Bos Mafia Jatuh Cinta

Bos Mafia Jatuh Cinta
Poor Dave


__ADS_3

“Apa ini?” Dave menyerahkan sebuah rekaman yang ada di saku jasnya, memberikannya kepada Asa yang menatapnya dengan tatapan heran.


Asa menerimanya dengan gemetar, bibirnya mengatup, menatap dengan rasa takut begitu hebat, wanita tua itu mencoba menutupi rasa takut dan gelisah di hatinya yang kini tengah berkecamuk tak karuan.


Wanita tua itu mencoba memutar rekaman itu, lalu mendekatkan ke telinganya, ia mendengarkan dengan saksama.


Tubuhnya terasa sangat lemas, ia terjatuh ke atas lantai, tak dapat menopang lagi, kakinya tak bisa untuk menyangga agar tetap berdiri. Rahasia yang telah tertutup selama 28 tahun lamanya, kini telah lenyap begitu saja. Akhirnya kebenaran itu terkuak dengan sendirinya.


Akankah Dave memaafkan kesalahan mereka di masa lalu?


Selama apapun, sedalam apapun sebuah bangkai disimpan, bau-nya akan tetap tercium juga.


“Pantaskah sekarang kau memanggilku seorang anak?” Dave tersenyum miring, ia menatap dengan tatapan membunuh, ia berjongkok di hadapan Asa.


Ia berjongkok, menatap Asa dengan tajam.


Wanita tua yang telah dianggapnya sebagai seorang ibu, ternyata dengan teganya melenyapkan orang tua kandungnya. Pantaskah kesalahan besar itu dimaafkan?


Bisakah ia berdamai dengan kenyataan? Mampukah Dave menerima kenyataan itu dengan lapang dada, tanpa menaruh rasa benci dan dendam kepada Asa dan Andra?


“Dua puluh delapan tahun aku hidup dengan seorang pembunuh?” tanya Dave menggeram marah, ia telah bersumpah atas kematian orang tuanya akan membalaskan segalanya.


Asa mendongak wajahnya menatap Dave dengan mata berkaca-kaca, rasanya begitu takut untuk melihat kehadiran Dave. Aura yang diberikan Dave sangat mencekam, membuatnya merasa sangat sulit untuk mengambil nafas.


Rasanya nafas yang dihirupnya sudah habis, ia tak sanggup untuk menarik nafas, suasana begitu mencekam, membuatnya tercekik oleh keadaan.


Bibirnya menganga beberapa kali, ia tak sanggup rasanya untuk berbicara.

__ADS_1


“Kau bisu?” sindir Dave kesal.


“A ... anu, Dave. Ah, maafkan aku, aku tidak terlibat dalam hal itu,” ucapnya terbata-bata, ia takut melihat kemarahan Dave.


Ia tahu betul karakter Dave. Melihatnya menyiksa Arzu rasanya sudah sangat cukup, ia sangat sulit untuk menenangkan hati di tengah kemarahan Dave.


“Tidak terlibat? Apa maksudmu?” Dave mengerutkan dahinya heran, tatapannya masih melekat pada Asa. “Apa yang kau katakan di dalam rekaman itu adalah hal yang benar terjadi pada waktu lalu?”


Asa semakin terdiam, bibirnya terbungkam tak dapat bicara lebih lanjut. Dave telah mengetahui kebenarannya, apa mungkin ia bisa berbohong mengenai masa lalu?


Sebagaimanapun ia mencoba menutupi segalanya, suatu saat Dave pasti juga akan mengetahui kebenarannya. Apalagi, Dave adalah orang yang cukup terbilang pintar. Ia begitu banyak mata-mata dan hancker andal di manapun, ia pasti akan meminta seluruh anak buahnya mencari tahu kebenaran.


Hal apa yang harus dilakukannya sekarang? Haruskah ia jujur mengenai permasalahan kesalahan terbesar di masa lalu?


