Bos Mafia Jatuh Cinta

Bos Mafia Jatuh Cinta
Kebahagiaan


__ADS_3

Satu minggu berlalu, tak ada perubahan dari diri wanita itu, ia mendiamkan Dave selama satu minggu, ya. Mungkin Dave mengerti, Cerin merasakan hal yang begitu membuatnya terpukul, karena telah kehilangan calon anak mereka.


Wanita mana yang tidak sedih bila mendengar kabar buruk tentang calon anak yang ada di kandungannya.


Dave begitu sabar menghadapi sikap dingin Cerin padanya, ia selalu berusaha untuk menghibur wanita itu, meski banyak penolakan dari Cerin, tak membuat Dave menyerah begitu saja.


“Sudah satu minggu, aku mencoba mengembalikan senyumannya, tawanya, namun tak ada hasilnya, Leo,” ucapnya dengan nada kecewa, ia menatap ke arah luar jendela.


“Lalu? Apakah kau akan menyerah dengan sikapnya?” tanya Leo balik.


“Kurasa aku sudah cukup untuk melakukan semuanya, jika kali ini gagal lagi, aku akan melepasnya,” tutur Dave pasrah.


“Dicoba sekali lagi, jika masih tak ada perubahan, itu terserah padamu,” ucap Leo.


“Baiklah.” Dave sedikit menghela nafas, ia sedikit legah.


Pria itu meninggalkan ruang kerjanya, ia bergegas menuju kamar pribadi Cerin yang ada di mansion, Dave membawanya kembali ke mansion, ia tak akan membiarkan Cerin jauh darinya lagi.


Kedua matanya menatap Cerin yang tengah termenung di sudut ruangan, wanita itu memegangi sebuah baju kecil di tangannya. Entah apa yang ada di pikiran Cerin sekarang.


Dave mendekat, dan duduk di sebelah Cerin. Laki-laki itu menangkup wajah Cerin dengan kedua tangannya.


“Cerin,” panggilnya lirih.


Tak ada jawaban dari Cerin, membuat Dave menjadi bimbang, harus bagaimana lagi ia berbicara kepada wanita di hadapannya ini.


“Maafkan aku.” Dave mengecup kening Cerin dengan penuh cinta.


Hanya kata maaf yang bisa ia ucapkan kepada Cerin untuk saat ini.


“Datanglah malam ini, aku mengundangmu untuk makan malam berdua saja, jika kau marah padaku, itu tidak apa-apa. Tapi tolong untuk malam ini saja, setelah itu, aku akan melepaskanmu jika kau sudah tak ingin tinggal bersamaku, aku berjanji untuk hal itu.” Dave menyakinkan hatinya untuk melepas Cerin setelah makan malam berdua nanti malam.


Setelah mengatakan hal yang ingin ia ucapkan, pria itu dengan cepat meninggalkan kamar Cerin, harapannya terlalu besar, mengharapkan Cerin akan kembali seperti semula.


Kenyataan tak seindah impian.


***


Malam Hari.

__ADS_1


Di tempat yang telah ditentukan oleh Dave, di sebuah halaman belakang mansion, terdapat hiasan makan malam di desain khusus oleh Leo agar memberikan kesan romantis bagi keduanya. Dihiasi oleh lilin berbentuk love di sekitarnya dengan taburan kelopak mawar merah di atas meja sedikit dan taburan lainnya di sekitar meja makan.


Dave telah bersiap dengan gagahnya untuk mengungkapkan isi hatinya kepada sang pemilik hatinya--Cerin.


Ia telah menunggu kehadiran wanita itu di meja makan, namun tak kunjung datang.


Akankah Cerin datang untuk malam ini? Pikirnya bertanya-tanya.


Ia takut jika wanita itu sudah tak mau lagi berhubungan dengannya.


Lima belas menit menunggu, akhirnya yang ditunggu telah tiba, kedua matanya menangkap sosok Cerin tengah berjalan mendekat ke arahnya.


Gadis cantik mengenakan gaun merah maroon, make up-nya minimalis--tampak terlihat begitu naturalisme, aroma tubuhnya begitu menyengat menusuk indera penciumannya, untuk pertama kalinya malam ini, Cerin tersenyum kembali menatapnya.


Dave menelan salivanya, saat senyuman indah itu menyapa dirinya. Akankah ini sebuah mimpi?


“Maafkan aku sudah membuatmu menunggu lama.” ujarnya tersenyum menatap Dave. Wanita itu segera mendudukan bokongnya di sebuah kursi di hadapan Dave.


