Bukan Istana Impian

Bukan Istana Impian
Bab 21. Merasa Tak Dianggap


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan lupa untuk selalu kasih like, komentar, dan bintang 5. Semoga hari ini kalian bahagia dan dimudahkan rezekinya.


***


Bab 21


Hati Azizah terasa disayat sembilu saat mendengar apa yang dikatakan oleh ibu mertuanya. Selama ini dia selalu berbuat yang terbaik sebisa mungkin. Dirinya tidak pernah mengeluh atau berpikiran buruk pada wanita yang sudah mengandung dan melahirkan suaminya. Dia terima semua ucapan dan perintah Mama Fatonah tanpa bantahan. Meski dirinya dalam keadaan lelah atau sibuk, dia akan mengutamakan keinginan mertuanya. Meski begitu, ternyata semua usahanya tidak mendapatkan balasan sesuai yang dia harapkan. Dirinya sudah tahu sejak awal, kalau Mama Fatonah tidak setuju dengan pernikahannya dengan Irwansyah. 


Azizah merasa senang saat mendapatkan perhatian dari mertuanya belakangan ini. Dia merasa kalau dirinya sudah diterima sebagai menantu. Ternyata itu hanya angannya saja. Nyatanya sampai saat ini mertuanya belum bisa menerima dirinya sebagai menantu.


Air mata Azizah meluncur dengan deras, sampai dia mengigit bibir bawahnya agar suara isak tangisnya tidak terdengar oleh orang lain. Jilbab panjangnya basah karena dipakai untuk menghapus air matanya.


"Ya Allah, kuatkan lah diriku ini," lirih Azizah, lalu dia membasuh wajahnya agar lebih segar dan mengurangi bengkak di mukanya.


Setelah selesai berganti baju, Azizah pun membuat bubur sumsum untuk Rela. Dia harap kakak madunya itu mau memakan bubur buatannya.


***


"Ma, aku buatkan bubur untuk Mbak Rela," kata Azizah setelah membuka pintu kamar.


Mama Fatonah diam saja tidak menyahut ucapan dari Azizah. Membuat wanita berjilbab biru itu diam mematung.


"Taruh saja di atas meja, nanti saat Rela bangun biar langsung dimakan olehnya," perintah Irwansyah dan Azizah pun bergerak.


Azizah mendekati Rela setelah menyimpan bubur tadi di meja yang dekat ranjang. 


"Apa keadaan Mbak Rela sudah membaik?" tanya Azizah sambil menyentuh kening wanita yang sedang memejamkan matanya.


"Ya. Dia baik-baik saja, kamu jangan khawatir. Sebaiknya kamu istirahat saja dulu sebelum waktu Zuhur," ujar Irwansyah.


"Aku juga ingin ikut menjaga Mbak Rela. Izinkan aku untuk melakukannya," pinta Azizah.


"Baiklah kalau begitu," Irwansyah pun beranjak dari samping Rela. Dia niatnya mau mencari kursi lainnya untuk mereka duduk.


Namun, Mama Fatonah yang sedang kesal pada Irwansyah dan Azizah, memutuskan pergi dari kamar itu. Dia semakin tidak respek pada Azizah yang menurutnya sudah merusak kebahagiaan keluarga anak dan menantunya.


"Mama marah, ya?" Terlihat wajah sendu milik Azizah.

__ADS_1


"Mama sedang jelek moodnya, nanti juga akan biasa kembali," kata Irwansyah dengan senyum simpulnya.


"Bang, apa aku berhenti bekerja dan menemani Mbak Rela di rumah?" tanya Azizah dengan lirih.


"Apa yang kamu pikirkan? Apa kamu tidak suka mengajar di PAUD AL-HUDA?" Irwansyah merasa kecewa jika istri mudanya berhenti bekerja karena merasa bersalah pada istri pertama.


"Tidak. Hanya saja, jika aku ada di rumah, itu bisa menemani Mbak Rela dan kalau ada apa-apa juga aku bisa membantunya," balas Azizah.


"Terima kasih, Iza. Kamu begitu baik dan selalu memikirkan orang lain. Tapi, kamu juga harus memikirkan apa yang bisa membuat kamu bahagia," jelas Irwansyah sambil memegang kedua tangan Azizah.


"Bagiku, berada di dekat Abang itu sudah membuat aku bahagia," aku Azizah jujur.


"Terima kasih, semoga kita selalu bersama sampai maut memisahkan," ucap Irwansyah dan membuat Azizah sangat bahagia.


Rasanya Azizah ingin berteriak mengungkapkan perasaan bahagianya saat ini. Tetapi semua itu tidak akan mungkin dia lakukan. sekarang ini. Terlebih lagi ada kakak madunya di sana. Jadinya, dia hanya memberikan kecupan singkat pada bibir suaminya.