“Aku bertanya padamu!” Dave menggeram marah, ia melayangkan tangannya mengenai tepati di wajah Asa—orang tua yang mengasuhnya.


Banyak pertanyaan bermunculan di benaknya, ada apa ini?


“Apa yang kau lakukan pada ibumu, Dave?!” teriak Andra marah.


Dave mendengar suara yang tak asing lagi di telinganya, ia memutarbalikan tubuhnya menatap Andra dengan tatapan tajam, pria itu tersenyum tipis lalu menaikan alisnya sebelah.


“Ibuku? Aku rasa dia bukanlah ibuku, bukankah dia seorang pembunuh?” tanya Dave meremehkan, ia sudah tahu kebenaran.


Andra terdiam, bibirnya terbungkam, ia tak bisa membantah Dave lagi, rahasia yang tertutup selama dua puluh delapan tahun kini terungkap dengan sendirinya, siapa yang sudah membongkar rahasia yang sudah terkubur bertahun-tahun lamanya itu?


Rasanya tidak ada yang tahu akan rahasia itu selain dirinya dengan sang istri. Tapi hari ini, rahasia itu terkuak dengan sendirinya.

__ADS_1


“A ... apa yang kau katakan, Dave? Dialah ibu yang melahirkan dan membesarkanmu, mana mungkin dia seorang pembunuh!” bantah Andra, menentang kuat pembicaraan yang terlontar dari sudut bibir Dave.


Dave memicingkan mata, bibirnya pun melengkung sedikit ke atas, “Haruskah aku percaya kepada seorang pembunuh seperti kalian?”


Andra menatap tajam, sekarang sudah tak bisa lagi membohongi Dave. Kenyataan tetaplah kenyataan, tidak dapat dirubah, begitupun dengan waktu, akankah Dave mampu memaafkan kesalahan mereka di masa lalu?


Karena persaingan bisnis yang kuat, An


ndra dengan teganya melenyapkan sepasang suami-istri yang merupakan bagian dari partner kerjanya sendiri.


Hanya karena tak ingin kalah telak di sebuah meja perundingan, Andra mengangkat senjata demi merebut apa yang ia inginkan, sehingga ia harus melenyapkan suami-istri itu, Asa mengetahui bahwa sepasang suami-istri itu memiliki seorang bayi yang usianya belum sampai menginjak satu minggu, mereka memilih untuk mengambil alih menjadi orang tua dari bayi yang orang tua kandungnya mereka bunuh.


Menutupi semua identitas Dave bukanlah sebuah hal yang mudah, bagi Andra dan Asa.


Tak dikaruniai seorang anak, mereka merawat Dave hingga tumbuh dewasa.


Namun sangat disayangkan, rahasia besar selama dua puluh delapan tahun lalu harus terbongkar, membuat mereka merasa amat bersalah kepada Dave.


“Ma ... maafkan kami, Dave.” Andra menatap dalam ke arah pria yang berdiri tegap di hadapannya.


“Apakah dengan kata maaf bisa mengembalikan nyawa orang tua kandungku?” tanya Dave tersenyum kecut.


Terdiam mendengar perkataan Dave.


“Kalian telah merenggut kisah masa kecilku yang seharusnya aku pergunakan waktuku untuk bermain bersama mereka, jika waktu bisa diputar kembali, aku ingin hidup bersama orang tua kandungku, namun apalah daya, nasi telah menjadi bubur. Semua tak dapat untuk kukembalikan.” geram Dave, matanya tampak berkaca-kaca.


Dave emosi, ia mencengkram kera baju Andra dengan kesal. Rasanya hatinya telah mati, tiada lagi rasa kasihan kepada pria itu. Matanya tampak berkaca-menahan air mata yang hendak turun.

__ADS_1


“Selama dua puluh delapan tahun aku hidup dengan seorang pembunuh dari orang tua kandungku, aku sungguh tak pernah membayangkan bagaimana kalian menyiksa orang tuaku!” pekik Dave marah.


__ADS_2