
Seorang laki-laki tengah mengenakan jas hitamnya dengan cepat, dia menatap dirinya di depan cermin. Seperti biasanya dia keluar di malam hari untuk mencari uang.
Alio sangat mewarisi sikap sang ayah, yang tak sedikitpun memiliki belas kasih terhadap siapapun. Baik laki-laki maupun perempuan. Berbeda dari sang kakak—Alie Cristian.
Alie sangat tidak bisa menyakiti perempuan, setiap kali memandangi seorang wanita yang bersalah, terlintas di lubuk hatinya bahwa ibunya adalah seorang wanita. Dia hadir di Dunia karena wanita.
Sikap si kembar berbeda jauh.
Buah tidak jauh dari pohonnya, sikap Alie seperti Cerin-ibunya. Dan Alio mewarisi sikap Dave-ayahnya. Mereka adalah hasil dari persatuan elemen yang berbeda.
Alio menatap dirinya di depan cermin, dia memperbaiki jasnya dan kemudian melingkarkan sebuah jam mini ke tangannya, dan tak lupa untuk memakai parfum.
Setelah selesai bersiap, laki-laki itu hendak menuju ke sebuah ruang bawah tanah yang ada di belakang mansion, dia hendak melihat keadaan Bella—si gadis yang dia sekap di sana.
Alio masuk ke dalam ruang bawah tanah, dia menatap sekeliling banyak dijaga oleh penjaga keamanan yang sudah terdidik dengan baik, seluruh penjaga keamanan ruang bawah tanah adalah ahli jitu, mediang ayahnya yang mendidik mereka.
Kedua matanya menatap seorang wanita tengah berpakaian lusuh dipenuhi bekas bercak darah tengah meringkuk di depan sel tahanan. Alio memutar kedua bola matanya dengan malas.
“Apakah dia sudah makan?” tanya Alio kepada salah satu penjaga di depan sel.
“Belum, Tuan. Kami sudah memberikannya makanan, tapi dia tidak ingin makan,” jawabnya.
“Baiklah kalau begitu. Tidak usah berikan dia makanan lagi, biarkan dia mati kelaparan!” hardik Alio kesal. Laki-laki itu menarik sudut bibirnya tersenyum menyeringai. “Angkat kepalamu, J*lang!” tegasnya.
Bella mendengar ucapan laki-laki itu pun merasa ketakutan. Kini seluruh orang kepercayaannya ke mana? Mengapa tak ada satupun yang hendak menolongnya dari cengkaman iblis ini?
Mengapa disaat dia terpuruk-tertangkap oleh musuhnya, tak ada satupun yang menolongnya? Apakah semua orang kepercayaan ayah angkatnya telah melupakannya?
Sakit.
Itulah yang dia rasakan untuk saat ini. Dia dihukum atas karma masa lalu ayah angkatnya.
Alio yang kesal melihat Bella tak merespon perkataannya pun mengambil alih sebuah senjata api dari tangan sang penjaga, dan kemudian mengarahkannya tepat di atas kepala Bella.
Dorr!
Peluru itu berhasil menebus sebuah dinding yang jaraknya begitu dekat dengan kepala wanita itu, Bella yang mendengarkan bunyi nyaring di atas kepalanya pun menjadi ketakutan.
Seluruh tubuhnya bergetar hebat, tubuhnya semakin meringkuk. Wanita itu menenggelamkan wajahnya di antara dua paha, dia tak tahu harus bagaimana lagi. Rasanya sangat takut.
“Alio! Hentikan!”
Suara besar dari kejauan membuat Alio terperanjat, dia melihat siapa yang datang.
“Apa yang sedang ayah lakukan di sini?” tanya Alio dengan sorot mata tajam menatap ke arah Ziko yang kini berjalan mendekat ke arahnya.
“Berhenti melakukan tindakan b*odoh! Kau terus-terusan menyalahkan wanita yang tidak tahu persis kejadian masa lalu, apakah kau ingin menyiksa batinnya atas dosa masa lalu?” hardik Ziko kesal.
“Untuk apa diberikan belas kasih terhadapnya, Ayah? Dia adalah pembunuh!” balas Alio lagi, dia tak ingin kalah berdebat dengan ayah angkatnya.
“Kau lihat! Apakah wanita itu terlihat baik-baik saja? Kau bisa saja merusak mentalnya,” jelas Ziko. Tatapannya beralih menatap gadis di dalam tahanan.
“Rasa itu telah mati, Ayah. Urus saja! Aku akan pergi untuk menenangkan diriku.” Alio meninggalkan Ziko begitu saja.
__ADS_1
Ziko menghela nafas panjang, Alio begitu keras kepala. Dia hanya ingin putra angkatnya tidak melakukan kekerasan fisik terhadap wanita. Jangan sampai kisah yang dulu terulang kembali, Ziko tidak ingin hal itu terjadi.
“Bawa wanita itu ke ruanganku!”
***
Di Sebuah Ruangan, Ziko membiarkan wanita itu membersihkan diri terlebih dahulu agar penampilannya tidak terlihat acak-acakan seperti gembel jalanan.
Setelah melihat wanita itu keluar dari kamar mandi, Ziko memberikan isyarat agar wanita itu duduk di sofa di hadapannya. Dia ingin berbicara kepada Bella.
“Duduklah dahulu,”
Bella yang menatap pria itu pun ketakutan, tubuhnya masih bergemetaran, dia takut akan disiksa untuk kesekian kalinya. Apakah laki-laki itu akan menyakitinya juga?
“Kenapa kau hanya diam di sana?” suara itu kembali terdengar, mengusik indera pendengaran Bella.
