
Teman-teman baca sampai selesai ya. Jangan lupa untuk selalu kasih like, komentar, dan bintang 5. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 13
Seharian ini Irwansyah menemani Rela. Istri pertamanya ini tidak suka minum obat. Jadi, selalu sulit diajak ke dokter, kecuali jika sakitnya sudah benar-benar parah. Irwansyah pun hanya mengompres untuk menurunkan panas dan memberinya minum air putih yang banyak. Padahal obat Paracetamol pemberian Azizah sudah disiapkan bersama bubur tadi.
"Sayang, jika sore hari panas kamu belum juga turun, harus mau diperiksa sama dokter, ya!" titah Irwansyah pada Rela.
"Hm." Rela pun mengangguk.
Terdengar suara ketukan di pintu kamar Rela. Kemudian, terdengar suara Azizah minta izin untuk masuk.
"Bagaimana keadaan Mbak Rela sekarang, Bang?" tanya Azizah setelah disuruh masuk oleh Irwansyah.
"Masih panas. Tapi, sekarang sudah tidak muntah-muntah lagi," jawab Irwansyah yang duduk di dekat Rela.
"Mbak Rela, kita ke dokter saja sekarang, ya?" Azizah mengusap tangan kakak madunya.
"Aku tidak suka pergi ke dokter," lirih Rela.
"Rela itu sejak dulu tidak suka pergi ke dokter meski sedang sakit. Kalah sama Ukasyah dan Oliv, mereka berani kalau diperiksa oleh dokter. Kecuali, saat dia hamil baru mau pergi ke bidan," ucap Irwansyah dengan tawa kecilnya.
"Bang," panggil Rela dengan perasaan malu.
"Eh." Irwansyah menatap ke arah Rela. Begitu juga sebaliknya, Rela menatap ke arah suaminya.
"Sayang, apa dugaan aku ini sama dengan apa yang sedang kamu pikirkan saat ini?" tanya Irwansyah dengan menahan rasa senyuman bahagianya.
"Mungkin saja, Bang. Sepertinya sudah tiga bulan lebih," kata Rela dengan perasaan haru.
Azizah yang tidak mengerti apa-apa pun menjadi bingung saat mendengar ucapan Irwansyah dengan Rela. Namun, terlihat sekali pancaran sorot mata dari keduanya terlihat bahagia.
__ADS_1
"Apa masih ada stok?" tanya Irwansyah sambil membelai rambut Rela.
"Sudah habis, Bang," jawab Rela
"Kalau begitu, Abang ke apotek dulu," ujar Irwansyah dan Rela pun mengangguk.
"Iza, abang titip Rela, ya?" pinta Irwansyah.
"Iya, Bang. Aku akan menemani Mbak Rela," ucap Azizah seraya mengangguk.
***
Tidak sampai 15 menit Irwansyah pergi ke apotek. Dia membawa martabak manis dan asin kesukaan kedua istrinya itu. Rela bahkan menghabiskan tiga potong martabak manis. Tentu saja ini membuat Irwansyah senang.
"Sayang, sini abang bantu kamu," kata Irwansyah dan membopong tubuh Rela dengan kehati-hatian.
Mereka di dalam kamar mandi sekitar 13 menit. Sementara itu, Azizah menunggu mereka di depan pintu kamar mandi.
Begitu pintu kamar mandi terbuka, Azizah langsung mendekat ke arah Irwansyah dan Rela. Rasa penasarannya terlihat jelas di raut wajahnya.
"Po-si-tif," jawab Irwansyah senang.
"Alhamdulillah, semoga saja ini beneran," kata Azizah sangat senang.
***
Sore harinya Irwansyah membawa Rela ke bidan yang ada di dekat rumahnya. Hasil pemeriksaan itu, kini Rela sedang hamil anak ketiga. Usia kandungannya juga sudah menginjak 12 Minggu.
"Bagaimana bisa, Bunda tidak tahu kalau sedang hamil?" tanya Bidan Halimah, perempuan paruh baya yang sudah dari dulu selalu menangani para ibu hamil di komplek perumahan mereka.
"Setelah melahirkan anak kedua, sirkulasi menstruasi tidak setiap bulan. Saya juga sudah lepas KB dari dua tahun lalu," jawab Rela.
"Apa saat kehamilan anak pertama dan kedua juga selalu seperti ini keadaan kesehatan Bunda?" tanya bidan itu sambil menulis beberapa resep.
__ADS_1
"Iya, apalagi kehamilan pertama. Aku sampai harus istirahat total oleh dokter. Sulit beraktivitas dan susah makan. Sampai-sampai Abang menyewa perawat untuk menjaga dan memantau keadaan saya dan bayi yang ada di dalam kandungan," jawab Rela.
"Sepertinya untuk kehamilan sekarang pun, Bunda harus istirahat total juga. Jangan terlalu lelah dan banyak pikiran. Hindari stress dan bekerja berat," ujar bidan sambil memberikan resep kepada Irwansyah.
Pasangan suami istri itu pun pulang setelah menebus obat. Jarak rumah bidan dan rumah Irwansyah hanya terpaut lima rumah, tetapi Irwansyah tadi membawa Rela pakai mobil. Itu karena dia takut kalau bidan menyuruhnya membawa Rela ke rumah sakit. Untunglah apa yang dia takutkan tadi tidak terbukti.
***
Saat mereka sampai ke rumah, orang-orang sedang menunggu di teras depan rumah. Mama Fatonah, Azizah, dan kedua anak mereka sedang menunggu dengan harap-harap cemas.
"Irwan, bagaimana?" tanya Mama Fatonah pada putranya begitu turun dari mobil.
"Alhamdulillah, semua baik. Meski Rela harus banyak beristirahat, Ma," jawab Irwansyah.
"Syukurlah," balas Mama Fatonah.
"Kata bidan, usia kandungannya berapa bulan, Bang?" tanya Azizah yang ikut memapah Rela saat masuk ke dalam rumah.
"Sudah tiga bulan," jawab Irwansyah dengan senyum lebarnya.
"Alhamdulillah," ucap Azizah senang.
"Asik! Aku akan punya bayi!" seru Oliv sambil jingkrak-jingkrak.
"Salah, adik. Seharusnya, kita akan punya adik bayi," ujar Ukasyah meralat ucapan adiknya.
"Apa bedanya. Menurut aku sama saja," ucap Oliv bersikukuh.
Tante Rose yang sejak tadi duduk sambil nonton televisi pun diam-diam mendengarkan pembicaraan mereka. Dalam hatinya, dia merasa kesal karena semua orang sibuk memperhatikan Rela dan melupakan dirinya yang juga masih dalam proses penyembuhan. Namun, orang-orang di rumah itu tidak peduli padanya.
***
Akankah kehamilan Rela kali ini akan baik-baik saja atau sebaliknya? Kenapa Tante Rose tidak suka terhadap keluarga Irwansyah? Tunggu kelanjutannya, ya!
__ADS_1
Sambil menunggu up bab berikutnya, yuk baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh.