Bukan Istana Impian

Bukan Istana Impian
Bab 25. Adil


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan lupa untuk selalu kasih like komentar, dan bintang 5. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 25


Pagi-pagi hari saat semua semua sedang tidak ada di rumah, kecuali Rela dan Irwansyah. Tante Rose sedang sibuk bersama teman-temannya, begitu juga dengan Mama Fatonah yang sedang berkunjung ke rumah Bu RT.


"Sayang, abang mau tanya. Apa selama ini kamu merasa kalau abang sudah tidak berbuat adil kepadamu?" tanya Irwansyah kepada Rela.


Kedua orang itu sedang duduk di kursi halaman samping yang menghadap ke arah paviliun tempat tinggal Azizah. Kedua orang itu menikmati hangatnya sengatan sinar matahari dan segarnya udara pagi karena banyaknya pohon-pohon yang rindang yang tumbuh di halaman rumah itu.


"Adil yang bagaimana, yang Abang maksud?" Rela malah balik bertanya.


"Ya, semuanya. Aku tidak mau kalau kamu merasa aku sudah dzolim pada istriku. Apalagi kamu adalah istri pertama aku. Sudah lama kita bersama dan segalanya sudah kita lewati bersama-sama. Baik di saat kita kesusahan dahulu. Awal kita merintis usaha. Disibukan saat punya anak. Suka duka dalam membangun rumah tangga kita, yang segala sesuatunya kita mulai bersama-sama dari nol. Aku tidak mau kamu punya pikiran kalau aku berubah karena sudah punya istri kedua. Bagaimana pun, kamu adalah wanita teristimewa dalam hidup aku," balas Irwansyah dengan perhatiannya semua tertuju pada Rela.


"Segi materi Abang sudah berbuat adil. Pembagian waktu kebersamaan kita, aku lebih banyak mendapatkan jatah atas persetujuan Azizah. Perhatian yang Abang berikan kepada kami mungkin dirasa sudah adil. Namun, aku merasa di sini Abang lebih condong ke Azizah," Rela menghela napasnya. Matanya mulai terasa panas dan dadanya sesak. Dia yakin sebentar lagi akan menangis.


"Astaghfirullahal'adzim. Rela, percayalah! Abang tidak punya niatan atau lebih memberikan perhatian kepada Azizah. Sebisa mungkin abang ingin selalu ada untuk semua keluarga di saat mereka sedang dalam keadaan sedih atau kesulitan," jelas Irwansyah sambil memegang tangan Rela. Tatapan matanya saling beradu dengan tatapan mata istri tuanya.


"Ya, mungkin karena Azizah sering terkena masalah akhir-akhir ini dan membuat Abang selalu lebih perhatian padanya," ucap Rela.


"Abang berharap kalau bisa kalian semua tidak mengalami masalah atau kesulitan," timpal Irwansyah.


***


Sekarang Azizah dan Oliv selalu pergi dan pulang sekolah bersama naik motor. Seperti hari ini, mereka pulang melewati sebuah kedai es krim. Oliv ingin mampir membeli es krim kesukaannya dahulu. Maka, Azizah pun mampir ke sana.


"Azizah?" Seorang laki-laki menyapanya.

__ADS_1


"Eh … Ba-nu?" Azizah sangsi pada laki-laki yang ada di depannya.


"Iya, ini aku," ucap laki-laki yang pernah menjadi calon suami Azizah dulu.


Azizah melihat laki-laki yang dulu berbadan tinggi dengan bentuk tubuh proporsional. Kini menjadi bapak-bapak yang berbadan tambun. Sudah hampir 6 tahun dirinya tidak bertemu dengannya. Kini banyak sekali perubahan pada laki-laki yang dulu pernah berjanji akan membahagiakan dirinya.


"Ini siapa?" tanya Banu sambil menunjuk pada Oliv.


"Dia putriku, namanya Oliv. Sayang, salim sama Om Banu," suruh Azizah pada putri sambungnya.


"Putri?" Banu terkejut karena setahu dirinya dulu sudah melakukan operasi pengangkatan rahim, sehingga dia tidak akan punya keturunan.


"Iya. Kamu sendirian?" tanya Azizah karena merasa aneh melihat Banu sedang di kedai es krim.


