Bos Mafia Jatuh Cinta

Bos Mafia Jatuh Cinta
Berita Buruk


__ADS_3

Sesampainya di kediaman Cerin, pria itu bergegas turun dari Helikopter pribadinya. Ia masuk ke dalam rumah, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Kedua matanya terbelalak, mendapati Cerin yang tengah kondisi tidak baik-baik saja. Dave mendekat ke arah wanitanya, raut wajahnya tampak begitu khawatir.


“Hei, kau kenapa?” tanyanya panik.


“Dave, bantu aku, ah ... ini sakit, Dave,” rengek Cerin sambil memegangi perutnya.


“Kau kenapa?” dengan sangat panik Dave menatap Cerin yang kini tengah duduk di hadapannya.


Dave tak tahu harus berbuat apa, ia bertanya kepada wanita itu sama sekali tak ada jawaban, Dave memilih untuk segera membawa Cerin ke rumah sakit terdekat, untuk memberikan pertolongan kepada wanitanya.


Saat hendak menggendong Cerin, kedua bola matanya menangkap pemandangan yang tak enak dipandang, darah segar mengalir dari pahanya sampai ke betis, membuat Dave semakin panik.


“Apa yang sebenarnya terjadi padamu?” tanya Dave panik, sambil menggendong tubuh Cerin menuju Helikopter pribadinya.


Cerin terdiam, tak menjawab, sebab perutnya terasa amat kram, ia tak sanggup rasanya jika harus menahan rasa sakit lebih lama lagi, akankah sesuatu yang buruk terjadi pada bayinya? Jangan sampai hal itu terjadi, batin Cerin.


Ia begitu menyayangi calon janinnya dengan Dave, jangan sampai bayi yang ada di kandungannya kenapa-kenapa.


Helikopter melepas landas ke udara, Dave mengelus pucuk kepala Cerin dan menciuminya beberapa kali dengan lembut, ia takut jika sesuatu yang buruk terjadi.


“Tenanglah, Dave. Cerin tidak akan kenapa-kenapa, tenangkan dirimu,” ujar Leo mencoba menenangkan Dave, agar pria itu tidak larut dalam rasa cemasnya saat ini.


“Bagaimana aku bisa tenang untuk sekarang? Melihatnya kesakitan seperti ini sangat membuat jiwaku terpukul sekali, Leo.” Dave menatap wajah Cerin yang kini dalam dekapannya.


“Tenanglah, dia tidak akan kenapa-kenapa, percayalah padaku.” Leo mencoba menyakinkan Dave untuk hal itu.


***


Di sebuah rumah sakit di Amerika Serikat.


Menunggu di depan sebuah pintu sangat membuat Dave bosan. Andai, ia bisa menggunakan kekuasaannya saat ini, pasti ia telah menemani Cerin di dalam sana, tapi sangat disayangkan, Leo menahannya agar tidak berbuat di luar batas.


Ia bisa saja memecat seluruh Dokter, Suster, bahkan membuat rumah sakit ini gulung tikar saat ini juga, hanya karena para karyawan-nya melarangnya untuk ikut masuk ke dalam ruangan, menemani Cerin agar tidak sendirian.


“Harus berapa lama lagi aku menunggu, Leo?” suara dingin pria itu mengusik indera pendengaran Leo.

__ADS_1


“Bersabarlah, Dave! Kondisikan sikapmu, ini rumah sakit, bukan mansion!” tegas Leo marah, sikap Dave sangat kekanak-kanakan, membuat dirinya naik darah.


“Dalam sekejap saja, aku bisa membuat rumah sakit ini gulung tikar,” cibirnya kesal.


“Ya, ya, ya, aku tahu itu, Dave. Tapi tolong kondisikan sikapmu, kau tidak kasihan dengan wanitamu di dalam sana sedang berjuang melawan rasa sakitnya?!” bentak Leo nada tinggi, laki-laki di hadapannya sangat menyombongkan diri.


Dave melirik ke arah Leo dengan tatapan membunuh, andai tidak terjadi apa-apa dengan Cerin, mungkin ia telah menancapkan samurainya ke tubuh Leo, karena telah berani mengatakan hal seperti itu.


Ia terdiam, matanya tak henti memandangi pintu ruangan, berharap Dokter segera keluar dari dalam sana dan membawakannya berita baik untuk dirinya.


Dokter keluar dari dalam ruangan, berjalan mendekat ke arah Dave.


