Bukan Istana Impian

Bukan Istana Impian
Bab 7. Keributan Saat Sarapan


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan lupa kasih like dan komentar. Semoga hari ini kalian bahagia dan dimudahkan rezekinya.


***


Bab 7


     Pagi ini giliran Azizah yang membuat sarapan. Nasi goreng buatannya disukai oleh semua penghuni rumah. Ditambah dengan telur ceplok, mendoan, dan kerupuk kakap. Irisan mentimun dan tomat juga disediakan di dalam piring pisin. Mama Fatonah dan Irwansyah sangat suka dengan tomat sedangkan kedua anaknya tidak suka.


"Wangi sekali masakannya," puji Irwansyah begitu masuk ke dalam rumah setelah selesai membersihkan halaman rumah.


"Abang, mau sarapan sekarang?" tanya Azizah.


"Nanti saja. Mau mandi dulu," jawab Irwansyah.


"Abang, mau mandi lagi?" tanya Rela yang masuk ke ruang makan dan baru saja menyelesaikan membersihkan kaca jendela di seluruh rumah itu.


"Iya, Sayang. Agak gerah pagi ini," jawab bisik Irwansyah sambil tersenyum jahil. Rela hanya bisa membalas senyumannya itu.


"Mbak Rela, anak-anak tumben belum turun sudah jam segini," ucap Azizah sambil melihat jam di dinding.


"Tadi mereka sudah selesai memakai seragam. Pasti mereka lagi nonton televisi," ucap Rela dengan bergumam.


     Ternyata Ukasyah dan Oliv sedang asik nonton televisi bersama Tante Rose. Begitu juga dengan Mama Fatonah, biasanya kalau pagi-pagi itu suka berjemur di halaman rumah sambil merawat bunga hias kesayangannya.


"Anak-anak sarapan dulu, lihat sudah siang!" ujar Rela saat sudah di depan kedua anaknya.


"Oh, sudah waktunya sarapan, ya?"  Mama Fatonah beranjak dari tempat duduknya.


    Kedua anak kecil itu pun berjalan mengikuti ke arah ruang makan. Begitu juga dengan Tante Rose. 


"Sarapan apa, ini?" tanya Tante Rose saat melihat hanya ada nasi goreng, mendoan, telor mata sapi kesukaan kedua anak kecil itu, dan kerupuk kakap.


"Enak loh, nasi goreng buatan Ibu Azizah," kata Ukasyah dan di benarkan oleh Oliv.


"Tidak! Aku tidak pernah sarapan dengan makanan berat seperti ini," sanggah Tante Rose menolak makan menu sarapan pagi itu.


"Ini bukan makanan berat, Oma. Ringan, kok. Tuh, Oliv saja bisa mengangkat nasi gorengnya," bantah Oliv karena dalam pikirannya makan berat itu artinya beban berat.

__ADS_1


"Bukan ringan dan berat seperti itu," ucap Tante Rose dengan nada sedikit kesal.


"Ada apa ini?" tanya Irwansyah begitu sampai ke ruangan itu.


"Oma Rose bilang makanannya berat. Padahal menurut aku ringan," ujar Oliv menjelaskan.


"Tante maunya sarapan apa?" tanya Irwansyah.


"Buah-buahan … karena tante harus menjaga bentuk tubuh," jawab Tante Rose.


     Irwansyah menghela napasnya, dia pun meminta kepada Azizah untuk melihat persediaan buah-buahan di dalam kulkas, apa masih ada atau sudah habis. 


"Di dalam kulkas ada apel, tomat, dan jeruk," ujar Azizah sambil memperlihatkan ketiga jenis buah itu.


"Apa? Irwan, masa istri kamu tidak memperhatikan isi kulkas. Buah-buahan saja sampai tidak ada. Istri macam apa itu?" Sindir Tante Rose kepada Azizah.


"Maaf, ya, Tante. Kebetulan jadwal aku belanja besok. Kita belanja satu minggu sekali kalau untuk kulkas dan kebetulan minggu ini kami semua sering membuat salad buah. Jadi, stok buah-buahan cepat habis," balas Rela.


"Kalian itu orang kaya. Dan kalian tahu kalau tante akan datang ke rumah ini. Jadi, seharusnya kalian itu menyiapkan semuanya dengan baik."


"Tante bilang mau ke sini kemarin lusa. Kita tidak tahu kalau Tante ingin sarapan buah-buahan. Karena semua orang di rumah ini sarapan seperti ini, makan nasi," ujar Irwansyah.