Bella pun memberanikan diri, dia mendekat ke arah Ziko berada. Dia sedikit duduk lebih jauh dari pria itu. Dia takut akan serangan tiba-tiba yang akan melukainya.
“Ada apa?”
Ziko menarik nafas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Dia menarik sudut bibirnya, kemudian menatap wanita di hadapannya dengan sorot mata dalam.
“Apakah kau ingin tahu kebenaran sesuatu tentang Abed?” tanya Ziko mulai mengangkat suaranya, dia memecahkan suasana yang tampak begitu canggung.
Bella mengernyitkan dahinya heran, apakah laki-laki di hadapannya ini tahu segala tentang ayahnya? Ataukah hanya alibi semata?
“Apa itu?”
“Baik.”
Ziko menghela nafas panjang, dia menatap Bella dengan raut wajah serius.
“Ayahmu adalah pemimpin sebuah komunitas dunia hitam di Tokyo, bukan? Pada beberapa tahun silam, ayahmu bersama seorang hacker membobol bank pertahanan milik seorang mafia di Amerika yang tidak lain adalah Dave, ayah pria yang hendak kau bunuh.” Terangnya.
“Saat Dave tahu akan kebenaran tentang hal itu sungguh membuatnya murka dan berniat turun tangan membalaskan kejahatan ayahmu. Dave sangat tidak suka bahwa hidupnya diusik. Sebab, dia tidak pernah mengusik kehidupan orang lain,” sambung Ziko.
“Saat hendak menghabisi Abed—ayahmu, Dave malah menikam istri dari ayahmu, bidikannya salah sasaran karena pada waktu penyerangan semua listrik padam begitu saja ....”
Ziko menjelaskan dengan detail kejadian beberapa tahun silam, dia ada bersama Dave waktu itu. Kedua matanya menyaksikan sendiri bagaimana wanita itu tergeletak di atas lantai dengan bercucuran darah segar.
Setelah beberapa tahun, kehadiran Abed tidak diketahui oleh Dave. Dave mengira bahwa Abed telah ditangkap oleh pihak berwajib pada waktu itu. Namun sialnya, ternyata tidak.
“Jadi kesimpulannya?” tanya Bella, dia mengigit bibir bawahnya, mengapa dia bisa terjebak dalam masalah sesulit ini?
“Aku tahu rencanamu. Bukankah kau ingin menghabisi pria yang menyiksamu?” tukas Ziko menatap Bella dengan serius.
Bella mengangguk pelan.
“Kau benar.”
“Orang kepercayaanmu memberikanmu informasi palsu yang menyatakan bahwa Alio Cristian pergi ke sebuah pulau melalui pesawat pribadi,” terang Ziko.
__ADS_1
Deg!
Detak jantung Bella seakan ingin keluar dari tempatnya. Bagaimana dia bisa salah sasaran? Lalu, siapa yang ada di dalam pesawat itu?
“A-apa, jadi siapa yang ada di dalam pesawat itu?”
Bella tampak gelagap tak habis pikir. Orang kepercayaannya telah memberikan informasi palsu, akankah mereka hendak membuatnya hancur setelah kepergian ayah angkatnya. Dan saat dirinya telah ditemukan oleh musuhnya, ke mana perginya mereka?
Mengapa tak ada yang menolongnya?
“Keluarga Cristian, kau telah merenggut sebagian jiwanya,” tutur Ziko.
Bella mengigit jari tangannya. Kesalahannya amat fatal. Mampukah kesalahan itu dimaafkan?
“A-aku tidak sengaja,”
“Aku telah menyelidiki betul siapa dirimu, kau terlahir dari orang tua yang tak bertanggungjawab hingga kau diasuh oleh pria yang salah,” terang Ziko, pria itu hendak meninggalkan ruangan.
“Ba-bagaimana kau bisa tahu semuanya?” Bella menatap penuh harap, dia berharap pria di hadapannya dapat memberi tahunya tentang kebenaran siapa orang tua kandungnya, dan membebaskannya dari cengkraman seorang iblis.
“Dunia itu kecil seperti bola, aku bisa saja mendapatkan informasi secepat kilat, kau tak perlu meragukanku lagi soal itu. Kau telah merenggut sebagian jiwa yang dimiliki Alio Cristian, apakah luka yang kau dapatkan setara dengan luka yang kau buat karena kesalahpahaman?” Ziko mengembangkan senyumannya, dia menatap Bella dengan dalam.
“Aku akan menebus kesalahanku,”
“Dengan cara?”
“Entahlah. Tapi aku berjanji akan menebus kesalahanku, mungkin nanti aku akan meminta waktu untuk berbicara padanya. Terima kasih telah membiarkanku menghirup udara segar meski sebentar,” ucap Bella. Wanita itu menyeka air mata yang turun di kedua pipi.
“Tidak perlu berterima kasih padaku, aku hanya menjalankan peranku sebagai ayah pengganti untuknya. Tugasmu hanya fokus pada luka pada tubuhmu, nanti akan aku sampaikan padanya bahwa kau ingin bicara padanya. Sekarang kembali-lah ke tempatmu.”
Ziko bangkit dari duduknya, dia mengambil sebuah borgol di samping meja tempatnya duduk. Pria itu memasangkan borgol ke tangan wanita itu seperti tawanan.
“Bawa dia kembali ke ruang bawah tanah. Jaga keamanannya, jangan sampai dia melukai dirinya sendiri!” titah Ziko tegas pada anak buahnya yang tak lain adalah penjaga keamanan ruang bawah tanah. “Kalian mengerti?”
“Baik.”
__ADS_1