Bukan Istana Impian

Bukan Istana Impian
Bab 43. Keluarga Rela


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa kasih like, komentar, dan bintang 5. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 43


Santi lupa kalau ayah dari Rela tidak tahu tentang kehidupan rumah tangga yang dipoligami. Masalahnya laki-laki tua itu tidak suka jika anaknya hidup menderita. Hubungan dengan Irwansyah saat dulu pernah ditentang karena Irwansyah bukan dari kalangan atas seperti keluarga Rela. Bahkan mereka bersncana ingin melakukan pernikahan di usia muda. Hal yang tidak disetujui oleh orang tua Rela. Namun, cinta keduanya bisa meyakinkan orang tua Rela, kalau mereka akan hidup bahagia meski hidup tidak bergelimang harta. Walau pada akhirnya, Irwansyah bisa juga membuat kemajuan dalam usaha milik keluarga yang secara turun temurun dikelola oleh kepala keluarga. 


Irwansyah, dulu juga bekerja di perusahaan mertuanya. Sebelum dia kembali ke kampung halamannya lima tahun lalu dan mengembangkan usaha toko grosir kelontong. Bahkan menjadi salah satu grosir terkenal di kotanya.


Ditengah kekalutan Santi, Rela pun membuka mata meski hanya sedikit. Lalu, dia memberi kode kalau Opa sedang menelepon. Rela akhirnya mengambil alih panggilan itu.


"Papa, ada apa?" tanya Rela dengan suara yang dibuat riang agar ayahnya itu tidak curiga kepadanya.


^^^"Bagaimana keadaan kamu, Sayang?"^^^


"Baik, Pa. Tumben Papa menelepon jam segini?"


^^^"Tadi Papa mimpi buruk. Papa melihat dalam mimpi itu kalau kamu sedang menangis kesakitan seorang diri. Itu terasa sangat nyata bagi papa. Makanya, papa menghubungi kamu karena terlalu mengkhawatirkan keadaanmu saat ini."^^^


"Terima kasih, Pa. Papa sudah mengkhawatirkan keadaan aku. Tapi, aku … baik-baik saja."


Rela menahan sesak di dada. Dia juga menahan dirinya agar jangan sampai menangis. Takut kalau ayahnya akan mendengar suara isak tangisnya.


^^^"Kalau ada apa-apa, kamu bilang pada papa, ya. Nanti papa akan segera datang ke tempat kamu."^^^


"Baik, Pa!"


^^^"Bagaimana keadaan bayi kamu? Apa sudah lahir?"^^^


"Belum, Pa. Sepertinya sekitar sebulan lebih, kalau menurut hitungan dokter."

__ADS_1


Mama Fatonah pun bangun dan mendekat ke arah ranjang di mana Rela sedang berbaring. Dia memeriksa cairan infus. Mama Fatonah melihat Rela sedang berbicara lewat telepon. Dia mengira kalau itu adalah Irwansyah.


"Apa sudah menyuruh Irwan ke rumah sakit? Istri masuk rumah sakit, dia malah asik tidur dengan istri muda. Suami macam itu."


Rela dan Santi membelalakkan mata masing-masing. Mereka yakin kalau orang yang ada di seberang sana bisa mendengar dengan jelas ucapan Mama Fatonah barusan.


^^^"Apa maksud ucapan itu Rela!"^^^


Rela pun memijat kepalanya. Dia langsung merasakan sakit di kepalanya. Dirinya yakin kalau papanya akan langsung datang ke sini.


***


Sebelum adzan Subuh berkumandang, Irwansyah hendak menghubungi Rela. Namun, handphone dia mati.


"Hah, kebiasaan. Aku lupa cas handphone lagi. Biasanya Rela yang suka lebih teliti urusan beginian, dibandingkan aku sendiri yang punya barangnya, malah sering lupa," gumam Irwansyah.


"Ada apa, Bang?" tanya Azizah setelah keluar dari kamar mandi.


"Mau menghubungi mbak Rela? Pakai saja punya aku," kata Azizah sambil berjalan ke arah meja riasnya. Namun, handphone dia tidak ada di sana.


Azizah pun mencari di tasnya. Ternyata handphone miliknya juga dalam keadaan mati. Dia lupa semalam tidak mengecas benda pipih itu juga.


"Punya aku juga mati, Bang," ucap Azizah sambil tertawa geli. Niatnya dia ingin meminjamkan, ternyata sama-sama mati.


"Nanti saja setelah di cas saja aku menghubunginya.


***


2 jam 30 menit kemudian ….


Irwansyah mengaktifkan handphone miliknya. Betapa terkejutnya dia saat ada banyak panggilan dari Santi, Mama Fatonah, dan dua panggilan dari Rela. Pesan yang dikirim oleh Santi juga sangat banyak. Mulai dari yang memberi tahu Rela masuk ke rumah sakit sampai umpatan untuknya.

__ADS_1


"Iza, aku harus pergi ke rumah sakit!" teriak Irwansyah karena Azizah sedang mencuci piring bekas sarapan.


"Ada apa, Bang?" tanya Azizah.


"Rela masuk ke rumah sakit semalam," jawab Irwansyah dengan wajahnya yang pucat.


"Kalau begitu aku juga ikut, Bang," kata Azizah.


***


Irwansyah dan Azizah pun bergegas ke rumah sakit. Mereka tadi balik menelepon, tetapi tidak tersambung karena nomor Rela tidak aktif. Sementara itu, Santi tidak mengangkat panggilannya.


Setelah mendapatkan informasi kamar di mana Rela di rawat, Irwansyah dan Azizah pun bergegas ke lantai lima tempat ruang VVIP berada. Betapa terkejutnya Irwansyah, saat melihat ada ayah mertuanya sedang duduk di samping Rela. Begitu juga dengan Kakak iparnya yang tinggal di Singapura.


Tatapan tajam kedua laki-laki itu seakan menusuk jantung Irwansyah.


"Papa … Kak Satria. Kalian kapan sampai di sini?" tanya Irwansyah sambil mendekat pada mereka.


"Entahlah, aku tidak lihat jam berapa sampai sini. Setidaknya jarak Singapura dan Bandung lebih dekat, di bandingkan rumah istri muda kamu," jawab Satria menohok hati Irwansyah dan Azizah.


Rela menatap Irwansyah dalam diam. Dia tahu kalau saat ini suaminya sedang tidak enak hati. Dia sejak tadi sudah membela suaminya di depan ayah dan kakaknya. Namun, kekerasan kepalaan mereka berdua bukan tandingan dirinya.


"Sayang, maaf. Aku tidak tahu kalau kamu masuk rumah sakit sejak semalam. Handphone aku lupa cas, jadinya …." Irwansyah berjalan mendekat ke arah Rela, tetapi di hadang oleh Satria. Laki-laki itu miliki tubuh lebih tinggi dan lebih besar dari Irwansyah.


"Kembalikan saja Rela pada kami, jika kamu tidak mampu mengurus dan memberikan perhatian padanya," desis Satria dengan tatapan mata yang dingin.


Mata Irwansyah membulat. Dia sangat terkejut mendengar ucapan kakak iparnya itu.


***


Apa yang akan dilakukan oleh Irwansyah saat dirinya dan Rela dipaksa berpisah oleh keluarga Rela? Tunggu kelanjutannya, ya!

__ADS_1


__ADS_2