Bos Mafia Jatuh Cinta

Bos Mafia Jatuh Cinta
Mengakhirinya


__ADS_3

Dave telah mengambil keputusan yang sudah ia pikirkan dengan matang.


Meskipun mereka telah melenyapkan orang tua kandungnya, apakah mungkin ia bisa menghabisi nyawa kedua orang tua yang telah merawatnya? Meski dalam tekanan dari mereka-sang pembunuh orang tua kandungnya?


Pria itu mengusap kasar wajahnya, sudah tak terpikir bagaimana caranya agar tetap semangat dalam menjalani kehidupan, meski cobaan datang bertubi-tubi, ia harus tetap kuat dan tegar menjalankan skenario kehidupan.


“Haruskah aku menghukum mereka atas kematian orang tuaku?” tanya Dave pada Leo, yang berdiri kokoh di belakangnya.


“Kau ingat sumpahmu untuk membalaskan kematian kedua orang tuamu? Kenapa sekarang kau menjadi dilema untuk membalaskan rasa sakit itu, Dave?” tanya Leo balik, mengingatkan atas sumpah serapah Dave untuk membalaskan kematian orang tua kandungnya.


Terdiam sesaat, otaknya berpikir keras untuk mengambil tindakan yang tepat, agar di suatu hari nanti tidak akan ada penyesalan di dalam dirinya. Penyesalan hanya akan membuat dirinya menjadi tak berguna sama sekali.


Dave memejamkan matanya perlahan, ia memegangi terali besi ruangan gelap gulita yang hanya disinari oleh remang-remang cahaya malam.


“Baik, keputusanku sudah bulat, bawa mereka ke markas, aku akan membalaskannya. Jika mereka melenyapkan orang tuaku, maka aku bisa membuat mereka menangis darah meminta pertolongan kepadaku, aku akan memberikan mereka kepada singa-singaku, tanpa harus kukotorkan tanganku memenggal kepala mereka.” Dave menatap Leo dengan tatapan tak bisa diartikan, pria itu tampak tersenyum sumringah.


Leo bergidik ngeri, ia menelan salivanya dengan berat, tapi momen inilah yang ingin disaksikan oleh Leo, di mana ia begitu mendukung Dave untuk menyiksa orang-orang yang telah berani mengusik hidup pria itu.


“Baiklah, Dave. Aku menunggumu di markas, akan kupersiapkan dua ekor singa sexy milikmu untuk mencabik tubuh mereka sampai tiada lagi yang tersisa.” Leo tersenyum tipis menatap Dave.


Lalu pria itu melenggang pergi meninggalkan gubuk pertemuannya dengan Dave.


Dave menatap punggung Leo sampai menghilang dari pandangannya, kemudian senyuman jahat terukir di bibir indahnya, pembalasan akan tetap terjadi.


Namun, sebelum ia berniat membalaskan itu semua, ia harus pergi ke makam orang tuanya yang tidak jauh dari Kota itu sendiri. Kebenaran telah terkuak dengan sendirinya, membuat Dave harus meminta izin kepada mereka untuk melenyapkan sepasang suami-istri pembunuh itu.


***

__ADS_1


Sesampainya di pemakaman, Dave turun lebih dulu, diikuti oleh beberapa anak buah lainnya yang bertugas khusus menjaga keamanan Dave. Terkadang, musuh tak kasat mata bisa menyerangnya kapan saja, meski terbilang ia adalah sosok Bos Mafia terkejam, masih ada yang menentang dirinya di dalam pergulatan dunia gelap.


Tak banyak yang berani ber-urusan dengan pria itu, apalagi menentangnya. Namun, sebagian orang banyak yang tak suka dengan kehadiran Dave di Las Vegas, AS.


“Aku tak tahu siapa diriku, namun aku percaya bahwa kalianlah yang telah membuatku ada di Dunia ini, maafkan anakmu yang tak bisa melindungimu pada waktu itu. Andai waktu bisa kuputar, aku ingin sekali melihat wajah kalian saat ini, memeluk kalian dengan erat. Tapi mungkin takdir tak berkata sedemikian seperti apa yang aku inginkan. Tenanglah di sana, semua penderitaan kalian akan terbalaskan dengan rasa sakit yang sama. Aku—Dave--putra kalian, izinkan aku untuk membalaskan rasa sakit itu kepada mereka yang dengan teganya melenyapkan kalian dan memisahkan kita, mereka merenggut kisah masa kecilku, yang harusnya aku bermain menghabiskan waktu bersama kalian.” Dave mengeluarkan isi hatinya yang ingin ia tumpahkan di hadapan makam orang tuanya.