Tanpa mereka tahu kalau semua pembicaraan barusan itu didengarkan oleh Rela yang sedang berpura-pura tidur. Hati Rela terasa sesak. Dia tidak ingin dikasihani oleh Azizah, apalagi jika sampai adik madunya berhenti bekerja gara-gara dirinya.


'Ya Allah, sesulit dan semenyakitkan inikah untuk belajar ikhlas dalam berpoligami?' tanya Rela dalam hatinya.


'Iman aku masih lemah dan sering disisipi rasa cemburu.'


***


Saat sore hari Rela meminta Santi untuk datang ke rumahnya. Meski terlihat muka lelah menghiasi paras cantiknya. Sang asisten itu datang dengan membawa bubur kacang ijo kesukaan bosnya.


"Alhamdulillah, nikmat banget, San," kata Rela setelah menghabiskan bubur itu.


"Lebih terasa nikmat, karena Bu Bos makannya sambil ditemani sama aku," balas Santi dengan jiwa percaya dirinya level akut.


Rela pun tertawa geli melihat ke narsisan anak buahnya itu.


"San, kamu tinggal di sini, ya? Temani aku," pinta Rela.


"Apa? Ih, nggak mau. Mending aku tinggal di rumahku … surgaku. Meski tidak sebagus rumah ini, tetapi kenyamanan rumah orang tuaku nomor satu. Hotel bintang lima saja kalah," ujar Santi dengan gayanya seperti anak TK yang selalu bikin Rela gemas dan tertawa. 


"Sombong …!" balas Rela.

__ADS_1


"Bukan. Ini sindiran," ujar Santi spontan dan polos. Rela malah tertawa semakin kencang.


"Ada apa, sih? Kayaknya seru banget." Tiba-tiba saja Mama Fatonah masuk ke kamar itu.


"Ini, Ma. Santi dari tadi melucu terus," ujar Rela sambil mengusap air mata di sudut matanya.


"Nggak kok, Oma. Saya tidak melucu, Bu Rela saja yang merasa itu lucu," bantah Santi.


Ketiga perempuan beda generasi itu pun berbincang-bincang sambil tertawa terkekeh. Baik Rela maupun Mama Fatonah merasa terhibur dengan adanya gadis itu.


"Pantas ramai sekali. Ada Santi rupanya," kata Irwansyah yang baru masuk.


Terlihat kalau laki-laki itu baru saja selesai mandi. Penampilannya yang segar dan wangi sabun menguar dari tubuhnya. Keempat orang itu pun menghabiskan waktu dengan berbincang-bincang tentang liburan yang pernah mereka alami dahulu.


"Beneran itu, San?" tanya Rela.


"Ish, nggak percaya banget. Itu jembatan gantung dari kayu dan kalau ada angin kencang akan bergoyang-goyang jembatannya. Waktu itu aku berdiri pas ditengah-tengah ada angin kencang. Otomatis aku berteriak minta tolong karena takut sampai rasanya ingin pipis. Mana di bawahnya itu sungai yang sangat besar dan deras aliran airnya," jelas Santi menggebu-gebu bercerita.


"Di sungai itu ada buayanya nggak?" tanya Mama Fatonah sambil mengusap-usap kedua lengannya.


"Setahu aku adanya biawak. Banyak dan besar-besar, Oma," jawab Santi.


"Ternyata ingin datang ke tempat indah itu butuh perjuangan, ya," ucap Rela yang masih tertawa kecil.


Di luar pintu ada Azizah yang berdiri mematung. Dia ingin sekali ikut bergabung ke dalam dan berbincang-bincang bersama mereka. Namun, dia takut dengan kehadirannya di sana malah mengacaukan suasana di dalam kamar. Terlebih lagi Mama Fatonah yang jelas-jelas tidak suka berdekatan dengannya, pasti akan pergi keluar lagi.


"Kenapa?" tanya Tante Rose dengan sinis.


Azizah melirik ke arah wanita yang memakai daster sepaha. Sudah jelas-jelas kalau Irwansyah melarang memakai baju yang seperti itu. Seolah wanita ini menantang kepala keluarga di rumah ini.


"Kenapa Tante Rose memakai baju ini lagi? Bukannya bang Irwan sudah memberikan peringatan kepada Tante kemarin," ujar Azizah mengalihkan perhatian.


"Suka-suka aku, dong! Yang penting aku tidak memakai baju ini saat keluar rumah. Dasar Pelakor Mandul!" balas Tante Rose, lalu pergi meninggalkan Azizah.


***


Akankah Azizah bertahan dengan rumah tangga yang seperti ini? Atau dia memilih pergi? Tunggu kelanjutannya, ya!

__ADS_1


Sambil menunggu up bab berikutnya, yuk baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan seru. Cus meluncur ke novelnya.



__ADS_2