
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, kasih like, komentar, dan bintang 5. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 27
Malam ini giliran Irwansyah tidur bersama dengan Azizah. Lalu, dia pun bertanya, "Apa kamu ingin tinggal terpisah rumah dengan Rela?"
"Apa maksud, Abang?" Azizah balik bertanya.
"Apa kamu merasa tidak nyaman selama tinggal di sini bersama kami? Aku berpikir akan lebih baik jika kamu juga aku belikan rumah sendiri. Kamu tidak akan sungkan atau canggung pada Rela dan Mama," jawab Irwansyah sambil mengusap pipi chubby milik Azizah.
"Jujur, Bang. Aku merasa nyaman tinggal di sini bersama kalian. Hanya saja aku harus menahan diri untuk tidak berbuat berlebihan pada Abang. Takut tiba-tiba ada mbak Rela memergoki kita sedang bermesraan. Sedangkan aku selalu ingin bermanja-manja pada Abang. Makanya tempat paling nyaman dan aman bagi aku, ya di sini. Di kamar kita. Aku bebas mau melakukan apapun," ujar Azizah.
"Kalau begitu Abang akan buat rumah baru untuk kamu tinggali. Agar kamu bisa bebas berbuat sesuatu pada Abang, nanti. Tanpa takut kepergok sama orang lain," balas Irwansyah sambil tertawa dan menjawil hidung Azizah.
Mendengar keputusan suaminya, Azizah pun menganggukan kepala. Tidak masalah baginya. Hanya saja dia pastinya akan sangat merindukan Irwansyah, jika suaminya mendapat giliran bersama Rela.
Dirinya selalu merindukan sosok suaminya. Meski tidak tidur bersama, tetapi mereka masih makan bersama setiap hari. Mereka masih bisa berinteraksi setiap waktu.
"Aku akan ikuti keinginan Abang. Tapi, bisa tidak jika pas giliran Abang bersama mbak Rela. Sempatkan menelepon aku meski cuma lima menit. Aku ini selalu ingin melihat dan mendengar suara Abang," pinta Azizah.
Mendengar keinginan istrinya itu Irwansyah merasa sangat senang karena Azizah begitu sangat mencintainya tidak kalah dari Rela.
"Iya. Akan aku usahakan untuk menanyakan kabar kamu," ujar Irwansyah dengan senyum manisnya.
"Bang, kamu telah membuat aku benar-benar jatuh cinta padamu. Aku sampai bingung kenapa bisa punya perasaan seperti ini," aku Azizah.
"Aku juga sudah mencintaimu, sejak kapan itu tidak tahu pastinya. Kepribadian dirimu dan pemahaman kamu akan agama, membuat aku jatuh cinta padamu," balas Irwansyah dan mendapat sebuah ciuman hangat dari Azizah.
***
Kondisi kesehatan Rela sudah jauh lebih baik. Dia pun ingin pergi ke butik karena sudah merindukan orang-orang di sana. Juga para langganan dia yang sering memesan baju padanya.
"San, bagaimana keadaan di butik selama aku tinggal?" tanya Rela setelah duduk manis di kursinya.
"Aman terkendali dan juga keadaan butik rapi dan bersih," jawab Santi.
Rela langsung tertawa karena dia dan kedua anaknya sering membuat berantakan dan kotor ruang kerjanya oleh kertas dan mainan anak-anak. Meski begitu mereka juga yang akan membereskannya kembali. Namun, asistennya yang terkenal akan kerapihan dan kesukaannya pada kebersihan sering menggerutu jika keadaan butik berantakan.
"Seneng banget aku tidak ke sini," balas Rela.
__ADS_1
"Siapa bilang senang? Nggak ada yang mentraktir kita jajan," bantah Santi dan membuat Rela ketawa lagi.
"Kalian itu sukanya di traktir, padahal sudah punya gaji sendiri juga," tukas Rela dengan memicingkan matanya.
"Manusiawi, Bos. Ingin di traktir sama atasan. Benar, nggak?" Santi minta dukungan pada teman-temannya.
"Setuju!" teriakan kompak dari karyawan lainnya.
Rela pun meminta Santi untuk berdiskusi dengannya tentang keinginannya membuka butik cabang di pusat kota. Beberapa hari kemarin dia tanpa sengaja aku melihat ada tempat yang akan dijual milik teman aku, sih. Aku tanya-tanya sama dia kalau emang tempat itu ramai dilalui oleh orang-orang. Hanya saja belum ada yang jualan baju di sana. Kebanyakan jual makanan. Menurut kamu aku ambil jangan tempat ini?" tanya Rela.
"Kata pak suami bagaimana?"
"Aku belum bilang sama suamiku."
"Kalau harganya murah dan tempat strategis, ambil saja, Bos. Mau dipakai untuk apa, bisa dipikirkan nanti," jawab Santi dengan ceringai jahilnya.
