
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Jangan lupa untuk selalu kasih like, komentar, dan bintang 5. Semoga hari ini kalian bahagia dan dimudahkan rezekinya.
***
Bab 49
Masih Flashback
Ukasyah, Oliv, dan Santi masih berbicara. Ketiganya sedang membicarakan masalah yang ingin diketahui oleh Rela, kenapa anak-anaknya menjadi benci pada Azizah.
"Memang apa yang kalian dengar dan lihat?" tanya Santi.
"Ibu Azizah memasukan obat pencahar pada makanan bunda dan oma. Gara-gara itu bunda dan oma masuk rumah sakit. Bunda dan oma sakit karena diberi makanan yang diberikan oleh ibu Azizah." Ukasyah bicara dengan lirih.
Santi pun menyentuh pundak anak laki-laki itu. Dia tahu kalau Ukasyah sangat kecewa pada Azizah saat ini.
"Oma Rose juga bilang seperti itu. Gara-gara ibu Azizah, bunda dan oma menjadi sakit," lanjut Oliv.
"Memangnya oma Rose bilang apa?" tanya Santi mulai mengorek lagi informasi.
"Ibu Azizah itu jahat sama bunda dan oma karena ingin mengambil ayah dan semua harta ayah. Makanya ibu Azizah ingin membunuh bunda dan oma." Ukasyah mengepalkan tangannya. Terlihat kalau dia sangat marah saat ini.
"Itu tidak benar. Ada yang mau memfitnah ibu Azizah," ucap Santi.
Ukasyah dan Oliv terperangah mendengar perkataan Santi barusan. Kedua anak itu saling melirik menjadi bingung sekarang.
"Dengarkan aku, ya. Bunda itu paling tidak suka kalau kalian punya pikiran buruk pada orang lain. Ibu Azizah itu tidak jahat, dia orang yang baik. Coba ingat-ingat sama kalian kapan ibu Azizah jahat sama kalian?"
Kedua anak kecil itu pun terdiam, mereka mengingat-ingat kembali dan memang dalam ingatan mereka kalau ibu sambung itu tidak jahat. Lalu, keduanya memeluk tubuh Santi sambil menangis terisak.
"Kalian harus minta pada ibu Azizah. Dia sedih, loh. Karena tadi kalian bilang begitu padanya."
"Apa ibu Azizah akan memaafkan kita?" tanya Ukasyah.
__ADS_1
"Ya, tentu saja. Karena dia orang baik," jawab Santi.
"Yuk, Dek. Kita minta maaf sama Ibu," ajak Ukasyah pada Oliv dan adiknya pun mengangguk.
Saat mereka berjalan ke luar kamar, Santi melihat ada Irwansyah sedang berdiri di dekat pintu. Dia pun menghentikan langkahnya.
"Apa ada yang mau Bapak bicarakan dengan aku?" tanya Santi.
"Iya." Irwansyah menjawab dengan pelan tidak bersemangat.
Santi pun meminta Ukasyah dan Oliv ke kamar Azizah berdua saja. Sebab, dirinya mau membicarakan sesuatu yang penting dahulu.
Irwansyah dan Santi duduk di ruang tamu yang ada di lantai bawah. Keduanya duduk bersebrangan terhalang oleh meja.
"Terima kasih, sudah membuat anak-anak mengerti akan perbuatannya itu sudah melukai perasaan Azizah."
"Sama-sama, Pak."
"Apa kamu ke sini atas suruhan Rela?"
"Apa Rela sangat marah sekali padaku, saat malam kejadian itu?"
"Bapak itu seharusnya yang paling tahu keadaan ibu. Saat malam itu perut dia sakit sampai ibu tidak bisa bangun. Dia awalnya mengira akan melahirkan, tetapi rasa sakitnya berbeda dengan saat melahirkan Ukasyah ataupun saat melahirkan Oliv. Dia pun mencoba menghubungi bapak dan nomor tidak aktif, begitu juga saat aku mencoba menghubungi nomor Azizah sama tidak aktif juga. Aku takutnya ibu mau melahirkan malam itu. Ternyata itu kontraksi palsu dan …." Santi terdiam.
"Dan, apa?" tanya Irwansyah.
'Mana mungkin aku bilang gara-gara obat pencahar itu, ibu jadi punya penyakit. Bagaimana jika memang Azizah adalah pelakunya?' batin Santi.
"Sudah magrib aku harus pulang," balas Santi beralasan.
"Sholat di sini saja. Masih banyak yang ingin aku tanyakan."
***
__ADS_1
Setelah makan malam Irwansyah menahan Santi karena ingin membicarakan sesuatu. Anak-anak juga malah diam di ruang keluarga, belum menemui Azizah. Mereka ingin di temani oleh Irwansyah.
"Aku merasa kalau Rela sudah menyembunyikan sesuatu dariku," kata Irwansyah melanjutkan pembicaraan mereka yang terpotong tadi.
"Mungkin Bu Rela tidak ingin memberi tahu hal itu sama Bapak, semua demi kebaikan Bapak dan ibu."
"Tapi, ini justru membuat aku terus kepikiran."
"Temukan pelaku sebenarnya yang sudah memberikan obat pencahar itu pada makanan ibu dan oma. Dengan begitu semua akan kembali dalam keadaan baik-baik lagi."
"Maksud kamu?"
"Bapak tahu kalau Azizah punya obat pencahar, tetapi tidak bilang itu pada ibu Rela. Ini yang menjadi dasar kenapa Ibu sampai memutuskan pergi sementara waktu."
"Itu karena aku yakin kalau Azizah bukan pelakunya."
"Tidak ada yang menyaksikan siapa orang yang sudah memasukan obat itu ke dalam makanan, iya, 'kan? Sedangkan Azizah punya barang bukti. Ibu sangat kecewa pada Bapak. Bapak tahu Azizah punya obat itu, tapi menutupi hal ini dari ibu dan oma. Seakan sengaja menyembunyikan ini agar Azizah terhindar dari prasangka orang-orang. Seandainya, kalian bertiga membicarakan hal ini terlebih dahulu mungkin tidak seperti ini. Bapak juga, 'kan? Yang sudah membuang botol itu dan akhirnya ketemu oleh ibu dan oma."
"Iya."
"Nah, gara-gara ini. Coba kalau sejak awal ibu diberi tahu soal botol itu milik Azizah. Tidak akan begini ceritanya. Jadi, ibu dan oma tidak akan punya pikiran jahat padanya Azizah."
"Apa benar dengan menangkap pelaku asli hubungan keluarga kami akan baik kembali?" tanya Irwansyah.
"Insha Allah. Itu kembali tergantung keinginan kalian."
"Lalu, mengenai Rela yang pergi, pasti ada hal yang lainnya, 'kan?"
'Mati aku. Tolong aku, Bu Rela!' Santi menjerit dalam hatinya.
***
Akankah Irwansyah tahu siapa pelakunya? Apa motif dia melakukan hal itu? Tunggu kelanjutannya, ya!
__ADS_1
Sambil menunggu up bab berikutnya, yuk baca karya teman aku ini. Seru dan bagus ceritanya, loh. Cus meluncur ke karyanya.