"Tidak. Saya sedang mengantarkan anak dan istri yang ingin membeli es krim di sini," katanya sambil menunjuk ke arah seorang wanita bertubuh tambun begitu juga dengan anak kecil yang bersama dengannya sedang duduk di meja pojok.


Azizah melihat kalau anak kecil itu memakai seragam yang sama dengan Oliv. Itu berarti anaknya Banu adalah salah satu muridnya.


"Alhamdulillah," balas Azizah.


"Ibu, punya aku sudah," kata Oliv saat pegawai kedai itu memberikan satu cup es krim padanya.


"Ya sudah kita langsung pulang," balas Azizah. Mereka pun pamit undur diri.


***


Saat Azizah dan Oliv pulang, rumah tampak sepi tidak ada orang. Maka, Azizah pun mengetuk pintu kamar Rela.


"Mbak Rela! Mbak!" panggil Azizah sambil mengetuk pintu.

__ADS_1


Meski sudah dipanggil beberapa kali, tidak ada respon dari dalam kamar. Maka, Azizah pun membuka pintu kamar itu karena takut terjadi sesuatu kepada Rela.


Saat pintu di buka terlihat kalau Rela sedang tidur dalam pelukan Irwansyah. Kedua orang itu tidur dengan sangat lelap. Maka, Azizah pun menutup kembali pintu kamar itu.


Setelah berganti baju, Azizah pergi ke dapur untuk mempersiapkan menu makan siang. Saat dia asik memotong sayuran, Mama Fatonah pulang ke rumah dan tidak lama kemudian Tante Rose juga pulang.


"Azizah, masakan Tante terong balado!" titah Tante Rose.


"Eh, Azizah sudah mau buat sayur lodeh. Tadi pagi-pagi bang Irwan ingin makan ini," kata Azizah sambil menunjukan semua bahan sudah selesai dipotong dan dibersihkan. Tinggal dimasukan ke dalam panci yang berisi kuah santan.


"Apa susahnya masakin sekalian makanan yang mau Tante makan," omel Tante Rose.


"Rose, kalau kamu mau makan terong balado, masak saja sendiri. Kamu kira Azizah tidak capek. Tahu diri sedikit kamu," bentak Mama Fatonah karena sering dibuat kesal oleh adik sepupunya itu. 


"Kak, bicara baik-baik bisa nggak, sih! Nggak perlu bentak-bentak begitu," balas Tante Rose.


"Kamu sendiri suka sekali memaksakan keinginan kamu pada Azizah. Setiap makan minta menu yang berbeda dengan yang di masak. Kalau kamu mau makanan tertentu kenapa tiap pagi saat ditanya ingin makan apa, jawabnya tidak terpikirkan. Waktunya masakan sudah dibuat kamu minta menu yang lainnya," tukas Mama Fatonah dengan penuh kekesalan.


Azizah merasa tidak enak hati. Dia kalau bisa buatkan saja keinginan Tante Rose itu. Masalahnya adalah setiap masakan yang di minta oleh Tante Rose selalu dimakan sedikit. Ada saja alasan yang dia katakan. 


"Ada apa ini ribut-ribut?" tanya Irwansyah yang kini memasuki dapur.


Orang-orang di sana langsung terdiam. Azizah melihat air di dalam panci sudah mendidih. Maka, dia pun hendak memastikan kompor gas. Air panas itu rencananya untuk membuat air teh. Namun, saat Azizah sudah memasukan air panas itu ke dalam poci dan hendak di simpan ke meja makan. Kaki Tante Rose dijulurkan sedikit, sehingga Azizah tersandung dan jatuh dengan air panas itu tumpah ke tubuh Mama Fatonah.


"Aaaahk! Panas! Panas!" teriak Mama Fatonah.


"Astaghfirullahal'adzim," ucap Azizah dan Irwansyah bersamaan.


***

__ADS_1


Apakah hal ini akan membuat Azizah semakin terpojokkan di rumah itu? Tunggu kelanjutannya, ya!


😭😭😭 habis ngetik hampir 1000 kata tanpa sadar ketiduran. Naskah malah hilang semua.


__ADS_2