
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu kasih like, komentar, dan bintang 5. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 47
Malam hari saat Rela tertidur Irwansyah duduk di sampingnya dia tiada hentinya mendoakan agar keinginan Rela untuk pergi sementara waktu itu, bisa diubah. Dia takut kalau ini adalah awal kehancuran rumah tangganya dengan Rela. Dia sungguh tidak mau kalau hal itu sampai terjadi.
Dia mengingat kembali perjalanan mereka sejak pertama kali bertemu sampai dia mengutarakan izin meminta poligami. Ternyata begitu berat dalam menjaga perasaan orang-orang di sekelilingnya. Bukan hanya di antara kedua istrinya saja, tetapi dari orang-orang di antara mereka bertiga juga.
Awal dia menjalani poligami ini niatnya murni untuk beribadah. Dia ingin menyempurnakan agamanya Azizah dengan menikah dengannya. Sejujurnya dia sudah merasa cukup dengan punya Rela sebagai istrinya.
Irwansyah memegang tangan Rela yang suatu hari nanti pasti akan dia rindukan. Lalu, dia menciumi jemari Rela dengan lembut.
"Maafkan aku," lirih Irwansyah.
Rela yang sedang pura-pura tidur mendengar ucapan suaminya. Dalam hatinya dia ingin memeluk laki-laki yang sudah menemani dirinya selama dua dekade dalam hidupnya. Laki-laki yang selalu membawa dia pada rasa dan warna baru dalam hidupnya. Laki-laki yang menjadi cinta pertama selain papanya.
Rela merasakan keningnya di cium oleh Irwansyah. Dia senang saat mendapatkan perlakuan lembut seperti ini dari Irwansyah sejak dulu.
"Di mana pun dirimu nanti, semoga kamu selalu bahagia dan sehat. Kamu ini sering sekali jatuh sakit jika aku tidak ada di sampingmu," ucap Irwansyah dengan lirih.
"Aku akan menunggu kamu di sini bersama anak-anak. Pastikan kalau kamu tidak bisa jauh dari diriku, sebagaimana aku yang tidak akan mampu jauh dari dirimu. Hanya anak-anak yang bisa membuat aku kuat saat kamu tidak ada bersama aku nanti," lanjut Irwansyah sambil membelai pipi Rela.
"Nak, kamu harus baik-baik saja, ya. Jangan buat Bunda kesusahan. Keluarlah dengan mudah nanti. Ayah selalu menantikan kehadiran kamu, di dunia ini," kata Irwansyah sambil mengusap-usap perut buncit Rela. Bayi di dalam perutnya bergerak-gerak dengan jelas dan itu membuat Rela agak ngilu.
Irwansyah pun menciumi perut Rela, seakan mencium anaknya itu agar tenang kembali. Terbukti setelah mendapat tiga kali ciuman dari ayahnya, bayi itu berhenti bergerak.
__ADS_1
***
Pagi harinya, Rela sudah bersiap-siap hendak di bawa oleh Satria. Kakak kembarannya itu bilang kalau Rela akan di bawa ke Singapura. Namun, Rela tidak ingin pergi meninggalkan Indonesia.
"Bang, aku berangkat dulu," kata Rela sambil mencium tangan suaminya dengan tadzim.
Irwansyah pun mencium pucuk kepala Rela dan mendoakan kebaikan untuk dirinya dan bayi mereka. Saat keduanya saling menatap, Irwansyah tidak bisa menahan diri untuk mencium bibir pucat milik Rela. Dia mencium bibir itu dengan lembut dan penuh perasaan. Meski dia sedikit kecewa karena Rela tidak membalas ciumannya.
"Kalau ada apa-apa, hubungi aku secepatnya," kata Irwansyah dan Rela hanya mengangguk.
"Titip anak-anak," balas Rela sebelum dirinya dibawa pergi oleh Satria.
Irwansyah mengantar kepergian Rela dengan mata yang berkaca-kaca. Dia berharap keputusan ini tidak membuatnya jatuh pada kehancuran keluarganya.
***
Rela hanya tersenyum tipis menanggapi pertanyaan Satria. Dia tidak mau membuat semua orang bersedih.
