
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu kasih dukungan dengan kasih like, komentar, dan bintang 5. Semoga hari ini kalian bahagia dan dimudahkan rezekinya.
***
Bab 48
Rela mendapatkan pesan dari Azizah kalau dia tidak bisa menjaga anak-anak. Sebelum Azizah pulang kemarin, Rela memberikan nomor baru dan bisa menghubungi dirinya kalau ada apa-apa.
"Aduh, kenapa anak-anak jadi begini?" gumam Rela yang saat ini sedang duduk di sebuah rumah sakit di ibu kota.
Lalu, dia pun menghubungi Santi. Hanya dua orang ini yang punya nomor baru Rela.
"San, bisa minta tolong? Tolong cari tahu, kenapa anak-anak sampai marah bahkan benci sama Azizah."
^^^"Bukannya anak-anak sayang Azizah?"^^^
"Iya, makanya aku juga merasa aneh. Aku tidak mau kalau mereka membenci Azizah gara-gara masalah kemarin. Padahal aku sudah menjelaskan pada mereka berdua kalau Azizah itu tidak jahat."
^^^"Semua akan kembali baik, jika si pelaku tertangkap. Anak-anak biasanya mudah dimanipulasi pikirannya. Meski mereka itu suka keras kepala."^^^
"Tolong, ya, San. Kasihan Azizah dan anak-anak. Kalau pengobatan aku sudah selesai, aku akan cepat pulang lagi."
^^^"Beres, Bos!"^^^
Bagaskara dan Satria duduk di berhadapan mendengarkan obrolan Rela di telepon. Mereka kemarin sudah menyuruh Rela untuk lapor polisi. Agar polisi melakukan penyelidikan.
"Kalau menurut papa, masalah rumah tangga Rela itu ada di istri mudanya Irwan," kata Pak Bagaskara pada putranya.
"Tapi, kata Rela, dia itu wanita baik. Jadi, tidak dia akan melakukan hal jahat seperti itu," balas Satria dengan pelan karena tidak mau kedengaran oleh Rela.
"Sudah jelas obat itu milik wanita itu," ujar Pak Bagaskara mendesis.
Satria juga kemarin berpikir begitu kalau istri muda Irwansyah itu jahat dan iri sama Rela. Namun, saat bertemu langsung dengannya, wanita itu termasuk pendiam dan pemalu. Juga beberapa kali memperlihatkan perhatiannya pada Rela. Sebaliknya, Rela juga sangat mempercayai wanita itu dan menyayanginya.
Rela takut kalau Azizah beneran yang sudah memberinya obat pencahar itu sampai dia kena radang usus dan saluran ginjal. Dia tidak mau mempercayai hal itu, kalau sampai terbukti itu perbuatan Azizah, hati dia bakalan sakit dan hancur kepercayaan padanya.
Adik kembarannya itu sengaja melakukan pengobatan di luar kota karena, tidak mau membuat suami dan ibu mertuanya cemas dan menyalahkan Azizah atas apa yang terjadi padanya. Rela tidak mau jika, Irwansyah sampai menceraikan Azizah. Dia tidak suka dengan yang namanya perceraian. Lalu, dia juga tidak mau ibu mertuanya mencap lagi Azizah dengan hal buruk.
"Kak, apa Kakak punya kenalan seorang Intel atau detektif?" tanya Rela.
"Untuk apa?" tanya Satria sambil mendekat ke ranjang tempat Rela berbaring.
"Ada seseorang yang ingin aku tahu kegiatannya selama ini," jawab Rela.
"Irwansyah?"
"Isssh, bukan. Tapi, Tante Rose."
__ADS_1
"Kenapa kamu ingin menyelidiki wanita itu?"
"Sejak ke datangan dia ke rumah. Sering terjadi hal-hal yang membuat suasana rumah menjadi panas," jawab Rela sambil tertawa.
"Dasar. Bukannya dia itu wanita yang hidupnya boros dan suka berfoya-foya. Makanya dia diceraikan oleh suaminya."
"Kakak tahu dari mana?"
"Ada aja. Aku punya seorang informan."
Kedua kakak adik itu pun menghubungi seseorang dan membicarakan beberapa hal yang sudah terjadi pada Rela. Orang itu pun bersedia membantu.
