
Suara tembakan itu terdengar jelas di telinga Alio begitu nyaring, ia memegangi perutnya yang kini berlumur dengan darah, dilihatnya tangan itu telah menampung banyak darah, ia menatap pria arogan di hadapannya dengan sorot mata tajam, penuh kebencian di dalamnya.
“Kau belum ingin mati?” suara itu dengan jelas mengusik ketenangan Alio.
“Aku sudah tidak bisa merasakan sakit akibat senjata tajam. Apakah kau tahu itu?” sinis Alio, dengan diam, Alio mengatur waktu pada bom yang pernah dirakitnya. Tangannya berkerja dengan cepat.
“Kau lihat? Bahkan ayahmu saja tak peduli denganmu, bagaimana bisa ayahmu menyelamatkanmu? Hah?” cibir pria itu dengan meremehkan.
Alio memicingkan matanya, sorot matanya menatap tajam bagaikan seekor elang mencari mangsa, “Karena ayahku tahu, aku bukanlah seorang pengecut seperti dirimu!”
Pria itu mendengus kasar, “Pengecut?”
“Ya. Kau seorang pengecut yang takut untuk mati bukan?” Alio mencibir. Pria tampan itu tersenyum miring, meremehkan pria di hadapannya. “Bersiaplah untuk mati!”
Alio menghujam pria itu ke dinding ruangan lalu menancapkan pisau tajam dan menyayat perut pria itu dengan pisau mini yang pernah diberikan oleh Dave padanya. Setelah puas menyiksa pria itu, Alio memasangkan bom waktu di leher, lalu dengan segera mendorong pria arogan itu ke sebuah ruang gelap, pria itu berlumur darah.
“Arkghhh!”
Teriakan suara pria itu tak diacuhkan oleh Alio, ia pergi meninggalkan bangunan tua itu, membiarkan bom waktu itu meledak dengan sendirinya, membunuh pria yang sudah menjebaknya agar datang ke gudang itu.
__ADS_1
Dan sialnya, Alio percaya bahwa seorang wanita yang menjadi agen rahasia itu tidak akan melakukan hal jahat padanya. Namun kepercayaan itu lenyap begitu saja, ia membenci wanita sejak ia tahu bahwa wanita akan selalu berusaha menyakitinya, dan menjerumuskannya dalam lubang buaya.
Alio masuk ke dalam mobil yang teparkir jauh dari gedung tua itu, ia meringis memegangi perutnya, kepalanya sudah mulai pusing, sepertinya ia kekurangan banyak darah.
Darah keluar dari perutnya tanpa henti.
Alio menginjak pedal gas dengan kecepatan tinggi untuk segera sampai di tempat pertolongan utama, dirinya tak bisa bertahan lebih lama. Karena begitu banyak darah yang sudah keluar dari tubuhnya.
Pandangannya sudah mulai kabur sedikit demi sedikit, Alio menggelengkan kepalanya dengan kasar, agar pandangannya kembali normal. Rasanya hanya tinggal hitungan menit saja ia tidak akan sadarkan diri.
Kecepatan amat tinggi, membuat Alio harus menyalip banyak mobil, dan akhirnya pria tampan itu memutuskan untuk ke kediaman Dokter Ziko. Dokter pribadi keluarga Cristian.
Ia membuka paksa pagar rumah sang Dokter, lalu masuk tanpa mengetuk dahulu, entah di mana penjaga, ia tak peduli.
Pintu rumah sang Dokter tak tertutup, membuat Alio segera masuk ke dalamnya.
Sesaat pandangannya menatap sang Dokter tengah berada di sofa ruang tamu.
“Help me please, Doctor!”
__ADS_1
Alio terjatuh ke atas lantai, membuat Ziko terkejut. Ada apa dengan Tuan Muda Alio?
Mata Ziko terbelalak saat mendapati banyak darah di baju kaos putih Alio, dengan gerak cepat Ziko menghampiri Alio dan membawanya ke ruang kesehatan.
Ziko merebahkan Alio di atas ranjang pasien, ia meraih ponsel dan mencoba menghubungi Bosnya—Dave.
Apa yang terjadi dengan Alio? Batin Ziko bertanya-tanya.
Rasa cemas menyelimuti hati Ziko, takut akan kemarahan Dave saat mengetahui keadaan Alio.
Panggilan Terhubung,
“Anda di mana, Bos?” langsung bertanya tanpa basa-basi, Ziko sambil membersihkan luka di bagian perut Alio dengan sangat hati-hati.
“Aku sedang mencari keberadaan Alio. Alio tak dapat ditemukan, semua anak buah sudah kukerahkan untuk mencarinya, Ziko. Aku tak punya banyak waktu, aku akan menutup panggilan,” ujarnya dari balik telfon.
“Jangan ditutup, Bos. Kemarilah, Alio ada bersamaku.” Ziko segera menutup panggilan.
Pria itu meletakkan ponselnya, ia fokus mengobati luka Alio, ia takut apabila Alio tak tertolong, maka nyawanya akan menjadi taruhan Dave.
__ADS_1