Bukan Istana Impian

Bukan Istana Impian
Bab 12. Rela Sakit


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan lupa untuk kasih like, komentar, dan bintang 5. Semoga hari ini kalian bahagia dan dimudahkan rezekinya.


***


Bab 12


     Setiap peristiwa atau masalah yang menimpa kita pasti ada hikmah atau pelajaran yang bisa kita ambil. Begitu juga dengan kejadian yang sudah dialami oleh Azizah. Dia sekarang lebih berhati-hati dan menanyakan kepada semua anggota keluarga tentang alergi atau makanan yang tidak mereka suka. 


     Ternyata Mama Fathonah tidak suka dengan makanan yang berbau tajam seperti Pete, jengkol, durian, cempedak, dan nangka. Irwansyah sendiri tidak punya keluhan dalam makanan, tetapi dia punya masalah saat pergantian musim, biasanya demam sehari atau dua hari. Ukasyah dan Oliv memiliki tubuh yang kuat seperti Rela. Mereka tidak punya riwayat alergi baik dalam makanan dan cuaca.


"Abang, saat aku dalam penjara tadi. Aku berpikir kalau apa yang kita perbuat untuk orang lain, meski niat kita baik, belum tentu itu baik bagi orang lain," ucap Azizah yang kini berada dalam pelukan suaminya.


"Namun, jika kita niatkan karena Allah, semua akan berakhir baik. Meski usaha kita tidak dihargai atau tidak ada nilainya bagi orang lain," lanjut Irwansyah sambil mengusap rambut Azizah.


"Aku juga tadi sempat berpikir tidak akan bisa melihat, memeluk, dan melayani Abang lagi karena dipenjara. Padahal semua itu adalah hal yang aku sukai," aku Azizah.


"Abang selalu berdoa agar kita tidak berpisah dan selalu bersama. Kamu tidak tahu Ukasyah dan Oliv menangis mengadu kepada Allah. Mereka meminta agar Allah mengeluarkan Ibu Azizah dari penjara. Aku, Rela, dan mama tidak bisa menenangkan mereka sampai, sampai aku bilang akan mengeluarkan kamu meski harus menggunakan jasa pengacara. Mereka tahu kalau pengacara itu orang yang bisa mengeluarkan seseorang dari penjara. Entah dari mana mereka bisa berpikir begitu," ujar Irwansyah sambil terkekeh teringat kejadian tadi siang.


"Benarkah? Ini pasti gara-gara sinetron di televisi. Mama dan Tante Rose itu suka heboh jika sedang nonton televisi. Mungkin mereka tahu dari sana," ucap Azizah yang ikut tertawa kecil.


"Mungkin saja. Padahal dulu mereka itu jarang nonton televisi, karena Rela tidak suka anak-anaknya menghabiskan waktu untuk hal seperti itu. Biasanya anak-anak bermain sesuatu yang mengasah otak dan badannya agar aktif. Ini sudah malam, sebaiknya kita cepat tidur." Irwansyah pun memberikan ciuman di kepala Azizah. Sementara Azizah, lebih suka memberikan ciuman di bibir Irwansyah.


***


     Rela merasakan tidak enak badan, pusing dan tubuhnya merasa lemas. Mau menghubungi Irwansyah, dirinya merasa tidak enak pada Azizah karena malam ini giliran madunya yang mendapat jatah tidur bersama suaminya.


     Baru sekarang Rela merasakan sedih saat dirinya sakit, tetapi tidak ada suami yang berada di sisinya. Selama ini dia selalu mendapat perhatian penuh dari Irwansyah. Jika, dirinya bersin lebih dari tiga kali saja, suaminya langsung membuatkan air madu dan lemon. Takut dirinya terkena sakit flu. Bahkan melarangnya pergi ke butik. Namun, sekarang tidak ada dia disisinya. Rela hanya bisa meneteskan air mata, menangis dalam diam.


"Ya Allah, semoga keputusan aku itu tidak membuat diriku menyesal." Rela menghapus air mata yang tidak henti-hentinya keluar dari netranya yang kini terlihat sayu.


***


     Setelah Subuh biasanya Rela sudah mengerjakan pekerjaan rumah. Namun, sekarang sudah hampir jam 6:00:00 belum terlihat keluar dari kamarnya.

__ADS_1


"Irwan, Rela belum terlihat keluar dari kamar," kata Mama Fatonah.


