
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan lupa untuk selalu kasih like, komentar, dan bintang 5. Semoga hari ini kalian diberikan kesehatan dan rezekinya lancar.
***
Bab 10
Irwansyah pun bertanya persoalan antara Tante Rose dengan Azizah. Tentu saja hal ini membuat istri keduanya sangat terkejut.
"Ya Allah, aku sungguh tidak bicara seperti itu, Bang. Ada mama yang jadi saksinya. Aku sudah tawarkan sama tante Rose mau makan apa, nanti aku yang masakan. Tapi, tante Rose malah memarahin aku. Aku tidak tahu kalau tante Rose itu tidak suka ikan," ucap Azizah membela dirinya.
"Kedepannya kamu harus hati-hati jika berurusan dengan Tante Rose. Dia itu paling tidak suka jika terusik harga dirinya," ujar Irwansyah, lalu beranjak dari sofa yang ada di kamar istri keduanya itu.
Azizah memeluk tubuh Irwansyah dari belakang saat suaminya hendak membuka pintu. Dia tidak mau kalau Irwansyah marah padanya.
"Abang, maafkan aku. Aku mohon jangan marah padaku," kata Azizah dengan lirih.
"Abang tidak marah pada kamu, Iza. Aku tidak suka kalau ada permasalahan di rumah ini sesama para penghuninya," tukas Irwansyah sambil membalikan badannya.
"Kedepannya aku akan lebih hati-hati. Abang harus percaya padaku," lirih Azizah sarat akan rasa takut kalau Irwansyah tidak akan mempercayai dirinya.
"Iza, dengarkan abang. Pertama, abang tidak marah sama sekali. Kedua, abang percaya kamu bukan orang yang suka merendahkan atau menghina orang lain. Dan yang ketiga, abang tidak mau melihat kamu kesulitan karena tante Rose. Abang minta kamu harus bersabar menghadapinya," jelas Irwansyah sambil membalas pelukan Azizah.
***
Malam ini Irwansyah tidur bersama Rela. Mereka juga membicarakan masalah tadi siang. Mereka juga tidak bisa menyalahkan Azizah karena menurut mereka tante Rose yang meminta makanan yang tidak bisa dimasakkan sebab bahannya tidak ada.
Hampir setiap hari ada saja yang jadi permasalahan di rumah. Tante Rose itu seakan mencari kesalahan Azizah agar ditegur oleh Mama Fatonah atau Rela.
"Azizah, kamu tahu kalau aku ini alergi kacang. Kenapa masak sesuatu yang memakai kacang!" bentak Tante Rose saat makan siang.
Kebetulan tidak ada siapa-siapa di rumah. Mama Fatonah sedang mendatangi rumah Bu RT karena ada acara pengajian bulanan ibu-ibu sosialita. Azizah membuat gado-gado, sate ayam, dan goreng tempe untuk menu makan siang atas permintaan Ukasyah.
"Maaf Tante, aku tidak tahu sama sekali. Seharusnya Tante Rose tahu kalau gado-gado itu memakai bumbu kacang," ucap Azizah membela dirinya.
__ADS_1
"Alah, omong kosong! Aduh … napas aku sesak," kata Tante Rose yang kini memegang dadanya.
"Tante …! Tante Rose, kenapa?" Azizah sangat panik dan langsung menghubungi ambulans.
Begitu juga dengan Ukasyah dan Oliv yang baru memakan sosis. Keduanya ikut panik saat melihat Tante Rose tiba-tiba jatuh tersungkur di meja makan.
"Oma …! Oma Rose!" panggil Ukasyah sambil mengguncangkan tubuh wanita itu.
***
Irwansyah mendatangi rumah sakit setelah Azizah menelepon tadi. Dia juga panik karena tantenya itu memang punya riwayat alergi kacang.
"Abang, bagaimana ini? Aku tidak tahu kalau Tante Rose punya alergi kacang. Pantas saja saat aku menawarkan cobek ikan dulu dia marah. Tadi dia tidak tanya dulu padaku kalau gado-gado itu menggunakan sambal kacang," ucap Azizah dengan berlinang air mata. Terlihat tatapan matanya yang ketakutan.
"Tenang, dia sudah mendapatkan pengobatan dari dokter," balas Irwansyah mencoba menenangkan istri keduanya. Dia memeluk tubuh yang kini menangis tergugu.
