
Kekacauan terjadi saat Alio koma, pergerakan bisnis ilegal mulai terjun bebas, kini semua perusahaan yang bergerak menjual barang ilegal tengah dipantau oleh tim kepolisian.
Ambang kebangkrutan di depan mata, semua anak buah telah bergerak untuk mengatasi kerugian yang mencakup skala besar, Ziko dan Max tidak ingin saat Alio membuka mata dalam keadaan berbalut emosi.
Sudah beberapa hari tidak sadarkan diri begitu banyak hal buruk terjadi, apakah ini pertanda dari akhir segalanya dari dendam di masa lalu?
Dave meninggalkan banyak musuh yang harus dilawan oleh putra satu-satunya—Alio Cristian.
Entah bagaimana nasib perusahaan yang bergerak menjual senjata ilegal bila Alio juga tak kunjung sadarkan diri.
Mereka semua telah menyusun tak-tik untuk bangkit mencari musuh di dalam selimut. Bertahun-tahun lamanya perusahaan itu bergerak tidak pernah sekalipun terkena oleh pantauan pihak berwajib. Namun kini semua berubah, akankah ada yang bekerja sama ingin menghacurkan Alio Cristian karena mereka tahu bahwa Dave—si pemimpin kejam telah tiada, membuat mereka harus membalaskan dendam masa lalu.
Ziko menyembunyikan Alio di sebuah pulau, dia bisa menangani putra asuhnya sendiri karena dia adalah dokter handal keluarga Cristian, Alio telah di DPO oleh pihak berwajib yang harus di pejara seumur hidup atas kasus perdagangan narkoba jenis sabu, senjata api, dan sajam lainnya.
Bagaimana bisa dia membiarkan Alio terperangkap dalam penjara seumur hidup sendirian? Tidak, Ziko tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Max berusaha keras mencari tahu dalang dibalik semua permasalahan ini.
Perubahaan besar terjadi setelah Alio koma. Apakah musuh itu terus mengintai mereka? Pastinya bukan orang jauh, melainkan orang-orang yang selalu mengetahui gerak-geriknya.
Ziko dan Max akan menangkap pelaku tersebut untuk dibinasakan oleh Linzy dan Lina.
__ADS_1
“Jika kau masih ingin bangun, maka bangunlah sekarang, Nak. Lihatlah kondisi sekarang, semua telah berubah saat kau jatuh koma.”
Ziko berbisik di telinga Alio yang tengah terbaring tak sadarkan diri. Entah mengapa dia sangat takut jika Alio belum sadarkan diri.
Pria itu menteskan air mata tepat mengenai wajah Alio, kesedihannya semakin mendalam saat tahu bahwa putranya telah di DPO sebagai target utama dalam operasi besar-besaran nanti.
“Sepertinya markas ini sudah tak aman lagi bagi kita, Kak. Kita harus segera meninggalkan Pulau ini sebelum semuanya terlambat.”
“Siapkan semuanya, Max!”
“Persiapkan Alio, kita akan segera melakukan penerbangan sekarang!”
Ziko dibantu oleh anak buah lainnya memindahkan tubuh Alio yang berada di atas ranjang pasien, dengan seluruh alat medis lengkap.
Dorr!
Satu tembakan peringatan membuat seluruhnya terkejut, sudah terlambat. Ziko mencoba untuk tetap tenang bersama dengan Max, mereka telah dikepung oleh banyak pria berbadan kekar memakai pakaian hitam dengan penutup wajah.
Ziko menatap pria yang tengah terbaring di atas ranjang itu dengan dalam.
“Max, yakinkan pada diri sendiri.”
__ADS_1
Dorr!
Dorr!
Dorr!
Ziko menahan ranjang yang ditempati Alio agar tidak berjalan, dia mengerahkan pistolnya ke arah pria itu, dalam hitungan detik, tiga orang pria telah meninggal Dunia di tempat.
Mendapatkan kondisi orang yang menyerang telah mengembuskan nafas terakhirnya membuat mereka segera bergerak dengan cepat menuju pesawat pribadi yang berada di halaman belakang untuk membawa kabur Alio.
***
“Bagaimana bisa mereka mengetahui bahwa kita berada di Pulau ini, Max?” tanya Ziko dengan nada tersengal, dia tampak mengatur pernafasannya dengan cepat.
“Aku tidak tahu, Kak. Kita fokuskan untuk mengamankan Alio lebih dulu, setelah itu baru kita akan menangkap siapa pelaku utamanya,” balas Max, dia pun juga ikut mengatur nafasnya.
“Apakah kau tidak merasa curiga dengan beberapa orang disekitar kita akhir-akhir ini, Max?” tanya Ziko menatap pria itu dengan dalam, sesekali ia melirik ke arah Alio yang tengah terbaring lemah.
“Tidak, Kak. Kita akan kembali menyusun tak-tik untuk menangkap pelaku itu. Jangan gegabah agar rencana kita tidak diketahui oleh musuh.”
—Bersambung!
__ADS_1