Bos Mafia Jatuh Cinta

Bos Mafia Jatuh Cinta
Persaingan Sih Kembar


__ADS_3

Hari demi hari berlalu, persaingan baby twins semakin tak dapat dihindari. Keduanya bersikap tolak belakang, Alio sih kecil, tak suka dengan sikap Alie yang begitu egois ingin menguasai semua hal.


Kasih sayang, perhatian Dave untuk Alio selalu ingin Alie rebut. Entah karena apa, Alie sangat tidak suka terhadap Alio.


Cerin selalu memantau gerak-gerik si kembar, agar tak terjadi sesuatu yang tak diinginkan terjadi. Cerin takut, apabila Alie akan melukai Alio, si putra bungsunya.


Kini Cerin tengah asik menghirup udara segar di pagi hari menggunakan pakaian santainya, wanita itu duduk di sebuah bangku di taman belakang halaman mansion.


Ia menatap ke arah langit bewarna biru itu menenangkan hatinya. 


“Kami datang.”


Suara itu mengagetkan Cerin, wanita itu terpanjat dari duduknya. Ia menatap ke arah seorang pria dengan menggandeng tangan kedua putra kembarnya yang kini sudah beranjak dewasa.


Hari-hari berlalu dengan cepat, membuat Cerin tak tega untuk melepaskan baby twins untuk melanjutkan pendidikan mereka ke Negara yang diinginkan oleh putra kembarnya.


Seorang bayi yang dahulu selalu merengek meminta air susu, kini sudah tumbuh menjadi anak yang pintar. Rasanya waktu begitu cepat berlalu, hingga membiarkannya berpisah dengan putra kembarnya.

__ADS_1


“Kalian dari mana saja?” Cerin menatap mereka dengan penuh pertanyaan.


Ketiga pria itu mendekat ke arah Cerin, dan duduk di bangku taman.


“Apakah Momy tidak tahu kalau kami ke markas?” tanya Alio dengan senyuman lebar di wajahnya.


“Dave, kau membawa mereka ke markas lagi?” selidik Cerin dengan sorot mata tajam. Membuat Dave mengangkat alisnya.


“Tentu, Sayang. Aku ingin putraku mengenal hal itu, bukankah mereka sudah dewasa?” Dave tersenyum lebar, ia menatap Cerin dengan dalam.


“Mereka memang dewasa, Dave. Tapi mereka tetaplah anak kecil bagiku.” balas Cerin menatap kedua wajah anak kembar mereka. “Kemarilah, Sayang! Peluk Momy!”


Pria itu dengan segera menarik Cerin masuk ke dalam pelukannya. Ia tak boleh membiarkan putranya memeluk Cerin, hanya dirinya yang boleh memeluk wanita itu.


“Ada apa denganmu, Ayah? Apakah kau sakit?” Alie mengangkat alisnya menatap Dave dengan sorot mata tajam.


“Ayah, lepaskan Momy! Momy akan kami bawa ke dalam mansion untuk menyuapkan kami makan!” bantah Alio menarik lengan Dave agar melepaskan sang ibu.

__ADS_1


Dave terkekeh melihat seorang anak lelaki berusia tujuh tahun itu memintanya agar melepaskan Cerin yang kini bergelayut manja di dalam pelukan Dave.


“Kembarnya Momy, kemari, Nak!” Cerin melepaskan pelukannya dengan Dave.


Wanita itu menumpuh kedua kakinya di hadapan si kembar, lalu membuka kedua tangannya lebar, mengisyaratkan agar si kembar masuk ke dalam pelukannya.


Alie dengan segera memeluk Cerin dengan erat, tak menyisahkan ruang agar Alio dapat memeluk sang ibunda, lelaki kecil satu itu begitu egois. Ingin menguasai segala hal, ia tak ingin berbagi dengan siapapun.


Alio menatap Alie dengan raut wajah masam, ia benci dengan sikap Alie yang selalu berusaha merebut segala yang ingin Alio milikki. 


Sudah banyak ia mengalah demi Alie, karena memandang orang tuanya, jika tak ada orang tuanya, mungkin Alio tak akan segan-segan memberikan pelajaran kepada Alie.


“Alio … Sayang, kamu ngapain di sana?” Cerin menatap Alio yang hanya berdiam diri di tempat dengan raut wajah masam.


“Alio lapar … Alio ingin makan!” titahnya berpura-pura tidak terjadi apa-apa.


“Sini, Nak. Sama Ayah. Ayah akan menyuapi kamu makan!” seru Dave segera menggendong Alio.

__ADS_1


Meskipun kedua putranya sudah beranjak dewasa, bagi Cerin dan Dave, si kembar tetaplah seorang anak kecil.


__ADS_2