"Bagaimana ceritanya sampai Rose makan gado-gado buatan kamu?" tanya Mama Fatonah yang menyusul ke rumah sakit setelah tahu kalau mobil ambulans yang tadi datang ke komplek perumahan itu ternyata membawa sepupunya.
"Saya tidak tahu kalau kalau tante punya alergi kacang. Ukasyah dan Oliv ingin makan gado-gado seperti yang aku buat kemarin. Namun, saat melihat ada daging ayam, saya teringat kalau Abang minta dibuatkan sate," jelas Azizah dengan suara yang pelan.
***
"Kenapa Tante Rose bicara seperti itu? Aku tidak ada niatan untuk mencelakai sama kali," ujar Azizah.
"Alah, kamu itu menyangkal. Sudah jelas-jelas aku ini alergi kacang ini malah menyajikan makanan yang mengandung kacang. Sudah pasti kamu ingin membuat aku mati," sindir wanita yang kini terlihat pucat wajahnya.
"Demi Allah, aku tidak tahu Tante punya riwayat alergi kacang. Dan aku tidak pernah punya pikiran untuk mencelakai orang lain. Apalagi membunuh," ucap Azizah dengan dengan tegas.
"Lihat saja, aku tidak akan tinggal diam. Kamu akan mendapatkan ganjaran yang pantas," kata Tante Rose dengan sarkas.
***
Kondisi Tante Rose semakin membaik dari hari ke hari. Selama seminggu dia dirawat dan tentunya minta di kelas VVIP bahkan tidak mau di kelas VIP. Irwansyah mengikuti keinginan tantenya itu sebagai bentuk rasa tanggung jawab dia sebagai suami dari Azizah yang sudah membuatnya sakit.
__ADS_1
"Tante ingin kamu minta saran pada dokter gizi. Makanan apa saja yang boleh tante makan dalam masa penyembuhan," ucap Tante Rose pada Irwansyah sebelum mereka pulang ke rumah.
"Baik, Tante. Akan saya tanyakan," pungkas Irwansyah.
Terlihat Azizah masih menundukkan kepala. Dia tidak berani menatap Tante Rose. Setiap bertatapan dengannya dia pasti memanggilnya dengan pembunuh. Jujur saja hati Azizah terasa sakit di panggil seperti ini. Namun, dia tidak memberi tahu siapapun, termasuk kepada Irwansyah.
***
Keesokan harinya saat Azizah mengajar di PAUD tempatnya mengabdi. Dia kedatangan tamu, yaitu dua orang polisi. Dia agak kaget karena merasa tidak pernah melanggar hukum.
"Apa benar Anda yang bernama Ibu Azizah?" tanya salah seorang polisi.
"Iya, benar. Saya sendiri, Azizah. Ada apa, ya, Pak?" tanya Azizah tidak mengerti.
Kedatangan kedua polisi ke sekolah PAUD itu mengundang rasa penasaran orang tua murid yang sedang menunggui anak-anaknya. Mereka pun mencuri dengar dan mengintip di jendela ruang guru.
"Anda akan kami tahan atas laporan percobaan pembunuhan terhadap Nyonya Rose, hasil medis dari rumah sakit sebagai buktinya," jawab polisi tadi.
"Apa? Ini pasti ada kesalahan, Pak. Aku tidak pernah melakukan hal itu," bantah Azizah dengan wajah tegangnya.
"Itu bisa Anda melakukan pembelaan nanti," kata polisi satunya lagi.
Orang-orang yang ada di sana menyaksikan Azizah ditangkap oleh polisi. Bahkan saat Azizah meminta izin untuk menelepon suaminya tidak diberikan izin. Katanya hal itu bisa dilakukan nanti saat di kantor polisi.
"Bu Iza! Bu Iza!" panggil beberapa anak kecil berseragam hijau dan putih.
Hati Azizah terluka saat beberapa anak didiknya berlari memanggilnya saat digiring oleh polisi. Apalagi saat mobil mereka menjauh, masih ada beberapa anak laki-laki yang memanggil dirinya sambil menangis.
***
Bagaimana nasib Azizah? Apakah dia akan dipenjara atau bebas? Tunggu kelanjutannya, ya!
Sambil menunggu up bab berikutnya, Yuk baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan menarik, loh. Cus meluncur ke karyanya.
__ADS_1