Bos Mafia Jatuh Cinta

Bos Mafia Jatuh Cinta
Kepergian (Finnal Episode)


__ADS_3

Waktu keberangkatan keluarga Cristian ke sebuah pulau kecil telah tiba, dengan berat hati Alio melepas kepergian mereka ke sana. Namun, entah mengapa di lubuk hati terdalam, Alio merasa ada yang aneh. Seperti sebuah firasat buruk telah mengatakan padanya akan terjadi sesuatu.


Alio tak lupa memasang mata-mata di dalam bagian pesawat pribadi di sana, tak ada yang mencurigakan sama sekali.


Saat pesawat pribadi telah melepas landas ke udara, Alio hanya bisa menatap dari bawah. Hati pria itu berkecamuk tak karuan, memikirkan orang tuanya. Ya. Ia hanya bisa beharap bahwa, jangan sampai orang tuanya terluka, ataupun dalam bahaya.


...----------------...


Di Sebuah Tempat,


Kini Seorang wanita tengah tertawa lepas bagaikan seorang iblis, suara tawanya membuat telinga anak buahnya menjadi terusik, saatnya kematian Keluarga Cristian telah tiba, bukan hany satu namun, seluruhnya.


Mereka harus merasakan penderitaan yang sama, agar mengerti bagaimana rasa sakit.


Meski hanya satu nyawa yang lenyap, mereka harus tetap membayar nyawa yang hilang.


“Bagaimana dengan semuanya. Lancar tidak?” tanya Bella menatap dengan sorot mata dalam ke arah anak buah di hadpaannya.


“Tentu, Nona. Kami sudah memasang bom waktu di bagian sela-sela pesawat yang tidak diketahui oleh mereka. Bahkan alat canggih sekalipun tidak bisa menyudup keberadaannya. Bom itu akan meledak dalam hitungan sepuluh menit setelah penerbangan dilakukan.” jelas anak buah Bella dengan panjang, mereka membalas tatapan Bella dengan rasa menghormati.


Wanita yang dahulu diambil oleh Bosnya hendak dilenyapkan namun, malah berubah menjadi kenyakinan untuk dibesarkan oleh Abed.

__ADS_1


Tangisan, tatapan bayi malang itu meggerakan hati Abed untuk membesarkannya hingga beranjak dewasa. Kini ia telah tumbuh menjadi wanita cantik, namun memiliki sikap dan karakter kejam, mewarisi Abed. Meski ia bukanlah darah daging pria itu.


Bella kembali tertawa di dalam ruangan, suara tawanya begitu nyaring, membuat telinga siapapun sakit.


Kini wanita itu pergi meninggalkan ruangan pribadinya.


***


Alio kini mengawasi kamera pengintai yang terpasang di sebuah bagian pesawat yang tidak diketahui oleh keluarganya, entah apa yang berkecamuk di dalam diri.


Saat sedang mengamati kamera itu, tiba-tiba layar monitor menjadi gelap gulita, tidak ada tanda-tanda yang menjadi jawaban mengapa layar monitor itu menjadi hitam pekat, akankah jangan-jangan?


Alio membuang pikiran buruknya mengenai Keluarganya. Namun karena perasaan cemas dan takut, Alio meraih ponselnya dan segera menghubungi sang ayah, menanyakan kabar, akankah mereka baik-baik saja?


Dengan geram, bibirnya terkatup karena cemas, panggilan telefon sama sekali tidak diangkat oleh sang ayah, dan Alio kembali mencoba menghubungi sang kakak—Alie Cristian.


Sial!


Tidak ada yang menjawab pertanyaannya.


...****************...

__ADS_1


Setelah berjam-jam mencari informasi mengenai pesawat pribadi yang menjadi kendaraan keluarganya ke sebuah pulau terpencil, akhirnya kenyataan pahit itu harus ditelan oleh Alio, ia ditinggal pergi oleh keluarganya untuk selama-lamanya, kematian tragis keluarga Cristian membuat kepedihan mendalam di dalam lubuk hatinya.


Saat ini, semua pergerakan mencari di mana keberadaan semua keluarganya, entahlah. Kini di sebuah pulau, dengan ditemani oleh Dokter Pribadi—Dokter Ziko, Alio memerintahkan semua anak buah sang ayah, untuk mencari sisa-sisa ataupun bukti dari kekecauan ini.


Kini pria muda nan tampan, sosok anak dari Dave. Menangis terisak di dalam pelukan sang Dokter, ia memeluk erat Ziko, yang merupakan ayah angkatnya, yang membesarkannya selama bertahun-tahun.


“Apa yang harus aku lakukan, Ayah?” Alio kembali menangis tersedu di dalam pelukan Ziko.


Ziko mengelus lembut punggung pria itu, sama halnya, dirinya juga kehilangan sosok Dave. “Tenanglah, Alio. Tenangkan dirimu, kita cari bukti akurat tentang kejadian ini.”


“Bagaimana bisa aku tenang untuk sekarang? Aku tidak bisa melindungi keluargaku, Ayah. Haruskah aku ikut menyusul mereka agar aku tidak merasa bersalah atas kematian mereka?” Alio menatap Ziko dengan tatapan sendu, air matanya berlinang di sudut pipi.


Ziko menggeleng pelang. “Kita tidak bisa menyalahkan takdir, Nak. Tenanglah. Iklashkan apa yang sudah menjadi bagian dari takdir.”


......................


Untuk kisah selanjutnya, akan dibuat dengan buku berbeda. Dengan judul, Penjara Hati Sang Mafia.


Sudah kepo belum gimana kelanjutannya? Yuk, disimak terus😘😘 untuk sekarang bukunya belum terbit. Akan saya info apabila sudah rilis di Noveltoon, Ok?💓


__ADS_1


__ADS_2