
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan lupa untuk selalu kasih like, komentar, dan bintang 5. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 20
Irwansyah pun pergi ke ruang perawat dan meminjam tikar serta selimut. Akhirnya, dia dan Azizah tidur di lantai dengan beralaskan tikar dan selimut. Lalu, dia pun berbagi selimut dengan istri keduanya.
Rela merasa kasihan melihat suami dan istri keduanya tidur di lantai yang dingin. Akan tetapi dia juga merasa cemburu karena kedua orang itu tidur sambil berpelukan.
"Kalau mau tidur seperti itu, sebaiknya jangan dilakukan di depan mataku," lirih Rela dengan mata yang berkaca-kaca.
Seandainya saja Azizah tidak ikut menginap. Bisa saja Rela berbagi tempat tidur dengan Irwansyah. Namun, suami dan madunya itu tidak punya pikiran seperti itu.
Azizah sendiri harus merasakan badannya sakit dan kaku karena tidur di lantai yang dingin beralaskan tikar dan selimut. Kehangatan yang dia dapat dari pelukan suaminya, bisa membuatnya tertidur.
Dia tidak pulang karena merasa yakin kalau ibu mertua pasti akan memarahi dirinya, jika tidak ikut menjaga istri pertama suaminya. Apalagi, tadi Mama Fatonah juga sudah menyudutkan dirinya yang bersalah.
***
Keesokan paginya setelah sholat Subuh, Irwansyah mengantarkan Azizah pulang karena hari ini adalah pertama kali istri mudanya itu masuk mengajar. Selain itu dia juga harus mengantarkan kedua anaknya sekolah.
Setelah sampai rumah, Azizah membuat sarapan sedangkan Irwansyah membereskan rumah. Untungnya Ukasyah dan Oliv bukan akan merepotkan jika di pagi hari. Mereka mandi dan menyiapkan keperluan sekolah sendiri karena ini sudah diajarkan oleh Rela saat mereka memulai masuk sekolah, jadi sekarang sudah terbiasa.
Mama Fatonah yang masih merasa sebal pada anak dan menantunya, membiarkan mereka. Dia tidak menjaganya bicara atau berinteraksi apapun dengan mereka. Bahkan dia pun pergi ke rumah sakit, minta diantarkan oleh ojek.
"Ma, mau ke mana pagi-pagi begini?" tanya Irwansyah yang sedang menyapu di halaman depan.
"Terserah mama mau pergi ke mana. Toh, kamu juga pergi tidak bilang-bilang sama mama," balas Mama Fatonah sambil berlalu dan ternyata ojek sudah menunggu di depan pintu pagar.
__ADS_1
"Pak, ini tujuannya ke mana?" tanya Irwansyah pada tukang ojek.
"Ke Rumah Sakit Sukaasih," jawab tukang ojek.
"Hati-hati bawa motornya, ya, Pak!" ucap Irwansyah pada laki-laki paruh baya yang sudah siap berangkat.
***
Setelah Irwansyah mengantarkan anak dan istrinya ke sekolah, dia mampir dulu ke tokonya. Dia memeriksa pembukuan dan mencatat barang pesanan. Baru sekitar jam 10:00:00 siang, dia mendatangi rumah sakit.
"Suster, pasien di kamar ini ke mana?" tanya Irwansyah pada perawat yang sedang merapihkan seprai.
"Sudah pulang barusan, Pak," jawab perawat itu.
Irwansyah pun berlari ke parkiran rumah sakit berharap istrinya masih ada di sekitaran sana. Namun, tenyata Rela sudah tidak ada. Hal ini membuat dia marah dan kesal karena merasa diabaikan dan tidak dianggap.
Irwansyah pun langsung pulang ke rumahnya. Dia mencari Rela dan istrinya itu sedang berbaring di kamar tamu.
"Berarti Abang tidak menanyakan keadaan aku pada dokter atau perawat yang menangani aku kemarin," jawab Rela dengan santai.
"Ya, setidaknya kamu hubungi aku kalau hari ini akan pulang," ujar Irwansyah dengan kesal.
"Abang, bagaimana aku bisa menghubungi, kalau aku tidak bawa handphone," balas Rela melirikan mata seakan sedang tidak mau banyak bicara untuk saat ini.
"Bukannya mama bawa handphone, kenapa tidak pakai punya Mama," ucap Irwansyah seakan semua ini salah Rela.
"Mungkin bagi mama percuma saja menghubungi Abang. Takut tidak diangkat atau tidak aktif handphone milik Abang," balas Rela menohok hati Irwansyah.
"Rela, Sayang. Ini obatnya dan dokter bilang jangan di makan jika tidak merasa mual," kata Mama Fatonah sambil masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Kehadiran Irwansyah diabaikan oleh ibunya. Wanita tua itu terlanjut kesal pada putra semata wayangnya itu dari kemarin.
"Sayang, pindah ke kamar kita, yuk!" ajak Irwansyah.
"Menantu mama akan tinggal di kamar ini. Biar mama yang mengurusnya. Kalau di lantai atas tidak akan ada yang mengurus dan memperhatikan kondisi kesehatannya," ujar Mama Fatonah menyindir Irwansyah.
Hari ini Irwansyah dibuat babak belur oleh omongan istri dan ibunya. Dia membuat kesalahan sedikit saja, membuatnya di hukum seperti ini.
"Abang tidak perlu khawatir. Aku baik-baik saja, kok. Sana pergilah ke toko. Bukannya sudah lama Abang meninggalkan pekerjaan di sana," pungkas Rela.
"Aku tadi ke toko dulu sebelum ke rumah sakit," tukas Irwansyah dan ikut berbaring bersama Rela di sampingnya.
Rela membiarkan suaminya memeluk atau mencium kening dan pipinya. Namun, dia tidak memberikan respon balasan. Rela memilih pura-pura tidur dan berharap jadi tidur beneran.
"Lihat, perbuatan kamu ini! Kamu tidak mampu berbuat adil pada istri-istri kamu," desis Mama Fatonah pada Irwansyah.
"Aku selama ini berusaha selalu berbuat yang terbaik untuk kedua istri aku," kata Irwansyah.
"Tapi, pada kenyatannya kamu malah membuat Rela menderita," ujar Mama Fatonah dengan sarkas.
"Iya, ini salah aku. Aku tidak mampu menjadi seorang suami yang baik bagi kedua istriku. Tapi, Mama juga jangan menyalahkan Azizah. Dia juga sudah banyak mengalah demi Rela. Dia selalu mendahulukan kebaikan dan kebahagiaan untuk Rela. Mama jangan menyalahkan terus dan memojokkannya. Dia juga sama-sama menantu Mama." Irwansyah merasa kecewa pada mamanya.
"Hanya Rela, menantu mama," ujar Mama Fatonah.
Azizah yang baru pulang dan berniat menemui Rela, harus mendengar sesuatu yang menyakitkan hatinya. Tanpa terasa kini air matanya membasahi pipi dia.
***
Bagaimana kehidupan rumah tangga Irwansyah dengan kedua istrinya ke depannya? Akankah mereka menemukan kebahagiaan? Tunggu kelanjutannya, ya!
__ADS_1
Sambil menunggu up bab berikutnya, Yuk baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh. Cus kepoin karyanya.