"Apaan, sih. Curiga aku jadinya," ucap Rela.
"Jangan bilang ini buat ancang-ancang kalau masa depan berubah suram, ya?"
"Astaghfirullahal'adzim. Nauzubillah min dzalik. Jangan sampai deh, mengalami hal itu."
Rela menghabiskan waktu di butik sampai waktu Oliv pulang sekolah. Dia niatnya mau menjemput putrinya itu di sekolah. Sudah lama dia tidak pernah menjemputnya lagi semenjak sakit.
***
Saat Rela ke sekolah Oliv ternyata ada Irwansyah sedang bersama Azizah di parkiran. Dia pun menghampiri mereka.
"Assalamualaikum," sapa Rela kemudian mencium tangan Irwansyah dan memeluk Azizah bercipika-cipiki.
"Sayang? Tumben kamu ke sini?" tanya Irwansyah yang terkejut dengan kedatangan istri pertamanya.
"Mau jemput Oliv, Bang," jawab Rela.
"Bunda!" Oliv langsung memeluk tubuh ibunya dan mendapat balasan dari Rela.
"Sayangnya bunda, bagaimana sekolah hari ini?" tanya Rela pada putrinya.
"Menyenangkan seperti biasa," jawab Oliv sambil menatap ke arah ibunya.
Irwansyah dan Azizah pun pergi meninjau lokasi yang akan dibangun rumah nantinya. Sementara itu, Rela dan Oliv pulang kerumahnya.
__ADS_1
***
Kabar kalau Azizah mau tinggal terpisah dengan mereka membuat Mama Fatonah senang. Dia merasa kalau Rela kurang nyaman dengan kehadiran madunya di rumah di mana dia yang seharusnya menjadi Ratunya.
Mama Fatonah bisa melihat kalau Rela malah lebih merasa bebas dan santai jika Azizah sedang tidak berada di dekatnya. Ternyata selama ini menantu pertamanya itu tidak mau ada konflik dengan madunya dengan adu kemesraan dengan suami mereka.
"Baguslah kalau Irwan mau membuatkan rumah untuknya. Semoga saja keadaan rumah kita bisa kembali seperti dulu lagi sebelum Irwansyah menikah dengan Azizah," kata Mama Fatonah saat tahu kalau putranya berniat memisahkan rumah istri pertama dan kedua.
"Kalau Ibu Azizah tidak tinggal di sini lagi, nanti siapa yang akan mengajari mengaji adik sama kakak?" tanya Oliv.
"Bukannya masih ada ayah dan bunda?" Rela merasa sedih karena kini kedua anaknya jauh lebih dekat dengan Azizah.
"Tapi, Ibu Azizah mengajinya lebih jago dari bunda. Suaranya juga enak sekali saat mengaji," ujar Oliv jujur, tetapi menohok bagi Rela.
"Kalau mau Oliv bisa mengunjungi rumah Ibu Azizah saat sore hari untuk belajar mengaji, setelah pulang sekolah agama," kata Rela akhirnya. Dia memang akui kalau Azizah itu jauh lebih hebat mengaji darinya.
"Asik! Beneran, Bunda?" tanya Oliv untuk lebih meyakinkan dirinya lagi.
"Iya, Sayang." Rela menatap nanar pada putrinya.
***
Irwansyah dan Azizah memilih lokasi tanah yang berada di tengah-tengah antara desa tempat tinggal orang tuanya dan rumah suaminya yang di pusat kecamatan. Azizah memilih tempat ini agar mudah baginya atau pun keluarganya, di saat mereka ingin saling berkunjung.
"Bang, kenapa Tante Rose tinggal terus di rumah itu? Kenapa tidak Abang sewakan tempat atau buatkan rumah untuknya?" tanya Azizah pada Irwansyah.
"Tante Rose mana mau tinggal di kontrakan kecil. Kecuali di rumah mewah atau apartemen mewah, baru mau dia," jawab Irwansyah sambil mengemudi.
"Maaf, nih, Bang. Tante Rose itu terlahir dari orang tua yang konglomerat?" tanya Azizah lagi.
"Tidak, dia terlahir dari keluarga biasa saja. Mama yang terlahir dari keluarga, ya, bisa dibilang terpandang dan banyak hartanya," jawab Irwansyah.
"Hah … ta-pi kenapa …."
"Mama kehilangan seluruh anggota keluarganya. Kakek, nenek, dan kedua orang tuanya. Mereka meninggal di hari yang sama," tutur Irwansyah.
"Ba-gai-mana bisa?" tanya Azizah tergagap sakit terkejutnya dia mendengar kisah pilu ini.
***
Apa yang membuat Mama Fatonah tidak bisa mengusir Tante Rose? Tunggu kelanjutannya, ya!
__ADS_1
Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk baca juga karya aku ini.