Bos Mafia Jatuh Cinta

Bos Mafia Jatuh Cinta
Dosa Masa Lalu


__ADS_3

Dengan gagahnya pria itu berdiri di sebuah ruangan, menunggu kehadiran sosok Asisten pribadinya—Leo. Yang telah mengabdikan dirinya selama belasan tahun padanya.


Baginya, Leo sangat setia dan tidak pernah mengecewakannya dalam hal apapun, meski terkadang pria itu suka membuat Dave kesal dan emosi.


Namun hal itu tidak membuat Dave memecatnya.


Ia melirik ke arah jam kecil yang tengah melingkar di pergelangan tangannya, menatap jarum jam yang tengah bergerak sedikit demi sedikit.


Leo meminta pertemuan secara pribadi yang tak banyak orang mengetahui pembicaraan mereka, membuat Dave menjadi sangat penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh Leo, pria itu sungguh membuatnya penasaran.


Dave sudah tak sabar rasanya ingin mengetahui hal apa yang akan dibicarakan oleh Leo.


Setengah jam menunggu kehadiran Leo, akhirnya orang yang ditunggu telah tiba di ruangan tempat Dave berada.


“Maafkan aku telah membuatmu menunggu lama, Dave.” Leo mendekat ke arah Dave, mereka duduk di atas sofa ruangan.


“Tidak apa-apa, katakan apa yang ingin kau bicarakan padaku, langsung pada intinya saja,” imbuh Dave.


“Dengarkan ini baik-baik, Dave.” Leo mengeluarkan sebuah perekam suara dari saku celananya, dan memberikan benda itu pada Dave yang ada di hadapannya.


Dave mengerutkan dahinya beran, jujur saja bahwa pria itu tampak dengan jelas kebingungan di raut wajahnya. Ia menerima benda itu, lalu memutarnya.


Pria itu mencoba membesarkan volume perekam suara, mendengarkannya dengan saksama.


Ia menutup matanya perlahan, darahnya seakan mendidih mengetahui apa yang ada di rekaman itu.

__ADS_1


“Kapan kau mendapatkan bukti ini, Leo?” tanya Dave spontan, to the point.


“Saat kau pulang duluan, aku merasakan ada sesuatu yang menjanggal di hatiku, aku mencoba mencari tahu segalanya, dan ya. Tak sengaja aku mendengarkan Tuan besar dan Nyonya besar berbicara,” ungkap Leo menatap Dave dengan dalam.


“Feelingku sudah menebak sedari awal, aku yakin bahwa mereka bukan orang tuaku, tidak ada orang tua yang begitu memaksakan kehendaknya sendiri tanpa berpikir apakah anaknya akan bahagia atau tidak.” cibir Dave tersenyum tipis, ia menahan kekesalannya terhadap Andra dan Asa.


Dave tampak sedikit frustrasi, ia menundukan wajahnya menatap ke arah lantai, kenapa beban ini terasa amat berat baginya? Kapan kebahagiaan itu tercipta?


Di mana letak kebahagiaannya?


Dalam diam, ia meratapi dirinya sendiri, akankah jalan takdir dan hidupnya akan tetap seperti ini? Tanpa adanya kebahagiaan?


Entahlah.


Rasanya sudah cukup lelah menjalankan kehidupan.


“Jika satu nyawa yang lenyap, maka akan ada seribu satu di antara mereka harus lenyap, nyawa haruslah dibayar dengan nyawa. Jika kematian harus dibalaskan dengan kematian, aku tak sudi jika harus hidup dengan pembunuh orang tuaku!” cecar Dave, ia menggeram, darahnya sudah mendidih menahan rasa emosi menggebu-gebu di dalam diri.


Sudah cukup rasanya, mari diakhiri dengan kata selamat tinggal untuk Andra dan Asa. Orang yang telah memakai topengnya di hadapan Dave.


“Aku akan menemui mereka sendirian, kau tunggu saja kabar dariku, aku akan membawa kepala mereka untuk diberikan ke singa kesayanganku agar mereka memiliki body sexy untuk dilihat,” kekeh Dave.


“Kenapa tidak untuk pajangan saja di markas? Sepertinya akan sangat menarik,” saran Leo tersenyum tipis.


“Idemu bagus, tapi sayang itu tidak membuatku tertarik, kasihan singaku, nanti mereka tidak dapat jatah kepala, ha-ha!” Dave tertawa lepas, tapi Leo bisa menilai, tawa Dave bukan karena bahagia, melainkan untuk menjemput nyawa orang lain.

__ADS_1


Dave tersenyum tipis, lalu beranjak dari sofa. Ia meninggalkan ruangan pertemuannya dengan sang Asisten. Pria itu pergi menuju parkiran, di mana tempat ia memarkirkan mobilnya.


Anak buahnya telah menunggu di sana, pinth mobil terbuka dan pria itu segera masuk ke dalamnya diikuti dengan anak buah lainnya.


“Jalankan mobilnya menuju mansion di mana pembunuh itu berada!” perintahnya kepada anak buah.


***


Sesampainya di mansion, Dave bergegas turun lebih dulu tanpa dibukakan pintu mobil oleh anak buahnya, dengan emosi menggebu-gebu pria itu masuk, mencari keberadaan Asa dan Andra—si pelaku utama yang telah melenyapkan orang tua kandungnya.


Kematian akan dibalas dengan kematian, rasa sakit akan dibalaskan, Dave bersumpah atas kematian orang tuanya, ia akan membalaskan semua rasa sakit itu kepada Andra dan Asa.


Dibesarkan oleh pembunuh orang tuanya sangat membuat Dave terbesit oleh kenyataan yang begitu perih.


Mata Asa terbelalak, melihat siapa yang berdiri tegap di depan ambang pintu kamar pribadinya dan Andra. Bibirnya mengatup, tubuhnya bergemetar dengan hebat, tak bisa ditutupi rasa takut dan cemas akan dosa masa lalu diperbuat.


Baru kali ini, ia melihat tatapan Dave padanya sangat membunuh, akankah Dave sudah tahu kebenaran tentang dosa masa lalu yang diperbuatnya dengan Andra?


Menyiksa dan membunuh orang tua kandung dari anak yang mereka besarkan?


Bagaimana jika Dave mengetahui itu semua? Akankah semua akan baik-baik saja? Mampukah Dave memaafkan dosa besar itu?


Tatapannya melekat pada sosok Dave yang menatapnya dengan tatapan tajam, ia bisa melihat bola mata pria itu seakan berapi dengan besar, membuatnya menjadi takut.


Takut jika Dave telah mengetahui kebenaran yang terjadi di masa lalu.

__ADS_1


“A ... ada apa, Nak?” Asa mendekati putranya, yang ada di ambang pintu.


“Nak? Kau panggil aku dengan sebuatan anak?” Dave menggeram marah, ia menghentam pintu kamar hingga menggelenggar dentuman keras menusuk ke indera pendengaran.


__ADS_2