
Beberapa orang pria berpakaian hitam lengkap dengan penutup wajah tengah menyeret seorang wanita muda yang berpakaian lusuh itu ke sebuah gubuk—yang tak lain adalah tempat eksekusi.
“Ini adalah wanita yang menyebabkan kematian keluarga Anda, Boss.” Beberapa pria menyerahkan seorang wanita ke hadapan Alio.
Alio mengalihkan pandangannya, dia menatap seorang wanita yang kini tengah tertunduk.
“Angkat kepalamu!”
“Kau tahu siapa aku?”
Bella mengangkat wajahnya, tatapannya menatap Alio dengan sorot mata tajam. Terlihat api dendam itu berkilau seperti api yang menyatap sebuah kayu.
“Bawa bom waktu ke sini,” pinta Alio lirih, dia masih menatap Bella dengan datar. Ada banyak dendam di dalam dirinya.
“Ini yang Anda pinta, Bos.”
“Terima kasih.”
Brugh!
Alio menerjang tubuh wanita itu di hadapannya dengan sangat kuat, tak ada belas kasih terhadap wanita. Rasa sakit telah bercampur menjadi dendam di lubuk hatinya. Bayang kejadian itu masih teringat jelas di benaknya.
__ADS_1
Tubuh wanita itu tak dapat menopang, hingga akhirnya ambruk di atas lantai yang kotor dengan debu-debu ruangan. Dia masih bersi kokoh membela dirinya di hadapan pria yang ingin dia bunuh.
“Kau adalah pembunuh!” teriak wanita itu meronta, saat Alio hendak memasangkan bom waktu pada tubuhnya.
“Pembunuh?” Alio mengernyitkan dahinya heran. “Aku tak pernah membunuh siapapun kecuali jika orang itu mengusik ketenanganku. Kau harus dihukum atas kesalahanmu telah merenggut seluruh nyawa keluargaku.” Alio menatapnya dengan tatapan datar.
“Dasar pecundang! Kau hanya bersikap keras dengan perempuan saja. Cih, pengecut.”
PLAK!
Dengan geram, Alio menampar kedua pipi Bella. Rasa sabar tak dapat ia lakukan. Wanita ini sudah diluar batas, sudah beberapa lama dia menunggu informasi tentang kematian keluarganya. Setelah terkuak kebenaran, ternyata musuhnya adalah seorang wanita.
“Aku tak akan segan-segan membunuhmu,” ucap Alio berbisik di telinga Bella.
“Silakan. Kau adalah pembunuh! Kau tega membunuh ayahku dengan bom waktu!” hardiknya marah.
“Aku tidak membunuh ayahmu. Kau tidak meminta penjelasan dari orang kepercayaanmu, ‘kan?” tawa Alio.
PLAK!
Satu tamparan kembali mengenai satu pipi mulus bewarna putih itu, Alio tertawa di hadapan para anak buah dan wanita yang kini menjadi tawananya. Dibalik tawa-canda laki-laki itu, tersirat dendam besar yang akan dia targetkan membunuh Bella, membuat wanita itu paham akan arti penderitaan yang sesungguhnya.
__ADS_1
“Kau telah merenggut kebahagiaanku, maka bersiaplah untuk menyusul ayahmu ke alam kubur,” hardik Alio, pria itu tersenyum menyeringai bak iblis yang kesenangan atas penderitaan.
“Lepaskan! Lepaskan aku!”
Bella-si gadis malang itu memberontak sekuat tenaga. Sialnya, tubuh laki-laki itu jauh lebih kuat darinya hingga membuatnya tak bisa lepas dari cengkaman si pria.
“Bersiaplah untuk hidup di dalam neraka dunia!”
Alio berdiri tegak, kemudian kedua kakinya mengijak tulang kering Bella dengan sangat kuat. Wanita itu meringis menahan perih di atas tulang keringnya yang tampak terluka, dia menangis di hadapan Alio.
Alio tak memperdulikan wanita yang menangis, dia terus menyiksa Bella. Bayangan kejadian orang tuanya masih terlintas dibenaknya.
Laki-laki itu menarik rambut panjang yang terurai ke atas lantai ruangan pun dengan geram, dia menyeret tubuh Bella ke luar ruangan, hendak memindahkan wanita itu ke sebuah bangunan tua di belakang Mansion Besar miliknya.
“Kau harus hidup dengan kehancuran, sebagaimana kau menghancurkan kebahagiaanku!”
__ADS_1