Bukan Istana Impian

Bukan Istana Impian
Bab 52. Membuntuti


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar tidak gagal paham akan alur ceritanya. Lalu, jangan lupa kasih like, komentar, dan bintang 5. Semoga hari ini kalian bahagia dan dimudahkan rezekinya.


***


Bab 52


Rela kini sudah tidak mengalami sakit lagi di perutnya. Dulu, rasanya sakit sekali bahkan dia tidak bisa menggerakkan badannya. Dokter yang menangani dirinya menggunakan obat herbal dan akupuntur karena Rela sedang hamil. 


"Dokter, apa aku sudah boleh pulang?" tanya Rela hampir setiap hari, seolah tidak ada bosannya.


"Belum, bisa. Sabar, ya, Bu. Ini demi kebaikan Ibu dan bayi yang ada di dalam kandungan," jawab dokter yang memiliki wajah oriental.


Dokter itu sering menatap lekat pada Rela dan hal ini yang sering mengganggu dirinya. Dia tidak suka jika ada laki-laki yang menatap dirinya dalam waktu lama, kecuali suaminya.


Satria yang melihat Rela sedang dalam mood buruk, akhirnya memutuskan mendekati mereka. Dia pun duduk di kursi yang ada di samping brankar. Tatapan matanya yang tajam melirik ke arah dokter.


Dokter itu pun undur diri setelah selesai memeriksa keadaan Rela. Dia juga selalu mendoakan kesehatan kepada Rela dan di aamiin kan oleh wanita itu.


"Dokter itu masih saja suka menatap aku seperti itu. Sudah tahu aku punya suami, tapi tatapannya bikin aku ingin menipuknya." Rela mengomel dan jika sudah seperti ini, Satria hanya nyengir saja.


"Aku sudah minta seseorang untuk mengawasi gerak-gerik Baharuddin," ucap Satria.


"Aku tidak menyangka kalau laki-laki itu punya hubungan dengan keluarga Mama Fatonah di masa lalu. Aku harus secepatnya pulang," ujar Rela.


"Coba suami kamu cerdik dan bisa diandalkan. Mungkin orang itu bisa dengan cepat dan mudah ditangkap," kata Satria.


"Jangankan Bang Irwan, aku yakin Mama Fatonah juga nggak akan tahu siapa Baharuddin ini," tukas Rela.


Kakak beradik itu saling menatap, mereka sebagai saudara kembar bisa saling memahami meski hanya lewat tatapan mata. Satria pun akhirnya mengalah dengan keinginan adiknya ini.


"Baiklah, aku akan memperpanjang tinggal di Indonesia dan membantu kamu dan keluarga suami kamu itu," kata Satria menyerah.

__ADS_1


"Terima kasih, kakakku yang baik." Rela memeluk leher Satria.


"Santi akan datang sebentar lagi. Dia yang akan menggantikan aku di sini untuk menemani kamu. Papa juga sebenarnya ingin ikut menjaga kamu di sini. Tapi, aku melarangnya." Satria berdiri dan melihat jam di pergelangan tangannya.


"Aku akan ke tempat Irwan satu jam lagi. Aku mau beli oleh-oleh untuk keponakan aku yang lucu." Satria berjalan ke arah sofa dan membereskan barang-barang miliknya yang berupa laptop dan handphone. Juga tas baju miliknya.


***


Irwansyah diam-diam mengikuti Tante Rose yang pergi menemui Baharuddin. Dia menyamar dengan menggunakan kacamata dan topi kupluk.


Tante Rose memasuki sebuah rumah sederhana yang ada di dekat perempatan kompleks perumahan. Daerah itu terkenal sepi karena para penghuni daerah itu rata-rata pekerja yang berangkat pagi dan pulang sore. Biasanya akan ramai kegiatan warga saat sore sampai selepas Isya. Untungnya pagar rumah itu dibiarkan terbuka, jadi Irwansyah bisa masuk ke pekarangan rumah itu. Dia mengendap-ngendap memasuki halaman rumah. Irwansyah melihat dari balik jendela kedua orang itu.


