
“Dave, aku ingin cokelat,” rengek seorang wanita bergelayut manja di lengan sang suami yang tengah sibuk mengotak-atik laptop di hadapannya.
“Sebentar, aku sedang mengecek setiap laporan yang masuk,” katanya dengan datar, matanya masih tertuju pada layar laptop di hadapannya.
“Aku menginginkannya sekarang, Dave!” bentak Cerin marah, mengigit tangan Dave dengan geram.
“Arkgh.”
Dave menghentikan aksinya, ia menutup laptop itu dengan raut kesal di wajahnya, melihat prilaku Cerin dari hari ke hari sungguh sangat menguras emosi di dalam diri.
“Anak papa yang paling keren, bantulah papa agar tidak direpotkan oleh mamamu, Nak. Ayo jagoan papa jangan terus-terusan bertingkah konyol, yah?” Dave memegangi perut Cerin dan mengelusnya perlahan.
“Dave, berhentilah mengajaknya bicara, sekarang aku mau cokelat!” seru Cerin kembali merengek bergelayut manja di lengan Dave.
Dave mengembuskan nafasnya kasar perlahan-lahan, menatap bola mata Cerin dengan dalam. Hormon kehamilan muda Cerin sangat membuatnya menguras emosi di dalam diri.
__ADS_1
Dulu saat Anha mengandung putri mereka Anha tidak pernah merepotkannya seperti ini.
Namun ada sedikit kebahagiaan di dalam diri Dave, setidaknya setelah rasa pedih itu menyelimuti kehidupannya, kini sudah hadir kebahagiaan di dalam dirinya.
Dave mengecup pelan kening Cerin dengan lembut. “Aku sungguh mencintaimu, Cerin.”
Pria itu meraih ponsel yang ada di samping laptopnya, mencoba menghubungi sang Asisten Pribadinya—Leo.
Panggilan pun terhubung dengan cepat.
“Leo, tolong bawakan cokelat ke kamar utama, jika tak ada cokelat, belikan seisi mall dan bawakan ke mari untuk istriku,” katanya kepada Leo dengan serius.
Dave tersenyum tipis, kemudian memutuskan panggilan telfon.
“Kau dengar, Cerin? Leo akan membelikan cokelat di seluruh dunia ini untukmu dan anak kita,” kekehnya.
__ADS_1
“Waw! Aku suka itu, Dave!” serunya bak anak kecil yang mendapatkan sebuah mainan.
“Akanku lakukan apapun yang kau mau, akanku berikan apapun yang kau mau, karena kau adalah segalanya bagiku, Cerin. Duniaku tak akan ada artinya apabila tidak ada dirimu di sisiku, apapun yang terjadi, kumohon tetaplah bersama denganku.” Dave merapikan anak rambut Cerin dengan jemari tangannya, jemari tangan Dave mengelus lembut kedua pipi Cerin.
“Terima kasih telah menjadi suami yang baik untukku, Dave. Kumohon padamu, apabila aku berbuat kesalahan padamu, bimbinglah aku dengan kasih dan cintamu.” Cerin menangkup wajah sang suami dengan kedua tangannya.
“Jika suatu hari nanti ada kesalahpahaman antara kau dan aku, dengarkan dari sudut bibirku, Cerin. Dengarkan penjelasan dariku, aku tak ingin kehilanganmu, sungguh aku tak ingin. Tetaplah berada di sisiku sampai akhir kuembuskan nafas terakhir.” Dave menarik pelan tubuh Cerin hingga masuk ke dalam pelukannya.
Pria itu mendekap sang istri penuh rasa cinta, tak ada yang lain di dunia ini selain ingin melihat Cerin-sang istri selalu sehat dan bahagia sampai akhir hayatnya. Yang diharapkannya, ingin segera melihat kehadiran anak mereka ke dunia, dan membesarkannya bersama-sama penuh cinta serta kasih sayang.
Cukup kehidupannya saja yang pahit dan kelam, anak-anaknya nanti jangan sampai ikut merasakan penderitaan yang pernah ia rasakan.
Dave akan mendidik anak-anaknya ahli dalam membela diri, ia akan mendidik dengan caranya sendiri, penuh kelembutan namun tegas.
Jika anaknya seorang putra, maka ia harus mewarisi segala apa yang Dave milikki.
__ADS_1
Apabila seorang putri, maka ia harus bisa membela dirinya agar terjaga keamanannya.
Seluruh anak-anaknya nanti akan mewarisi semua apa yang ia milikki, termasuk ilmu menembak.