“Apa yang terjadi dengannya?” spontan, Dave langsung bertanya.


“Maaf—”


“Maaf? Tidak bisakah kau berbicara dengan jelas secara langsung?!” bentaknya marah, memotong pembicaraan sang Dokter.


“Argkh ... Dave! Tenangkan dirimu! Jaga sikapmu di sini!” Leo berteriak marah kepada Bosnya sendiri. Sikap pria ini sangat membuatnya naik darah.


Terduduk di atas kursi di depan ruang tunggu, kakinya terasa lemas, bibirnya terkatup, seakan tak percaya dengan kenyataan yang ia hadapi sekarang, akankah ini semua mimpi buruk baginya?


Ini semua terasa nyata, gumam Dave.


Ia menepuk pipinya beberapa kali, beharap bahwa ini hanyalah sebuah mimpi buruknya. Namun tak ada perubahan, kenyataan tetaplah kenyataan, tidak dapat dirubah.


“Di mana dia?” Dave menatap Dokter dengan tatapan tajam.


“Ada di dalam ruangan.” jawabnya.


Tanpa berbicara lebih panjang, Dave meninggalkan Leo dan Dokter itu. Pria itu bergegas masuk ke dalam ruangan, ia mendekat ke arah Cerin yang kini tengah terbaring lemah di atas ranjang pasien.


Dave mendudukan dirinya di samping ranjang Cerin, ia memegangi tangan Cerin, lalu menciuminya penuh cinta, “Maafkan aku, tidak seharusnya aku membiarkanmu pergi pada waktu itu.”


Air mata penyesalan kembali turun, saat ini pria itu merasakan kesedihan seperti hal-hal sebelumnya. Tak seharusnya ia membiarkan Cerin pergi jauh dari sisinya. Kenapa wanita ini bisa mengalami keguguran?


Kenapa Lee tidak memberitahunya jika wanitanya terluka?

__ADS_1


Kemana perginya Lee? Sampai-sampai wanitanya terluka tiada kabar.


Dave mengutuki dirinya lagi dan lagi.


Untuk kedua kalinya ia harus kehilangan sang buah hati.


“Maafkan aku lalai dalam menjagamu.” Dave menutupi tubuh Cerin dengan selimut yang ada di tepi ranjang.


Kini kebenaran telah terkuak, kesalahannya pada Cerin harus ia tebus dengan cara menikahi dan bertanggung jawab penuh untuk Cerin.


Pertemuan tak disengaja dalam sebuah insiden tak terduga, membuahkan hasil manis pertemuannya dengan seorang wanita berparas cantik menjadi pengisi hatinya, setelah kepergian Anha.


Sudah banyak wanita naik-turun ranjangnya, sedikitpun tak ada yang berhasil memikat hatinya.


Hanya Cerin yang pandai memikat hatinya setelah Anha.


Dua jam kemudian.


Cerin siuman, setelah diberikan obat tidur oleh tim medis tadinya, Dave selalu menunggunya tanpa tidur.


“Ini di mana, Dave?” tanya Cerin menatap sekitar, merasa aneh.


“Ini di rumah sakit, Sayang.” Dave menjawab, pria itu menciumi kening Cerin penuh cinta. “Jelaskan padaku, apa yang terjadi padamu, kenapa kau bisa terbentur? Kapan itu terjadi?”


Cerin mengerutkan dahinya heran, mengingat kembali kejadian sebelumnya pada Dave.


“Dave, apakah anak kita selamat?” tanya Cerin sedikit khawatir, ia menatap penuh tanda tanya.


Dave terdiam, bibirnya seakan tak mampu untuk bicara pada Cerin, hal apa yang harus ia katakan pada wanita di hadapannya?


“Jawab aku, Dave!” bentak Cerin marah, matanya berkaca-kaca.


“Anak kita sudah tak bisa diselamatkan lagi.” dengan pelan, pria itu berucap meskipun itu berat.


Mendengar perkataan Dave membuat hati Cerin seakan retak, hancur berkeping-keping, ia terdiam sesaat, rasa terkejutnya tak mampu membohongi siapapun, air mata terjatuh dengan sendiri dari sudut matanya.


“Ini tidak mungkin, Dave. Kau berbohong padaku, ‘kan?” Cerin menangis terisak. Mencoba menolak kenyataan.

__ADS_1


__ADS_2