
Disaat keputusasaan dan suasana yang mencekam tak memiliki pilihan lain membuat Ziko membulatkan keputusannya untuk menyelamatkan putra asuhnya—Alio Cristian, demi nyawa yang beharga di hidupnya, dia mempercayakan Bella untuk menjaga keamanan Alio sementara waktu di ruang bawah tanah di Mansion besar peninggalan Dave.
Dia percaya bahwa Bella tidak akan menyakiti Alio, apapun alasannya. Dia harus turun tangan menyelesaikan masalah ini bersama Max dan anak buah lainnya. Ziko adalah seorang Dokter Handal, bahkan dia tidak tahu bagaimana caranya terjun ke dalam Dunia pemberontakan. Sebuah naluri membawanya untuk membuatkan ramuan dari bahan kimia agar bisa membinasakan musuh dalam sejekap
Pertikaian ini harus segera dilakukan agar Alio bisa bangun dari masa komanya, sudah berhari-hari laki-laki itu tertidur di atas ranjang pasien. Hati kecil itu menangis melihat putranya terbaring lemah di atas tempat tidur.
“Apakah kau yakin untuk menitipkan Alio kepada wanita itu, Kak?” Max kembali memastikan rencana yang dibuat oleh Ziko, mereka akan mengelabuhi musuh dengan cara membuat informasi palsu bahwa Alio akan di bawa ke sebuah Pulau. Namun kenyataanya, Alio akan disembunyikan di ruang bawah tanah.
“Tidak ada jalan lain lagi, Max. Yakinkan pada diri sendiri bahwa kita bisa melewati masa ini. Bahkan Dave sekalipun pernah berada di posisi paling menyakitkan,” ucap Ziko tegas, dia berulang kali meyakinkan hatinya sampai-sampai seluruh tubuhnya bergetar hebat. “Waktu kita untuk berpikir hanya sedikit, Max. Kita harus segera bertindak.” Imbuhnya lagi menatap ke arah Alio.
***
Di Ruang Bawah Tanah.
Dengan peralatan lengkap yang sudah disediakan dan diatur oleh Ziko demi kenyamanan Alio, dia pun meletakkan tubuh pria itu di atas kasur tempat tidur untuk pasien pada umumnya, dia mempercayakan Alio kepada Bella.
“Aku percaya pada dirimu, tolong jaga dengan baik putraku. Sebagai gantinya setelah aku kembali, aku akan membebaskanmu untuk hidup damai kembali sebagai jati diri yang baru,” ucapnya lantang disaksikan oleh Max, dia menatap Bella penuh harapan.
“Akan aku jaga putramu dengan baik, Tuan.” Bella mengangguk, dia melirik ke arah Alio yang terbaring lemah. Tatapannya merengkuh Ziko dengan dalam. “Sebenarnya aku tak menjamin keselamatannya jika aku tak memegang alih-alih senjata api, bolehkah aku meminta senjata api untuk melindunginya?” Bella menatap dengan serius. Dia tak main-main dengan ucapannya.
“Jagalah putraku dengan baik, aku akan membebaskanmu sesuai perkataanku. Ambil-lah ini.” Ziko meletakkan dua buah senjata api di hadapan Bella, dia menangkup tatapan gadis itu dengan serius. “Aku tak punya banyak waktu untuk itu, kuharap kau menjaga kepercayaanku.”
***
Bella menatap laki-laki itu dengan dalam, sesuai janjinya dia akan menebus kesalahan di masa lalu, semuanya hanya cukup sampai di sini saja kisah kelam mereka. Tak perlu generasi yang akan datang merasakan penderitaan yang sama akibat dunia hitam yang menakutkan ini.
Dorr!
__ADS_1
Gadis itu terperanjat kaget saat mendengar bunyi peringatan, dia bersiaga menatap ke sekeliling telah tampak dikelilingi banyak orang yang mengepung. Dia menatap ke arah Alio yang tak kunjung sadarkan diri itu dengan dalam, dia menyakikan hatinya bahwa dia bisa menebus kesalahannya telah merenggut nyawa beharga di hidup pria itu.
Sebagai gantinya, dia akan menjaga pria itu agar tetap selamat.
Dorr!
Dorr!
Dorr!
Bunyi timah panas nyaring terdengar nyaris terkena tiga orang pria yang tengah mengepung di depan sel, dia pun keluar dari dalam jeruji besi dan menyerang agar keselamatan Alio terjaga, tampak beberapa anak buah lainnya telah jatuh tumbang tergeletak di atas lantai ruang bawah tanah berlumur darah segar dari tubuhnya masing-masing.
Bella menatap seorang pria tampan tengah memakai penutup wajah muncul dari balik pintu penghubung dengan mengarahkan pistol ke arah Alio membuatnya harus mengambil tindakan cepat. Bahkan disaat kondisi genting seperti ini, manusia hanya butuh waktu 0,5 detik untuk berpikir mengambil tindakan.
Dorr!
Peluru yang dikerahkan Bella tidak dapat menembus vast yang dikenakan laki-laki itu membuat Bella menggeram marah, laki-laki itu menganggapinya dengan tawa yang cukup keras bagaikan iblis.
“Seberapa lama kau mencoba menyembunyikan laki-laki itu dari hadapanku? Bahkan sekalipun berada di lobang semut sekalipun aku bisa menemukannya.”
Dor!
Satu timah panas nyaris terkena Bella, dia melihat anak buah yang berada di belakangnya jatuh tumbang tak sadarkan diri dengan keadaan tak bernyawa lagi, kini hanya tersisa dirinya dan pria itu berada di ruang gelap bawah tanah.
“Kau ingin menyerahkannya atau kau akan mati?!”
__ADS_1
“Aku tidak akan menyerahkannya sekalipun aku harus mati!”
“Menyerahlah atau kau akan mengembuskan nafasmu untuk yang terakhir kalinya!”
“Tidak! Tidak akan!”
“Kau!”
Dorr!
“Argkhhh.”
“Tangkap dia!”
“Dorr!”
Bella menatap ke arah Max yang berdiri di ambang pintu penghubung dengan mata sayu, dia tersenyum lebar dengan darah yang keluar dari bibirnya menetes ke permukaan tanah.
Saat pertolongan datang, disaat itu pula nyawanya sudah berada di ujung tanduk.
“Bertahanlah, Nona!”
“Jangan bawa aku, Tuan. Biarkan maut yang akan menjemputku, ma-afkan aku. To-tolong sampaikan maafku padanya saat setelah dia sudah sa-sadarkan diri.”
Setelah selesai mengucapkan kalimatnya, wanita itu mengembuskan nafas terakhirnya di atas pangkuan Max.
__ADS_1
—Bersambung—