Ia menatap batu nisan itu dengan sendu, hatinya seperti tebesit belati, sangat perih. Ia berusaha sekuat tenaga menahan segala kepedihan di dalam hidupnya.


Dave yakin, kebahagiaan akan datang padanya di masa depan.


Setelah ada badai, pasti akan ada pelangi. Begitu pula dengan hidupnya, setelah ada kesedihan pasti akan ada kebahagiaan.


Dave memakai kaca mata hitamnya, menutupi matanya yang kini terasa begitu perih, ingin mengeluarkan tangis. Ia tidak boleh lemah, di hadapan anak buahnya.


“Antarkan aku ke markas sekarang!” perintah Dave yang segera meninggalkan pemakaman.


Pria itu berjalan dengan arogant masuk ke dalam mobil, ia melepas kaca mata hitamnya, menyeka air mata yang berlinang di sudut mata perlahan-lahan.


Dave melirik ke arah luar jendela, “Selamat tinggal, aku akan mengunjungi kalian ketika aku tidak sibuk. Maafkan anakmu yang tak berguna pada waktu itu.”


***


“Di mana kedua pembunuh itu?” suara dingin dan mencekam dari pria kejam di hadapan Leo.


“Mereka telah ada di halaman belakang di dekat kandang singamu,” jawab Leo.


“Baik, ayo lakukan sekarang! Aku sudah muak dengan sandiwara ini!” ucapnya dingin.

__ADS_1


Dave bergegas membawa senjata api dan samurai panjangnya menuju di mana tawanan itu di tahan oleh Leo.


Sudut bibirnya melengkung, menyaksikan Andra dan Asa yang kini tengah terikat sebuah rantai besi.


Ia mendekat ke arah singa betina kesayangannya, terlihat dagingnya begitu montok kelihatan lebih sexy dari biasanya, membuat Dave menjadi sedikit bangga, tidak sia-sia ia memberikan singanya bangkai manusia.


“Hai, Sayang. Kau tampak seperti sehat-sehat saja, tubuhmu semakin menggoda, aku menjadi jatuh hati padamu.” Dave menciumi singa betinanya dengan gemas. “Kau akan makan malam dengan daging kesukaanmu lagi.”


Mendengar perkataan Dave, sepasang suami-istri itu bergidik ngeri, tubuh mereka sangat ketakutan, bibirnya terkatup, terbungkam dengan sendirinya.


“Lina, lakukan dengan baik, aku akan selalu memberikanmu makanan yang bergizi,” ucap Dave sambil mengelus kepala singa betinya. “Dan kau, Linzi. Kau harus menunjukan kesangaranmu biar aku semakin memberikanmu makanan yang jauh lebih bergizi setiap harinya.”


Dave menjaga jarak sedikit jauh dari singanya, lalu melepaskan rantai yang mengikat di leher Lina dan Linzi, kedua singa betina itu mengejar ke arah Asa dan Andra yang tak jauh darinya. Dave tersenyum jahat, menyaksikan pemandangan indah di hadapannya.


Linzi tampak buas, ia mencabik-cabik kulit tubuh Asa tanpa ampun.


“Daveeeee, tolong!” teriak Asa kencang. Wanita tua itu menatap ke arah Dave meminta pertolongan, namun sama sekali tak dihiraukan oleh Dave.


Lina mencabik kulit Andra dengan taringnya yang begitu tajam.


Tak ada yang dilakukan Dave selain menyaksikan kedua singa kesayangannya mencabik-menyiksa sepasang suami-istri itu.


Lima belas menit menyaksikan hal indah, akhirnya Lina dan Linzi telah menghabisinya dengan penuh nikmat, darah segar berceceran di halaman belakang membuat Dave terkekeh geli.


semua anak buah Dave menjadi ngeri-ngeri sedap jika harus menyaksikan kemarahan pria itu.


“Kau suka melakukannya, Dave?” canda Leo menggoda Dave yang berdiri di sampingnya.

__ADS_1


“Kurasa Lina dan Linzi akan merasa kurang kenyang jika hanya dua yang mereka habiskan, ha-ha!” Dave tertawa layaknya seorang iblis.


Membuat semua orang yang di sekitarnya menjadi takut.


__ADS_2