Tante Rose dan Baharuddin sedang duduk berhadapan. Mereka sedang memeriksa perhiasan-perhiasan yang ada di dalam kotak perhiasan yang sangat indah bentuknya. 


Irwansyah pun mengeluarkan handphone miliknya dan merekam kegiatan mereka. Dia juga menghubungkan rekaman itu ke handphone milik temannya.


"Kita punya untung besar. Bulan ini kita sudah menjual lebih dari seratus set," kata Baharuddin.


"Kenapa kamu selalu bersungut-sungut. Sudah aku suruh habisi saja dia," kata Baharuddin.


"Hei, ingat nggak! Gara-gara dulu salah sasaran kasih obat pencahar, korbannya malah Kak Fatonah dan Rela. Bukannya si Azizah. Dia malah baik-baik saja. Sedangkan mereka berdua masuk ke rumah sakit. Untung saja Rela tidak ke guguran, makin berabe jika itu sampai terjadi," ujar Tante Rose.


Sementara itu, di tempat Irwansyah berdiri, dia sangat terkejut karena target dari mereka itu sebenarnya adalah Azizah dan salah sasaran ke Rela dan Mama Fatonah.


'Tante, kenapa dia ingin menyakiti Azizah?' Irwansyah memegang kuat handphone miliknya.


"Memang wanita itu kuat sekali nasib keberuntungan dirinya."


"Benar, aku dengar dia dulu hampir menikah dengan laki-laki yang beberapa waktu tertangkap karena penggelapan pajak. Kalau dia menikah dengannya pasti akan mendapatkan gelar istri narapidana. Sekarang dia hidup enak. Bergelimang harta dan dibuatkan rumah mewah oleh Irwan. Enak benar dia, nggak bisa ngasih keturunan pada Irwan juga mendapatkan semua yang dia mau. Tapi, kelakuan sombongnya itu yang bikin aku muak."


"Aku juga mendengar kalau kehidupan keluarganya sekarang jauh lebih terjamin setelah Azizah menikah dengan Irwansyah."

__ADS_1


"Tentu saja. Irwansyah menambahkan uang bulanan padanya menjadi lima belas juta per bulan itu bersih hanya untuk keperluan dia saja. Karena uang belanja dan keperluan rumah beda lagi dananya."


"Itu karena dulu kamu minta uang jajan kamu ditambah, iya, 'kan?"


"Cuma satu juta. Mana cukup buat aku. Makanya aku mau ikut bisnis jual perhiasan set ini."


"Lumayan 'kan, keuntungan yang didapat dari jualan ini?" 


"Iya. Aku bisa mengumpulkan uang banyak dan ingin membeli rumah, lalu mobil, dan pergi liburan."


"Bekerja lebih keras lagi supaya bisa dapat uang yang banyak."


"Iya. Makanya aku rayu istri orang-orang berduit itu, agar mau beli perhiasan ini."


***


Irwansyah mendengarkan percakapan mereka untuk beberapa saat. Setelah itu dia cepat-cepat pergi karena takut ketahuan.


Dalam perjalanan pulang, Irwansyah bertanya-tanya kenapa Tante Rose benci sekali kepada Azizah. Bagi orang-orang yang mengenal Azizah, dia adalah perempuan baik dan ramah pada semua orang.


'Apa ada sesuatu yang terjadi pada mereka dahulu, ya?'


Saat Irwansyah pulang ke rumah di sana sudah ada Satria yang sedang bermain bersama Ukasyah dan Oliv. Kedua anak itu tampak senang dengan kehadiran paman mereka.


"Kakak kapan datang ke rumah?" tanya Irwansyah.


"Barusan. Mungkin sekitar sepuluh menit yang lalu," jawab Satria.


Irwansyah sebenarnya ingin membicarakan hal tadi dia lihat. Dia ingin minta bantuan pada kakak iparnya ini.


***

__ADS_1


Akankah Irwansyah meminta bantuan pada Satria? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_2