
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan lupa untuk selalu kasih like, komentar, dan bintang 5. Semoga hari ini kalian bahagia dan dimudahkan rezekinya.
***
Bab 16
Memiliki dua orang istri tidaklah mudah. Kita harus bisa membagi waktu, perhatian, cinta, dan juga materi. Memberikan nafkah lahir dan batin. Perhatian akan kondisinya jiwa dan fisiknya. Seperti saat ini yang dialami oleh Irwansyah. Istri pertama sedang hamil dan butuh perhatian ekstra darinya sedangkan istri kedua sedang terluka hati dan jiwanya atas perlakuan orang lain terhadapnya.
Dia harus pandai-pandai meluangkan waktu untuk memberikan perhatiannya kepada mereka. Jangan sampai ada yang merasa diabaikan.
"Sayang, cepat tidur, ya! Malam ini ada yang mau aku bicarakan dengan Azizah," kata Irwansyah sambil memeluk dan mengusap kepala Rela yang kini bersandar di dadanya.
"Kenapa? Apa sudah terjadi sesuatu kepada Azizah?" tanya Rela sambil mendongak menatap wajah suaminya.
"Iya. Dan saat ini dia sedang bersedih. Biarkan aku menghiburnya sampai dia tidur. Nanti aku akan kembali lagi ke sini," kata Irwansyah balik menatap muka sendu wanita yang dicintainya.
"Malam ini Abang tidur saja bersama Azizah," kata Rela meski agak berat, tetapi dia tidak boleh egois. Sudah satu minggu lebih Irwansyah tidur bersama dengannya. Bahkan dia sudah mengambil jatah waktu Azizah.
"Aku akan pergi setelah kamu tidur. Aku tahu kamu tidak bisa tidur, jika tidak memelukku dan aku mengusap-usap kepalamu," kata Irwansyah menggoda Rela dan membuat istri pertamanya malu.
Tidak sampai 15 menit, Rela sudah jatuh tertidur. Maka, Irwansyah pun pergi ke kamar Azizah yang ada di lantai satu.
***
Irwansyah masuk ke kamar istri keduanya dan mengunci pintu. Terlihat keadaan kamar kosong dan tidak lama kemudian Azizah keluar kamar dengan penampilannya yang seksi karena menggunakan lingerie yang transparan.
Terlihat Azizah yang tersenyum tersipu malu. Meski keadaan hati dan pikirannya tadi siang sempat kacau. Namun, setelah dia menumpahkan rasa kesedihan pada kedua orang tua dan suaminya, kini sudah terasa ringan bebannya.
"Aku kira kamu sedang menangis. Makanya, buru-buru ke sini," ucap Irwansyah menghela napas dan memberikan senyuman pada istrinya.
"Tadi kata Abang disuruh berhenti nangis dan harus tersenyum," balas Azizah menggerutu dan duduk di atas pangkuan suaminya.
"Aku senang, jika kamu tidak larut dalam kesedihan," kata Irwansyah dan membelai pipi Azizah yang semakin mulus dan glowing.
"Bukannya tadi Abang bilang kalau lebih suka melihat aku tersenyum dan tertawa dibandingkan melihat aku menangis," ucap Azizah yang kini mengalungkan kedua tangannya di leher kokoh Irwansyah.
__ADS_1
"Ya, itu benar. Makanya, kamu harus selalu bahagia dan tersenyum. Karena saat itu, kamu terlihat sangat cantik," puji Irwansyah dan membuat debaran jantung Azizah menggila.
Betapa bahagianya Azizah saat ini. Dia memberikan ciuman manis dan mesra pada Irwansyah. Rasa cinta Azizah untuk suaminya selalu bertambah dari hari ke harinya.
"Ada yang mau aku bicarakan," kata Irwansyah sambil terengah-engah karena hampir kehabisan oksigen gara-gara cumbuan Azizah.
"Apa itu, Bang?" tanya Azizah dengan napas yang memburu.
"Besok, datanglah ke sekolah PAUD Al-Huda. Tadi aku tanya pada kepala sekolah mengenai guru di sana. Katanya dia bersedia menerima kamu. Aku juga kebetulan kenal dengan ketua yayasannya juga. Dan dia pun menyetujui kamu untuk mengajar di sana," jawab Irwansyah.
Mendengar ucapan suaminya barusan membuat Azizah tidak mampu berkata apa-apa saking bahagianya dia. Air mata kebahagiaan kini yang keluar dari netranya.
"Terima kasih Abang! Kamu adalah suami terbaik di dunia ini!" pekik Azizah senang.
"Apa kamu senang?" tanya Irwansyah dengan senyum menawannya karena dia juga ikut merasakan kebahagiaan melihat senyum lebar Azizah.