***
Azizah berdiam di kamarnya dia mencurahkan semua isi hatinya pada Rela. Dia sangat terluka saat anak-anak merasa tidak membutuhkan dirinya.
"Mbak … kamu itu sakit apa, sebenarnya? Kenapa tinggalkan anak-anak dan menitipkan padaku," gumam Azizah sambil memeluk kedua lututnya.
Saat dia meratapi dirinya terdengar suara ketukan pintu. Lalu, Azizah menghapus air matanya dengan cepat dan berjalan ke arah pintu.
Dilihatnya ada Irwansyah dan kedua anaknya berdiri di sana. Hati Azizah mencelos saat kedua anak itu memeluk dirinya.
"Ibu, kami minta maaf!" kata kedua anak itu sambil menangis.
Air mata Azizah kembali meluncur di kedua pipinya. Dia pun berjongkok dan memeluk kedua buah hatinya meski bukan dia yang mengandung dan melahirkan mereka.
"Katanya mereka ingin tidur di sini bersama kamu," ucap Irwansyah.
"Benarkah itu?" tanya Azizah pada kedua bocah yang masih dalam dekapannya.
"Iya, Ibu. Bolehkan kalau kami tidur bersama di sini?" Ukasyah mengangguk.
"Tentu saja boleh."
Azizah membawa kedua bocah itu ke dalam. Namun, dia mengerutkan kening saat melihat suaminya tidak ikut masuk.
"Aku tidur di kamar atas," ucap Irwansyah.
Azizah pun mengangguk, kemudian menutup pintunya. Dengan kehadiran dua anak kecil ini saja sudah membuat suasana hati Azizah bahagia.
***
Irwansyah berbaring di kasur dan teringat akan pembicaraan dengan Santi tadi.
Flashback on.
Saat Irwansyah hendak ke luar rumah ada asisten istrinya datang ke rumah. Bukan hal aneh jika gadis itu datang ke rumahnya. Hanya saja, biasanya Santi datang jika ada perlu sama Rela atau diminta datang ke rumah oleh bos-nya itu.
__ADS_1
"Ada apa, San?" tanya Irwansyah.
"Pak, apa anak-anak ada?" tanya Santi balik.
"Ada di kamar mereka," jawab Irwansyah.
"Minta izin masuk, Pak," balas Santi.
"Ada perlu apa?" Irwansyah penasaran dan merasa curiga.
"Mau kasih wejangan pada mereka." Santi tersenyum lebar.
"Sana masuk saja, ada mama juga di dalam."
***
Santi pun duduk di depan kedua anak kecil itu. Dia bincang-bincang ngalor-ngidul mengenai hal yang anak-anak itu sukai. Sebelum dia masuk ke pembahasan yang penting. Dia tidak suka memberikan nasehat yang terlalu mendikte.
"Bagaimana kalau hari Minggu kita pergi berlibur, yuk!" ajak Santi.
"Ayuk!" balas kedua anak kecil itu.
"Kita ajak ibu Azizah juga," kata Santi.
Ukasyah dan Oliv langsung terdiam. Terlihat jelas wajah mereka tidak suka.
"Kenapa?" tanya Santi.
Ukasyah dan Oliv saling melirik sebelum menatap ke arah Santi. Lalu, Ukasyah berkata, "Kami tidak mau ajak ibu Azizah."
"Kan, biar lebih seru ajak banyak orang. Kalau perlu ajak juga oma dan ayah kalian."
"Ibu Azizah itu jahat!" seru Oliv.
Santi terkejut karena Oliv berteriak sambil menangis.
"Ibu Azizah bukan orang jahat," balas Santi.
"Tidak. Ibu Azizah itu jahat! Sudah membuat bunda dan oma sakit sampai masuk ke rumah sakit," ujar Oliv.
"Siapa bilang yang begitu?" tanya Santi.
"Kami dengar dan lihat sendiri," jawab Ukasyah.
Tanpa mereka bertiga sadari kalau sejak tadi ada Irwansyah yang berdiri bersandar di dinding dekat pintu yang terbuka itu. Dia mendengarkan obrolan kedua anaknya bersama Santi.
***
__ADS_1
Jurus apa yang dipakai oleh Santi sehingga anak-anak itu mau meminta maaf pada Azizah? Akankah kebahagiaan menghadiri kembali keluarga Irwansyah? Tunggu kelanjutannya, ya!