"Apa? Biar aku lihat dulu ke kamar," ujar Irwansyah sambil menuju lantai atas.


"Bagaimanapun poligami itu tidak akan bisa berbuat adil," sindir Tante Rose yang duduk sambil menonton televisi.


     Mama Fatonah tidak menghiraukan ucapan Tante Rose. Dia pergi ke dapur mengambil alat smart vacum cleaner di lemari perkakas kebersihan.


"Loh, Mama. Ke mana Mbak Rela? Kenapa tidak kelihatan?" tanya Azizah yang sedang membuat sarapan.


"Sepertinya Rela sedang tidak enak badan atau entah kenapa, karena dia belum turun juga. Kaki mama sering tidak kuat jika naik turun anak tangga," jawab Mama Fatonah.


"Semoga saja Mbak Rela baik-baik saja," kata Azizah.


***


     Irwansyah masuk ke kamar Rela, terlihat kalau istri pertamanya itu sedang berbaring di atas tempat tidur dan berselimut. Irwansyah pun berjalan mendekat dengan cepaf. Dia takut terjadi sesuatu kepada wanita yang dicintainya itu.


"Sayang, kenapa?" tanya Irwansyah dan tangannya terulur pada kening Rela.


"Bang," gumam Rela dengan sangat pelan, hampir tidak terdengar.


"Iya, Sayang. Abang di sini." Irwansyah menyentuh tangan Rela yang juga terasa panas.


"Minum obat dulu, ya!" titah Irwansyah pada Rela.


"Lemas," lirih Rela yang kini matanya terbuka sedikit.


"Makan dulu, ya. Baru minum obat," kata laki-laki yang kini menciumi tangan Rela. 


     Hati Irwansyah selalu ikut sakit ketika melihat Rela sedang sakit. Untungnya Rela bukan orang yang rewel atau suka mengeluh saat sedang sakit.


"Tunggu, Abang minta mama buatkan bubur untuk kamu," ucap Irwansyah.

__ADS_1


     Tangan Rela langsung mencekal tangan Irwansyah. Dia tidak ingin suaminya itu pergi meninggalkan dirinya. Dia senang saat melihat suaminya berada di dekatnya saat ini.


"Jangan tinggalkan aku, Bang," bisik Rela dengan tatapan nanar.


"Tidak, Sayang. Abang akan kembali lagi setelah minta mama buatkan bubur untuk kamu," balas Irwansyah sambil mengusap pipi yang biasanya merona kini pucat.


"Tidak. Aku tidak mau Abang pergi. Tetap di sini, aku mohon," kata Rela dengan meneteskan air mata.


"Mana mungkin abang akan pergi meninggalkan kamu. Abang tidak akan kemana-mana, hanya ke lantai bawah. Lalu, kembali lagi ke sini. Bahkan abang juga tidak akan pergi ke toko. Seharian ini abang yang akan mengurus kamu," tukas Irwansyah.


***


"Rela kenapa?" tanya Mama Fatonah begitu melihat Irwansyah turun bersama kedua anaknya.


"Rela sakit, Ma," jawab Irwansyah.


"Apa? Sakit apa dia?" tanya Mama Fatonah panik.


"Demam. Tubuhnya panas dan lemas," jawab Irwansyah.


"Aku akan buatkan bubur untuk mbak Rela," ucap Azizah dan segera mengambil panci kecil untuk membuat bubur.


"Kok, Ayah tidak bilang kalau Bunda lagi sakit?" Ukasyah mengerutkan keningnya.


"Hari ini kamu ada ujian. Jadi, bunda ingin kamu fokus pada ujian. Nanti setelah pulang sekolah, baru kamu bisa menemani bunda," jelas Irwansyah.


     Melihat keharmonisan keluarga Irwansyah, Tante Rose merasa iri. Dia merasa diperlakukan beda oleh keluarga kakak sepupunya itu.


'Dasar orang-orang tidak punya perasaan. Kalian semua egois. Hanya peduli pada penghuni rumah ini saja. Sedangkan aku, kalian abaikan,' batin Tante Rose.


***


Akankah Tante Rose berbuat ulah agar mendapatkan perhatian dari keluarga Irwansyah? Tunggu kelanjutannya, ya!

__ADS_1


Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh. Kepoin novelnya.



__ADS_2