
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan lupa untuk selalu kasih like, komentar, dan bintang 5. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 19
"Mau ke mana, kamu?" tanya Mama Fatonah pada Irwansyah, ketika dia menginjakan kakinya di teras depan rumah.
"Mama, bagaimana keadaan Rela?" tanya Irwansyah dengan nada panik.
"Untuk apa kamu menanyakan keadaannya? Urus saja istri muda kamu itu," balas Mama Fatonah dengan sindiran dan membuat Irwansyah maupun Azizah tersentil hatinya.
"Kenapa Mama bicara begitu? Baik Rela maupun Azizah adalah istri aku, Ma. Dan mereka berada dalam tanggung jawab aku," ucap Irwansyah tidak suka akan sindiran ibunya barusan.
"Tanggung jawab apanya? Kalau kamu merasa tanggung jawab pada Rela, seharusnya kamu jangan pergi lama-lama meninggalkan dirinya. Sudah tahu kondisi Rela sedang tidak sehat, kamu malah keluyuran lama di luar rumah," tukas wanita tua itu dengan penuh emosi.
Azizah merasa tidak enak hati karena mertuanya menyalahkan dirinya atas apa yang sudah menimpa menantu tertuanya itu. Padahal selama ini dirinya sudah banyak mengalah pada kakak madunya. Namun, hari ini saat dia ingin merayakan kebahagiaan bersama keluarganya, dituduh sudah memonopoli suaminya, sehingga menelantarkan istri pertama yang sedang sakit karena sedang hamil.
Melihat wajah gugup dan ketakutan dari Azizah, membuat Irwansyah kasihan. Dia tahu mamanya itu secara tidak langsung sudah menyudutkan istri keduanya.
"Aku tadi mendatangi rumah orang tua Azizah yang sudah lama tidak kami temui. Aku tidak menyangka kalau akan ada kejadian seperti ini," aku Irwansyah pada ibunya.
Pembicaraan mereka terhenti karena terdengar suara adzan Magrib. Irwansyah dan Azizah mengundurkan waktu berangkat ke rumah sakit setelah sholat Maghrib.
***
__ADS_1
Tidak menyia-nyiakan waktunya, Irwansyah dan Azizah pun pergi ke rumah sakit sedangkan Oliv dan Ukasyah menunggu rumah bersama Mama Fatonah. Keduanya sampai setelah kumandang adzan Isya selesai karena jalanan sangat macet akibat ada mobil truk yang mogok akibat ban bitu di tengah jalan.
Saat mereka masuk ke kamar ruang inap. Terlihat kalau Rela sedang sholat Isya dan di depannya ada Santi sedang jadi imam sholat. Azizah pun bergegas ke kamar mandi ambil air wudhu dan ikut berjamaah sedangkan Irwansyah pergi ke masjid yang ada di depan rumah sakit.
Setelah selesai sholat, Rela tersenyum pada Azizah. Sementara Azizah sendiri, menangis dan meminta maaf karena pergi terlalu lama.
"Ini semua sudah menjadi takdir," kata Rela mencoba menenangkan Azizah.
"Takdir … gundulmu!" lirih Santi hampir tidak terdengar oleh keduanya, dengan nada kesal.
"Bu, ini takdir yang bisa diubah," jelas Santi ceplas-ceplos karena moodnya jadi buruk setelah melihat Azizah.
"Benar seandainya saja, tadi kami pulang sebelum makan siang. Mungkin saja ini bisa dicegah," ucap Azizah dengan tergugu.
"Tapi, sekarang, 'kan, sudah terjadi." Rela membalas ucapan Santi.
Rela menghela napas dan tersenyum kecut pada anak buahnya itu. Dia sering dibuat tidak berkutik jika mood gadis itu sedang tidak baik.
"Salah aku juga, kenapa lupa sama kamu, ya, tadi. Coba pas Bang Irwan dan Azizah pergi, aku minta kamu untuk menjaga aku. Mungkin hal ini bisa juga di cegah," balas Rela. Entah kenapa bicara dengan gadis bertubuh mungil itu membuat beban di hati dan pikirannya terasa ringan.
"Aduh, Bu. Aku ini bekerja di butik untuk melayani pembeli. Bukan pengasuh ibu-ibu," balas Santi dengan nada banyolnya dan membuat Rela tertawa kecil.
Azizah merasa bersalah dan dia tidak berani banyak bicara pada kakak madunya. Dia tentunya merasa tidak enak hati dan malu juga pada Rela.
Tidak lama kemudian Irwansyah masuk ke dalam ruangan itu. Dia langsung memeluk dan mencium kening Rela sambil meminta maaf.
__ADS_1
"Sudah, Bang. Ini bukan salah Abang. Ini sudah suratan takdir yang harus aku jalani saat ini," ucap Rela.
"Ish, lagi-lagi takdir. Seolah takdir ini salah. Padahal si takdir tidak punya salah," gumam Santi sambil berjalan ke arah sofa.
Rela yang masih bisa mendengar gerutuan Santi, menahan tawanya. Jujur saja saat ini dia masih merasa kecewa pada suaminya karena baru datang malam hari.
"Bos, aku tidur duluan, ya! Harus cepat istirahat biar besok tubuh bugar kembali," kata Santi yang tidur di sofa dengan bantal dan selimut yang dibawa sendiri dari rumah.
"San, kamu mau tidur di sini?" tanya Irwansyah dengan pandangan mengarah pada gadis yang sedang memegang tasbih dengan mulut yang sibuk berkomat-kamit melantunkan dzikir.
Santi yang tidak suka waktunya terganggu hanya mengacungkan jempol. Tidak membalas tatapan suami bosnya itu.
"Aku yang minta padanya untuk menemani aku di sini. Abang bisa pulang dan beristirahat di rumah," kata Rela dan membaringkan tubuhnya.
Rela memejamkan matanya tidak mau melihat jejak merah leher suaminya. Dia yakin kalau itu jejak yang ditinggalkan oleh Azizah saat mereka bercinta. Padahal dirinya tidak pernah meninggalkan jejak-jejak cintanya pada tubuh Irwansyah setelah mereka hidup berpoligami. Dia ingin menjaga perasaan istri lain suaminya. Namun, ternyata hal itu tidak dipikirkan oleh Azizah. Dirinya dulu pernah bilang pada Irwansyah kalau dia tidak suka saat melihat ada tanda-tanda merah pada tubuh suaminya. Hal ini malah membuatnya tidak suka saat disentuh olehnya.
"Tidak. Abang juga akan ikut tidur di sini menunggu kamu," ucap Irwansyah.
Meski sudah bilang seperti itu, Irwansyah dan Azizah bingung mau tidur di mana. Tidak ada kasur atau pun sofa lainnya. Tidak mungkin bagi mereka tidur di lantai tanpa alas sama sekali. Nanti yang ada gantian mereka yang sakit.
"Sudah aku bilang, Abang pulang saja," ujar Rela melirik ke arah suaminya.
***
Apakah Irwansyah akan pulang atau tetap di sana? Tunggu kelanjutannya, ya!
__ADS_1
Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya teman aku ini. Ceritanya, bagus dan seru, loh.