Bukan Istana Impian

Bukan Istana Impian
Bab 24. Merasa Sendirian


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan lupa untuk selalu kasih like, komentar, dan bintang 5. Semoga hari kalian menyenangkan dan bahagia selalu.


***


Bab 24


Saat Rela hendak membantu Azizah memasak Irwansyah melarangnya. Dia menyuruh istri pertamanya untuk istirahat dan duduk manis. Dia bilang kalau dia yang akan membantu istri keduanya memasak.


Kini Irwansyah sedang memasak dengan Azizah. Mereka membuat sayup sop sesuai keinginan Mama Fatonah tadi. Irwansyah memasak sop dan Azizah menggoreng daging ayam dan tempe.


"Sambil menunggu sayur sop matang, aku akan membuat sambal," kata Irwansyah.


"Agar-agar pudingnya juga sudah selesai dan dingin. Aku akan menyimpannya di dalam kulkas dulu," ucap Azizah sambil berjalan ke arah lemari es.


Irwansyah pun mengulek sambal dengan cepat karena dia punya kekuatan yang jauh lebih besar dibandingkan dengan Azizah. Sambal pun sudah jadi dan dia memindahkan ke mangkuk yang berukuran sangat kecil.


"Semua sudah beres tinggal menunggu sayuran di dalam sop ini empuk," ucap Irwansyah.


Dia tahu mamanya itu suka dengan sayuran yang benar-benar masak. Tidak suka dengan yang setengah matang, apalagi yang masih mentah.


"Coba rasakan ini kurang apa?" tanya Irwansyah kepada Azizah sambil menyodorkan satu sendok kuah sayur sop yang sedang dibuatnya.


Azizah pun mencoba mencicipi kuahnya. Ternyata rasanya sudah pas dan enak. Maka, dia pun mengacungkan jempol tangannya kepada Irwansyah.


Kedua orang itu pun saling melempar senyum satu sama lain. Azizah maju dua langkah kakinya ke arah Irwansyah. Lalu, menjinjitkan kedua kakinya dan mengecup bibir suaminya.


Senyum cantik pun langsung menghiasi wajah Azizah karena merasa senang saat suaminya membelas ciuman dia. Keduanya tidak menyadari kalau Rela sejak tadi berdiri bersandar di kusen pintu dapur.


Rela merasakan cemburu di dalam hatinya, saat melihat suami dan istri keduanya bermesraan sambil memasak di dapur. Mereka sangat menikmati kebersamaannya itu.


'Inikah alasan kamu melarang aku untuk membantu memasak tadi,' batin Rela.


Rela pun memilih untuk pergi dari sana dan kembali ke dalam kamarnya. Tanpa dia minta air matanya pun tiba-tiba meleleh membasahi pipi mulusnya.


'Ya Allah, kenapa aku masih saja selalu cemburu saat melihat kemesraan mereka berdua?' batin Rela.


Rela merasakan sakit di perutnya kembali. Maka, dia pun mengusap-usap perutnya itu dan membalur dengan menggunakan minyak telon untuk mengurangi rasa sakitnya.

__ADS_1


"Sayang, ayo kita makan siang bersama!" Irwansyah pun masuk ke dalam kamar, dia mengajak Rela untuk makan bersama.


Saat Irwansyah hendak menyentuh lengannya, wanita itu menepis dan memilih berjalan sendiri ke ruang makan itu. Dia merasa kalau istri pertamanya sedang merajuk.


"Kenapa mereka saling bergantian mood dalam mode merajuk seperti ini," ujar Irwansyah dan berjalan mengikuti Rela.


***


Malam ini giliran Irwansyah tidur bersama Azizah. Namun, dia masih saja ikutan berbaring bersama kedua anaknya yang rebutan ingin memeluk ibu mereka.


"Ayah, minggir! Aku juga mau tidur sambil memeluk Bunda," ujar Oliv merengek.


"Tidak mau, Ayah juga ingin tidur sambil memeluk Bunda," ucap Irwansyah.


Oliv pun menangis karena dia ingin tidur sambil memeluk ibunya, tetapi ayah dan kakaknya tidak memberikan dia tempat. Rela pun mencoba menenangkan putrinya dengan menarik ke dalam pelukan dia.


"Anak Bunda, kok, nangis!" ucap Rela sambil menguasai mengusap kepala Oliv.


"Adik juga ingin tidur sambil memeluk Bunda, karena adik juga sangat sayang pada Bunda dan adik bayi," balas Oliv.


