
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan lupa untuk selalu kasih dukungan buat aku dengan kasih Bunga, Kopi, dan Vote juga. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 56
Irwansyah pun bergegas menemui Satria yang sedang berada di kantor polisi. Tadi kakak iparnya memberi tahu kalau Baharuddin akan melarikan diri, saat akan ditangkap oleh Polisi. Ternyata laki-laki itu memiliki pistol dan menembakkan pelurunya ke arah polisi yang hendak menangkap dia. Untungnya peluru itu hanya mengenai lengan dan tidak sampai membahayakan nyawa Pak Polisi.
"Sekarang dia ada di mana?" tanya Irwansyah.
"Dia sedang berada di rumah sakit karena kedua kakinya dilumpuhkan oleh peluru pistol milik polisi yang bertugas untuk menangkapnya," jawab Satria.
Setelah selesai memberikan laporan, Irwansyah dan Satria meminta izin polisi untuk menemui Baharudin di rumah sakit. Mereka pun pergi untuk menemuinya. Namun, saat mereka hendak naik ke dalam mobil. Ternyata Mama Fathonah sudah berada di dekat mobil milik Irwansyah.
"Mama sedang apa di sini?" tanya Irwansyah dengan wajah yang terkejut.
"Mama juga ingin ikut. Karena ini adalah kesalahpahaman di masa lalu dan berlanjut sampai sekarang," jawab Mama Fatonah.
__ADS_1
Mereka bertiga pun akhirnya pergi ke rumah sakit untuk menemui Baharudin. Saat dalam perjalanan, Mama Fatonah bilang kalau tadi ada polisi yang datang ke rumah dan membawakan Tante Rose bersama mereka.
"Rose ditangkap polisi dengan tuduhan termasuk pemalsuan informasi data untuk pengambilan uang Mama yang ada di bank. Penipuan jual perhiasan imitasi, dan percobaan pembunuhan terhadap Rela," jelas Mama Fatonah.
"Apa saat itu anak-anak terbangun?" tanya Irwansyah karena dia takut kalau kejadian itu mempengaruhi psikologis kedua anaknya.
"Tidak. Mereka tadi masih tidur dan kini Azizah sedang menjaga mereka," jawab Mama Fatonah.
Irwansyah dan Satria merasa tenang. Soalnya memori anak-anak begitu kuat. Mereka takut kalau aksi penangkapan Tante Rose tadi bekas dalam ingatan mereka.
***
Baharudin menatap nyalang kepada Mama Fatonah dan juga Irwansyah. Terlihat jelas dari raut wajahnya ketidaksukaannya terhadap dua orang itu.
"Baharudin?" panggil Mama Fatonah. Namun, laki-laki itu tidak merespon di panggilan itu.
"Kenapa kamu berbuat seperti itu terhadap keluarga kami?" tanya Mama Fatonah.
__ADS_1
"Karena kamu adalah orang yang sepantasnya mati saat kejadian kebakaran di perusahaan pabrik kertas dulu. Bukan ayahku yang selama hidupnya mengabdikan diri kepadamu," jawab Baharudin.
"Asal kamu tahu saja, kalau ayahmu sudah berbuat curang terhadap perusahaan milik Mama Fatonah," kata Satria.
Baik Irwansyah, Mama Fatonah dan Baharudin terkejut. Mereka kini menatap ke arah Satria.
"Aku mencari informasi tentang dunia bisnis pada era saat itu dan kebetulan Papa tahu semuanya," jelas Satria.
"Maksudnya, Kakak?" Irwansyah bertanya.
"Saat itu terjadi perbincangan di kalangan para pengusaha. Karena pengusaha terkenal yang meninggal dan memiliki banyak cabang anak perusahaan harus mengalami kebangkrutan di tangan seorang wali sang pewaris. Mereka menjual perusahaan itu hanya untuk memenuhi kepuasan gaya hidup yang glamor. Ayah salah seorang yang membeli perkebunan karet dan perkebunan teh beserta pabriknya," jawab Satria dan Hal ini baru diketahui oleh Mama Fathonah.
"Seharusnya Ayah kamulah yang dipenjara, karena sudah melakukan pengalaman uang perusahaan. selain itu Ayah kamu juga terlibat dengan pemalsuan data pajak kepada pemerintah," tambah Satria.
"Aneh sekali, keluarga seorang penjahat balas dendam terhadap keluarga korbannya. Kamu dan ayahmu sama-sama tidak tahu diri," ucap Satria.
"Sejak kapan kakak tahu semua ini? tanya Irwansyah.
__ADS_1
***
Kira-kira jawaban apa yang akan diberikan oleh Satria? Tunggu kelanjutannya, ya!