
Di Pagi Hari yang cerah, dengan kilauan mentari pagi menghangatkan bumi dengan sinarnya, di bawah teriknya matahari pagi, seorang pria tengah berolahraga pagi mengelilingi rumah mewah itu, dengan celana pendeknya dan baju kaos dengan handuk kecil mengalung di lehernya. Ya, pria itu tidak lain adalah Alie Matthew Cristian.
Mika yang baru saja terbangun dari tidurnya melirik ke arah samping, ia tak mendapati suaminya, di mana Alie? Pikirannya bertanya-tanya.
Akankah pria itu telah pegi bekerja?
Tetapi mengapa tak membangunkannya terlebih dahulu?
Karena penasaran di mana keberadaan Alie, Mika memutuskan untuk mencari di mana sang suami berada. Ia beranjak dari ranjang, berjalan menuju kamar mandi hendak membersihkan diri.
Setelah membersihkan diri di dalam kamar mandi, wanita itu keluar dari sana, ia berjalan mendekati lemari pakaian, dibukanya lemari itu, ia memilih pakaian santai yang akan dikenakannya bersantai dengan Alie semalam.
Rasanya mereka memang benar-benar seperti pengantin baru, meski Alie belum meminta haknya, namun Alie begitu memperlakukannya dengan baik, Mika merasa beruntung, di saat kondisi terpuruk, masih ada yang berbaik hati padanya. Bahkan ia sampai diajak nikah, beruntungnya ia memiliki lelaki seperti Alie.
Pria itu begitu menghargainya sebagai seorang wanita.
__ADS_1
Mika memakai pakainnya dengan cepat, setelah itu ia mendekat ke depan cermin rias untuk meriasi wajahnya. Baginya memakai make-up itu penting, untuk membuat Alie betah terhadapnya. Ia tak ingin membuat Alie bosan dengan wajah kusamnya, sebab dari itu ia harus merias wajahnya, agar Alie tetap tertarik dengannya.
Toh, membuat seorang suami tertarik adalah tugas utama seorang istri. Agar sang suami tidak berpaling ke wanita lain.
Saat sedang memolesi bedak ke wajah, bunyi pintu terbuka membuat Mika kaget, sehingga membuat bedak yang ada di tangannya terjatuh ke atas meja cermin rias. Ia memutar kepalanya, melihat siapa yang masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk lagi.
Terlihat sosok pria berbadan kekar, perut kotak-kotak, dengan celana pendek, bercucuran keringat membuat Mika menelan salivanya, mengapa Alie begitu amat menggoda dengan cucuran air keringat itu?
“Kau sedang apa, Mika?” Alie berjalan masuk, ia menutup pintu kamar, lalu menguncinya.
“Kenapa kau gugup seperti itu?” Alie berjalan mendekat ke arah Mika berada.
Bagaimana tidak gugup, saat mendapati diri sang suami begitu amat tampan dan menggoda dengan air keringat yang mengalir di tubuhnya, Mika membuang pikiran jahilnya jauh-jauh, ia tak ingin terlihat murahan karena memikirkan hal tidak-tidak.
Alie tersenyum menyeringai, ia tahu bahwa, wanita itu tengah tergoda karena melihat dada bidangnya yang bagaikan roti sobek, Alie selalu merawat tubuhnya dengan baik. Rasanya ia harus menggoda Mika pagi ini.
__ADS_1
“Sayang, apakah kau tergoda?” Alie membisikan kalimat itu dengan lirih di telinga Mika.
Wanita itu menelan salivanya, detak jantungnya berdetak dua kali lebih kuat dari biasanya. Sepertinya jantungnya sedang berolahraga di dalam sana, kedua pipinya memerah merona, Alie berhasil menggodanya kali ini.
“Tidak.” Mika mengalihkan pandangannya, ia bergidik ngeri. Takut pria itu akan menggodanya lebih dari ini.
“Aku yakin, kau pasti tergoda dengan tubuhku, ‘kan?” goda Alie, ia mengigit pelan telinga Mika.
Bulu kuduk Mika semakin berdiri, Alie benar-benar menggodanya hari ini, wanita itu mengembuskan nafasnya dengan kasar. “Tolong jangan menggodaku.”
“Kenapa?”
“Kumohon jangan, Alie,”
“Apakah kau takut aku akan menggantungkan perasaan haredangmu?” Alie menatap wajah Mika dari cermin, wanita itu semakin tidak tahan dengan godaan Alie, kedua pipinya sudah memerah bak udang rebus, menahan malu.
__ADS_1