Bos Mafia Jatuh Cinta

Bos Mafia Jatuh Cinta
Kekhawatiran Dave


__ADS_3

Di bawah teriknya matahari pagi, seorang wanita membawa topi kecilnya yang diletakkannya di atas kepala, memakai kaca mata hitam. Ia berniat untuk berlari pagi di sekitar lingkungan tempat tinggal yang sekarang menjadi tempat tinggalnya.


Tiada keributan, tiada perdebatan, hanya ada ketenangan, membuat Cerin menjadi sangat nyaman tanpa kehadiran Dave.


Wanita itu menghirup udara dengan dalam, bibirnya tersenyum manis. Sudah beberapa hari ia berpisah dengan Dave.


Meski sejujurnya ia sedikit merasa kesepian tanpa adanya Dave, tapi itu semua ia lakukan untuk memberikan pelajaran pria itu agar tidak menghakimi seseorang tanpa tahu arti kebenaran yang sesungguhnya.


“Nak, maafkan Mama sudah memisahkanmu dari papamu, suatu saat nanti, Mama akan membawamu kepadanya. Tapi tidak untuk sekarang waktu.” ucapnya seraya mengelus perut yang sedikit membuncit itu dengan penuh rasa bahagia.


Setidaknya, ia tidak merasa terlalu kesepian, karena ada sosok janin yang selalu menjadi penyemangat dirinya, meski awalnya ia tidak menginginkan janin itu di dalam rahimnya.


Wanita cantik nan sexy itu keluar dari rumah kecil sederhana, sesuai keinginannya sendiri. Ia menatap ke arah langit, menatap cahaya mentari yang begitu terik menyinari Bumi.


“Sangat indah.”


***


“Di mana wanita itu?” tanya Dave dari sambungan telefon, seorang penguntit yang diperintahkannya untuk selalu melihat perkembangan wanitanya di sana.


Meski terhalang jarak, bukan bearti Dave akan merelakan dan membiarkan Cerin sendirian. Ia selalu mengawasi wanita itu dari kejauhan, hanya dengan itu ia bisa menjaga Cerin.


Dave akui, dunianya terasa amat tak bearti jika tak ada Cerin di sisinya.


Akankah ia telah jatuh hati pada wanita itu?


Pertemuan yang tak disengaja malah membuahkan hasil.


“Nona sedang berlari pagi, Bos,” jawab penguntit itu pada Dave.


“Apakah ada tanda-tanda mencurigakan di sana, Lee? Jika ada, beri tahu aku, aku akan ke sana, jangan sampai wanita itu terluka. Seujung kuku sekalipun, aku tak akan merelakan dia terluka, kau mengerti untuk hal itu?” suara dingin Dave kembali keluar, membuat penguntit itu sedikit takut padanya.


“A ... aku mengerti untuk itu, Bos.” jawabnya dari balik telefon dengan rasa gugup.


Mendengar jawaban dari Lee, Dave menutup panggilan, ia menatap foto Cerin yang ada di dalam layarnya, tanpa ia sadari, senyuman terukir di bibirnya. Rasanya ia begitu merindukan wanita itu, ingin memeluknya, menciumi aroma tubuhnya yang begitu wangi.

__ADS_1


Ia merindukan semua tentang Cerin.


“Suatu saat kita pasti bersatu.” Dave bermonolog, ia menatap wajah Cerin yang ada di layar ponsel.


Leo yang berdiri di ambang pintu, menyaksikan Dave yang kini tengah senyum-senyum sendiri layaknya orang gila, entah apa yang membuat pria itu tersenyum, Leo menjadi sangat penasaran, kira-kira apa?


Entahlah.


“Apakah kau sedang sakit, Dave?” tanya Leo mendekat ke arah Dave.


Dave mengalihkan pandangannya menatap Leo, “Aku baik-baik saja, mana mungkin aku sakit.”


“Lalu apa yang membuatmu tersenyum lepas seperti itu?” Leo mendudukan dirinya di hadapan Dave.


“Ingin tahu?” tanya Dave menaikkan alisnya.


“Tidak, aku hanya bertanya,” ujarnya merasa tak enak hati.


“Bagaimana dengan Felix? Apakah dia sudah tertangkap oleh Polisi?” tanya Dave, ia mengeluarkan rokok dari saku celananya, lalu mengambil satu buah batang rokok, kemudian ia selipkan di jemari tangannya, menghidupkan api rokok.