"Ya, sudah daripada tidak sarapan. Bisa-bisa maag aku kambuh nanti," ucap Tante Rose.


***


     Seperti biasa Irwansyah akan mengantarkan kedua istri dan anak-anaknya sambil pergi ke tokonya. Azizah ke sekolah PAUD, Ukasyah ke Sekolah Dasar, dan Oliv ke PAUD yang lainnya. Terakhir adalah Rela ke butik yang tidak jauh dari tokonya.


"Rela, abang kerja cari uang dulu," kata Irwansyah saat Rela hendak pamit padanya dan turun dari mobil.


     Rela mengambil tangan suaminya dan mencium serta mendoakan kebaikan untuknya. Sebaliknya begitu juga dengan Irwansyah, dia mencium kening dan mendoakan kebaikan untuknya juga.


"Eh, ada yang lupa," ucap Rela dengan senyum manisnya.


"Kebiasaan," balas Irwansyah sebelum memberikan ciuman manis untuk istrinya.


     Mereka berdua tidak pernah memperlihatkan kemesraan di depan Azizah. Begitu juga Irwansyah dan Azizah tidak pernah memperlihatkan kemesraan mereka di depan Rela. Itu untuk menjaga perasaan madu mereka. Hanya saja Rela lebih banyak punya kesempatan untuk bermesraan dengan suaminya.

__ADS_1


"Sayang, tubuh kamu agak demam. Apa sedang tidak enak badan?" tanya Irwansyah sambil menyentuh kening dan pipi Rela yang terasa hangat.


"Mungkin karena keseringan mandi malam dan sebelum Subuh," jawab Rela sambil tersenyum malu.


     Irwansyah semakin mengeratkan pelukannya. Dia tahu kenapa Rela sering mandi malam dan juga sebelum Subuh. Itu karena ulahnya yang selalu mengajaknya bercinta. Semalam tidak tidur dengannya membuat dia selalu merindukan dirinya dan perasaan itu akan dia luapkan saat giliran tidur dengannya.


"Kita ke dokter, ya!" ajak Irwansyah sambil membelai pipi mulus Rela.


"Ini cuma badan hangat biasa, Bang. Nanti siang juga akan normal kembali. Lagian ini masih di suhu normal, loh," ucap Rela.


"Ya sudah, kalau ada apa-apa cepat hubungi abang, ya?" pinta Irwansyah lalu memberikan satu kecupan pada bibir Rela yang masih bengkak akibat perbuatannya.


"Iya, Bang. Terima kasih atas perhatiannya, makin cinta deh, sama Abang," kata Rela.


"Abang juga makin cinta sama kamu." Irwansyah menatap manik netra milik Rela yang sangat dia sukai.


***


"Kak Fatonah, kenapa Irwan menikah lagi?" tanya Tante Rose yang baru tahu kemarin kalau keponakan yang hampir seusia dirinya itu punya istri dua.


"Itu karena Azizah tidak punya rahim. Setiap laki-laki yang ingin melamarnya mengundurkan diri setelah tahu dia tidak bisa memberikan mereka keturunan," jawab Mama Fatonah.


"Apa? Jadi, Azizah itu cacat? Tidak akan bisa punya anak," pekik Tante Rose.


"Iya. Dan Rela yang baik hati itu merasa kasihan kepadanya. Jadi, menyuruh Irwansyah menerima pinangan dari bapak Azizah yang sempat ditawarkan kepadanya," jelas Mama Fatonah.


"Ini gimana sih, ceritanya?" tanya Tante Rose penasaran.


     Mama Fatonah pun menceritakan kejadian beberapa bulan yang lalu. Sesekali Tante Rose menimpali ucapannya sebagai reaksi dirinya.


'Beruntung banget si Azizah ini. Dinikahi oleh Irwansyah yang tampan, kaya, dan juga baik. Lalu, apa yang di dapat oleh Irwan dari dia? Keperawanan? Masih bagus kalau memang dia masih perawan. Kalau sudah tidak perawan? Nggak ada untungnya sama sekali,' batin Tante Rose.


***


Kenapa Tante Rose tidak suka kepada Azizah? Akankah ke harmonisan hubungan Irwansyah dengan kedua istrinya bertahan? Tunggu kelanjutannya, ya!


Sambil menunggu up bab selanjutnya. Baca juga karya teman aku ini, yuk. Ceritanya bagus dan menarik. Meluncur ke novelnya.

__ADS_1



__ADS_2