"Penyakit aku ini masih bisa diobati," balas Rela.
"Kamu ini ada-ada saja. Jadinya, kita harus main drama begini, 'kan?" Satria mencubit pipinya.
"Terus Kakak kapan akan memperkenalkan calon istri kepadaku?" tanya Rela mengalihkan pembicaraan kembarnya.
"Dua kali mengalami kegagalan saat akan menikah, membuat aku agak trauma juga," balas Satria.
Rela pun tertawa mengingat kembali kisah cinta kembarannya itu. Dua kali melakukan lamaran dua kali juga dia gagal menikah.
__ADS_1
"Itu, kakak kualat karena dulu mentertawakan aku yang ingin menikah muda," ucap Rela.
"Waktu itu usia kamu baru sembilan belas tahun. Mana masih kuliah lagi, apa kalian nggak mikir, bagaimana kalau langsung punya anak." Satria adalah tukang kompor penentang hubungan Rela dan Irwansyah. Sebab, menurutnya Irwansyah itu sudah mencuri Rela dari dia dan papanya.
Irwansyah dan Mama Fatonah pulang ke rumah setelah kepergian Rela. Dia merasa kalau rumah itu beda rasanya atau auranya. Seakan meredup kehangatan sebuah rumah itu dan terasa sepi (aku sering merasa kalau rumah tanpa adanya ibu, jika sedang pergi ke luar kota, selalu terasa berbeda. Sepi dan nggak suram).
Irwansyah masuk ke kamarnya yang dia tempati bersama Rela. Dia tidur di tempat biasa Rela berbaring. Wangi tubuhnya masih bisa dia cium. Mata Irwansyah tanpa sengaja melihat ke sebuah kalender. Ada tanggal yang dilingkari oleh bolpoin warna merah. Lalu, dia pun beranjak untuk melihat kenapa tanggal itu diberi tanda. Di sana ditulis '1th pernikahan Bang Irwan dan Azizah'.
Hati Irwansyah terasa tertusuk oleh ratusan sembilu. Dia tidak menyangka kalau hari ini tepat satu tahun mereka hidup berpoligami.
"Kenapa kamu melakukan ini, Sayang?" gumam Irwansyah dan menarik napasnya dengan kuat seakan oksigen dalam paru-paru dia sudah habis.
Sepulang dari sekolah, Azizah mengajak Irwansyah berbicara berdua di kamarnya. Pasangan suami istri itu saling menatap dalam diam.
"Bang, jika keberadaan aku malah membuat hubungan Abang dengan mbak Rela meregang, aku lebih baik memiliki melepaskan diri. Aku tidak ingin kalau anak-anak sampai kehilangan kasih sayang dan perhatian dari Bundanya," kata Azizah dengan suaranya yang bergetar.
"Apa kamu tahu kalau seorang wanita meminta cerai pada suaminya tanpa alasan yang dibenarkan oleh agama (sebab kesalahan) itu tidak akan pernah mencium wangi (diharamkan baginya) bau surga." Irwansyah menatap tidak suka dengan pemikiran istri keduanya itu.
Azizah diam, sebenarnya dia juga tidak mau berpisah dengan laki-laki yang dicintainya ini. Namun, dia juga tidak mau menjadi onak dalam kehidupan keluarga yang tadinya bahagia. Dulu, dia bersedia menerima kehidupan berpoligami ini yakin kalau mereka sama-sama bisa mencari ridho-Nya dan kebahagiaan bisa mereka gapai bersama.
"Tapi, Bang. Aku begitu tertekan dalam situasi saat ini. Aku merasa kalau semua ini karena gara-gara aku," kata Azizah dan tangisan dia pun pecah akhirnya.
Irwansyah merasa kalau saat ini bukan hanya dirinya dan Rela yang sedang merasakan sakit hati. Akan tetapi hal yang sama dirasakan juga oleh Azizah.
***
Apakah Irwansyah bisa mempertahankan keutuhan rumah tangganya? Atau dia akan melepaskan salah satunya? Tunggu kelanjutannya, ya!
__ADS_1