Dave menatapnya dengan dalam, ada kebahagiaan tersendiri baginya, saat menatap Cerin tersenyum lebar seperti itu, akankah wanita ini datang kemari hanya atas perkataannya untuk yang terakhir kalinya mereka akan bertemu, dan Dave akan melepaskannya setelah ini?


Kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya kini lenyap begitu saja. Wajahnya yang tadinya berseri karena bahagia, kini menjadi murung—menahan rasa sedihnya.


Ada apa dengannya? Pikir Cerin menebak.


“Kau yakin ingin melepasku?” tanya Cerin tiba-tiba, semakin membuat Dave terhenyak.


Apa yang akan ia lakukan? Akankah ia benar-benar akan melepas wanita yang ia cintai?


Arkgh, sekarang dirinya terjebak di antara omongannya sendiri.


“Kau menginginkan itu?” tanya Dave dingin. “Kalau kau menginginkan itu, akan aku kabulkan.”


Terdiam, bibirnya tak mampu bicara pada Dave.


Hening, tiada percakapan, keduanya memilih untuk menghabiskan makanan yang sudah dihidangkan di atas meja makan, melahapnya sampai habis, tak ada sedikitpun tersisa.


Setelah makan malam, masih hening, tiada yang membuka pembicaraan di antaranya.


“Aku akan melepaskanmu malam ini, pergilah. Leo akan menghantarkanmu keluar dari mansion ini.” katanya dengan datar.

__ADS_1


Niatnya malam ini adalah untuk melamar Cerin, namun ia urungkan niat itu, mungkin Cerin tidak ditakdirkan untuknya. Laki-laki itu pergi meninggalkan meja makan hendak kembali ke mansion.


“Antarkan Cerin keluar dari mansion ini!” perintahnya pada Leo, sesaat ia berselisih dengan Asisten Pribadinya.


Dave melanjutkan langkah kakinya menuju ke dalam mansion. Sedangkan Cerin menatap punggung Dave dengan perasaan hancur dan bersalah. Tak seharusnya ia berlarut dalam kesedihannya sendiri, justru Dave juga merasakan hal yang sama, sama-sama merasa kehilangan calon anak mereka.


Air mata jatuh perlahan-lahan ke permukaan pipinya, ia menyeka air mata itu, lalu berlari mengejar Dave dan meminta maaf, ia sadar, tak seharusnya ia bersikap dingin pada pria itu, apalagi belakangan ini Dave sangat perhatian padanya. Ia mengabaikan semua perhatian dari pria itu.


“Dave!” teriak Cerin seraya berlari mengejar pria itu.


Dave menghentikan langkah kakinya, ia mengembalikan tubuhnya menatap Cerin yang kini tengah belari mendekat ke arahnya, seribu pertanyaan muncul di benaknya, ada apa dengan Cerin?


Cerin mendekap erat Dave, seakan tak ingin kehilangan, ia menangis di dalam pelukan Dave. Dave membalas pelukan itu.


“Maafkan aku,” lirihnya sambil menangis.


“Untuk apa? Bukankah kau ingin aku lepaskan?” tanya Dave lirih.


“Tidak, aku sungguh minta maaf, Dave. Tak seharusnya aku bersikap dingin padamu, maafkan aku,” tangis Cerin mendekap Dave jauh lebih erat.


“Tidak apa-apa.” Dave tersenyum, lalu melepaskan pelukan, ia mengangkat wajah Cerin, dan menatapnya dengan dalam. “Aku sungguh mencintaimu, Cerin. Maukah kau menjadi pasangan hidupku?”


Deg.


Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat, akankah ia bermimpi saat ini?


Apakah telinganya tidak salah mendengar ucapan dari sudut bibir Dave? Pria di hadapannya ini menyatakan cinta padanya?


Kedua matanya membulat penuh, tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Sedangkan Dave tersenyum lebar, ia menunggu jawaban Cerin.


Dave mengeluarkan kotak cincin dari saku celananya, dan menghadapkannya ke wajah Cerin.


Cincin berlian dilapisi oleh serbuk-serbuk emas, yang didesain khusus oleh Desainer ternama di Kota ini. Limited Edition.


“Aku mau, Dave.” jawab Cerin tertawa kecil, tak dapat menutupi rasa bahagianya.


Dave memasangkan cincin itu ke jari manis Cerin, ia mengecup kening wanita itu. Lalu mendekapnya dengan erat.


“Thank you, Honey.”

__ADS_1


__ADS_2