“Status Felix masih dalam pencarian, banyak Polisi ingin menangkapnya saat ini, perusahaannya yang bergerak di bidang persenjataan sedang naik daun, tetapi Felix tak membayar uang kepada Polisi, itu membuat Polisi ingin menangkapnya,” jelas Leo dengan panjang.


Felix adalah salah satu sahabat dekat Dave pada waktu kecil, namun seiring berjalannya waktu, keduanya tumbuh besar dan mengenal dunia perbisnis-an hingga menimbulkan persaingan-persaingan kecil hingga besar, membuat mereka tak lagi menjadi akur untuk berteman.


Adanya persaingan yang kuat, membuat keduanya lupa bahwa mereka dahulunya bersahabat.


Felix kerap kali merampas apa yang dimiliki oleh Dave.


***


Malam Hari.


Cerin merasa ada yang aneh dengan perutnya, ada apa ini? Tidak biasanya ia merasakan nyeri yang amat hebat ini. Wanita itu berjalan dengan hati-hati menuju dapur. Terlihat seorang pelayan yang diperintahkan Dave untuk menjaganya, Cerin tidak menolak hal itu.


“Bi, bisakah kau buatkan aku teh panas?” pinta Cerin dengan nada getir. Ia menahan rasa sakit di bagian perutnya.

__ADS_1


“Nona, Anda kenapa?” tanya pelayan itu tampak sedikit panik.


“Ah, Bi. Perutku sangat sakit. Bantu aku,” rengek Cerin sambil memegangi perutnya, ia mencoba menetralkan nafasnya yang tersengal.


“Sebentar, Nona.” Pelayan itu membopong Cerin untuk duduk di meja makan.


Karena begitu khawatir takut akan terjadi sesuatu yang buruk pada Cerin, pelayan itu memutuskan untuk menghubungi Dave. Hanya Dave yang bisa membantu keadaan Cerin.


“Ada apa?” terdengar suara dingin dari sambungan panggilan itu.


“A ... anu, Tuan.” tampak gugup untuk mengatakan hal yang sebenarnya. “Nona ... nona sedang tidak baik-baik saja di sini.”


“Apaaaaa?!” tanyanya dengan nada kuat, membuat pelayan itu menjauhkan sedikit telefonnya. “Aku akan ke sana sekarang, lakukan apa yang dibutuhkannya, bertahanlah sampai aku ada di sana.”


***


Dave mengambil dua buah senjata api lalu ia letakkan di dalam sebuah tas mini miliknya, pria itu bergegas menuju halaman belakang mansion miliknya, terlihat beberapa anak buahnya yang sedang berkumpul di sana bersama Leo. Ia berjalan mendekat ke arah mereka.


“Kita berangkat sekarang!” perintahnya dengan nada kejamnya, membuat bulu kuduk anak buahnya berdiri tegang, mereka semua bergidik ngeri, apa lagi yang terjadi? Semua bertanya-tanya dalam hati.


Tidak ada yang berani bertanya pada Dave, mereka mengekori pria itu menuju Helikopter pribadi milik Dave. Pria itu masuk ke dalamnya, anak buahnya ikut masuk, begitupula dengan Leo, pria itu mendudukan dirinya di samping Dave.


Tanpa aba-aba lagi, Helikopter Pribadi Dave telah terbang menuju kediaman Cerin yang tak jauh dari AS sendiri.


Perasaannya berkecamuk, ia memikirkan Cerin, ada apa dengan Cerin?


Dave mencoba menenangkan dirinya, ia sangat khawatir dan takut apabila sesuatu buruk akan terjadi pada Cerin--wanita yang ia cintai sekarang.


Beberapa kali membuang pikirannya yang macam-macam tidak bisa menutupi rasa cemas dan khawatirnya.


Pikirannya telah berpikir jika Cerin mengalami hal yang buruk.


Akankah Cerin dalam bahaya sekarang? Apakah musuh tak kasat mata mencoba menganggu kehidupannya lagi?


Harus berapa banyak ia memberikan Lina dan Linzi makan bangkai daging manusia?

__ADS_1


Apakah mereka tak tahu siapa Dave Matthew Cristian? Apakah mereka sudah ketinggalan jauh berita di Las Vegas mengenai siapa sebenarnya Dave?


Cih, sungguh menyebalkan, batin Dave.


__ADS_2