasan fisik bukan menjadi tolak-ukur untuk menghakimi seseorang.
__ADS_1
“Kisah momy sama ayah jangan disamakan. Momy hanya difitnah!” seru Alio dengan nada tinggi.
“Apakah waktu itu ayah mendengarkan jawaban momy? Meskipun momy sudah berulangkali berucap kata maaf dan menjelaskan berkali-kali tentang kebenaran? Tetapi hasilnya? Ayah tak pernah mendengarkan momy,” ucap Alie dengan sorot mata tajam.
“Aku tidak setuju dengan keputusanmu untuk menikahi wanita j*lang ini, Kak!” tolak Alio menatap tajam ke arah Mika.
PLAK!
Alie dengan geram menamparkan tangannya cukup keras mengenai permukaan halus pipi sang adik. Alio terkejut melihat perlakuan sang kakak, sorot mata si kembar amat tajam bagaikan pisau runcing yang siap menikam musuh.
“Aku tak pernah memintamu untuk merendahkan derajat wanita, Alio! Kau tidak sadar bahwa dirimu lahir dari wanita? Coba kau bayangkan, bagaimana jika momy dikatakan wanita j*lang oleh laki-laki lain?!” marah Alie, kedua tangannya tampak mengepal.
__ADS_1