"Sangat, sangat senang!" Azizah memberikan ciuman di seluruh wajah Irwansyah.
Malam itu pun keduanya mengarungi surga dunia yang belakangan ini jarang mereka lakukan karena Irwansyah harus menjaga Rela. Azizah yakin kalau di saat kita mendapatkan kesulitan pasti Allah akan memberikan jalan kemudahan untuk kita. Namun, sering kali kita mengeluh dan menyalahkan takdir sehingga kita tidak bisa menemukan jalan kemudahan itu.
"Dari suatu kejadian, pastinya akan ada hikmah yang bisa kita dapatkan. Kamu jangan jadi orang yang suka berputus asa," ucap Irwansyah dan memencet hidung istrinya.
***
Setelah memberikan kepuasan dan kesenangan pada Azizah. Dini harinya, Irwansyah memeriksa keadaan Rela. Terlihat istri pertamanya itu sedang duduk menatap ke arah jendela luar sedang melihat langit malam. Tidak ada bintang atau bulan karena langit sedang mendung tertutupi awan kelabu.
"Sayang, kenapa tidak tidur?" tanya Irwansyah sambil berjalan mendekati Rela.
"Tidur kok, Bang. Barusan aku terjaga," jawab Rela berbohong. Dia terbangun saat suaminya pergi tadi. Sejak itu dia belum tidur lagi.
Irwansyah pun membopong Rela untuk tidur kembali di atas tempat tidur. Setelah menyelimuti Rela, Irwansyah pun langsung memeluk tubuh istri pertamanya itu dan langsung jatuh tertidur karena kelelahan.
Rela bisa mencium jelas wangi sampo milik Azizah pada rambut suaminya. Dia sekarang tahu kenapa suaminya pergi mendatangi istri keduanya.
"Kamu, sedang ingin bercinta rupanya. Kenapa tidak minta sama aku? Apa aku kini tidak bisa memuaskan dirimu, Bang? Apa kamu lebih suka bercinta dengan Azizah dibandingkan dengan aku," kata Rela dengan lirih.
__ADS_1
"Wajar saja karena Azizah jauh lebih muda. Belum pernah melahirkan juga. Tenaganya juga pasti besar karena dia masih muda," lanjut Rela meracau.
Ada rasa sedih, sakit hati, dan iri. Apalagi saat melihat jejak-jejak cinta yang masih baru ditinggalkan oleh Azizah di tubuh suaminya.
***
Pagi harinya terlihat suasana hati Azizah dalam keadaan baik. Senyum dan nyanyian tentang cinta menghiasi hari Azizah hari ini.
'Kenapa lagi, dia? Bukannya kemarin menangis-nangis dalam pelukan Irwan. Tapi, sekarang dia bernyanyi dengan riang gembira,' batin Tante Rose.
"Azizah, mana sarapan untuk aku!" Suara Tante Rose membuat Azizah menghentikan kegiatan memasaknya.
"Itu di atas meja, Tante!" tunjuk Azizah pada kotak salad buah.
"Kali-kali aku dikasih puding buah-buahan, atau atau apa, dari bahan dasar buah. Bosen tahu dikasih salad buah terus tiap hari," kata Tante Rose sambil masang wajah sinis.
"Iya, Tante. Nanti aku akan beli bahan-bahan lainnya untuk pelengkap," balas Azizah. Dia tidak mau pagi harinya yang indah ini harus rusak gara-gara ocehan dari wanita yang suka cari-cari kesalahan padanya.
"Kamu itu kalau senggang buat saja sarapan sendiri. Apa kamu tidak lihat kalau Azizah itu tiap pagi sibuk? Sementara, kamu hanya diam menonton televisi," gerutu Mama Fatonah.
Mendapat balasan seperti itu dari kakak sepupunya membuat Tante Rose sakit hati. Dia memang tidak pernah mengerjakan pekerjaan rumah karena dia adalah seorang tamu di sini. Tidak sepantasnya jika seorang tamu disuruh untuk melakukan pekerjaan rumah layaknya pembantu.
"Aku ini tamu, Kak. Mana ada tamu disuruh-suruh layaknya pembantu," kata Tante Rose.
"Oh, pantas saja pikiran kamu seperti itu. Dulu saat keluarga kamu tinggal di rumah aku juga, kalian tidak mau melakukan pekerjaan. Semua aku yang lakukan," ujar Mama Fatonah.
'Ish, dasar tidak tahu diri! Sudah beruntung keluarga kami mau mengurusnya,' batin Tante Rose.
***
Apakah Azizah akan kerasan saat mengajar di sekolah barunya? Tunggu kelanjutannya, ya!
Sambil menunggu up bab berikutnya, yuk, baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh. Kepoin novelnya, Yuk!
__ADS_1