"Ngusir, nih, ceritanya!" Irwansyah memasang wajah kecewa karena tidak mau meninggalkan istrinya yang sedang hamil.


"Bukan, Bang. Tapi malam ini jatah Azizah untuk tidur bersama Abang. Kasihan dia pasti sedang menunggu Abang untuk tidur di sana," ucap Rela.


"Ya, sudah. Tapi, kalau ada apa-apa, kamu harus langsung menghubungi abang, ya!" pinta Irwansyah sambil memberikan kecupan di kening Rela, Oliv, dan Ukasyah secara bergantian.


***


Irwansyah pun mau masuk di kamar Azizah. Terlihat istri mudanya itu sudah memakai pakaian dinas malam. Itu artinya kalau dia sedang menginginkan dirinya malam ini.


"Aku senang Abang datang malam ini ke kamar aku," kata Azizah dengan senyum yang menggoda.


"Sebisa mungkin aku berusaha untuk bisa berbuat adil kepada kalian berdua," balas Irwansyah dan senyuman istrinya.


Irwansyah sangat senang pada kedua istrinya. Mereka itu selalu aktif saat mereka bercinta. Selain itu mereka juga tidak malu saat menginginkan sentuhan dirinya. Baik Rela maupun Azizah selalu menggoda terlebih dahulu dirinya.


Malam ini pun, Irwansyah dan Azizah bersama-sama mengarungi kenikmatan surga dunia sampai merasa puas. Entah berapa lama mereka melakukan hal ini, yang jelas saat ini sudah tengah malam.

__ADS_1


"Terima kasih, Bang. Aku merasakan kebahagiaan jika berada di samping Abang seperti saat ini," kata Azizah yang memeluk tubuh suaminya.


"Abang juga selalu merasa bahagia jika ada kamu di samping Abang. Jangan menangis terus," ucap Irwansyah sambil membelai pipi Azizah.


"Iya, Bang." Azizah pun tersenyum malu-malu karena belakangan ini dia sering sekali menangis. Dia baru syukur mempunyai suami seperti Irwansyah yang selalu mengerti akan dirinya.


***


Sementara itu, Rela tidak bisa tidur. Entah bawaan bayi atau apa, dia bisa tidur jika memeluk suaminya. Meski dia sudah memeluk kedua anaknya, tetap saja dirinya tidak bisa tidur.


Rela pun bangun dan duduk di dekat jendela kaca. Dia melihat bulan yang tidak bulat sempurna karena belum pertengahan bulan. Hanya ada bulan saja, tanpa adanya bintang sama sekali. Melihat itu, dirinya merasa sedih seakan saat ini hanya ada dirinya seorang diri tidak ada yang lainnya.


"Sepi ... ada orang lain, tapi terasa sedang sendirian," gumam Rela.


Pintu kamar pun terbuka dan Rela menolehkan kepalanya ke arah sana. Terlihat suaminya yang sudah membuka pintu.


"Sayang, kenapa belum tidur?" tanya Irwansyah berjalan menghampiri istri pertama.


"Baru bangun," balas Rela berbohong. Kini dia jadi suka berbohong pada suaminya, demi penjaga perasaan semua orang.


"Kenapa tidak lanjut tidur lagi?" Irwansyah memeluk tubuh Rela dari belakang dan mengelus pelan perut yang sudah membesar itu.


"Sedang ingin melihat langit malam," balas Rela dengan mata yang terpejam. Kini rasa kantuk mulai menguasai dirinya. Dia merasakan kenyamanan dalam pelukan suaminya. Kalau bisa egois, dia ingin Irwansyah tidur bersamanya malam ini.


"Sayang," panggil Irwansyah dan Rela diam saja. Dia pun membelai kepala istrinya dengan lembut. Terlihat napas Rela yang tenang layaknya seorang sedang tidur.


"Pasti kamu tidak bisa tidur," gumam Irwansyah, lalu membopong tubuh Rela.


"Kembalilah pada Azizah, jangan pedulikan aku," ucap Rela dan membuat Irwansyah terkejut.


***


Hidup berpoligami tidak selamanya membawa kedukaan, kadang membawa pada kebahagiaan. Jika, istri tua dan istri muda sama-sama kompak dan tidak mencintai suami dengan cara yang berlebihan. Secukupnya saja, biar tidak mudah sakit hati.


Sambil menunggu up bab berikutnya, yuk baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh. Cus meluncur ke karyanya.


__ADS_1


__ADS_2