
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan lupa untuk selalu kasih like, komentar, dan bintang 5. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 28
Flashback
60 tahun yang lalu ….
"Ona, kamu sudah siap?" tanya seorang wanita cantik kepada putrinya yang masih kecil.
"Sudah, Bu. Ayah dan kakek, mana?" tanya Fatonah kecil sambil berjalan ke arah ibunya sambil menjinjing tas kecil dan boneka beruang kesayangannya.
"Ayah dan kakek sudah menunggu di mobil, Sayang. Yuk, kita harus cepat-cepat!" Tangan ibu Fatonah menggandeng tangan mungil anaknya.
Seorang pria yang berwajah tampan sedang menunggu kedua orang yang dicintai dan disayangi olehnya. Senyumnya langsung mengembang saat melihat anak dan istrinya datang.
"Ayah." Fatonah berlari ke arah pria itu dengan tersenyum lebar.
"Putri ayah, lama sekali, sih!" Diciuminya pipi Fatonah.
"Mas, sebaiknya kita berangkat sekarang sebelum terlalu siang," anak ibu Fatonah.
Mereka semua pun naik ke mobil.
"Loh, Mas. Ke mana sopir yang bagian bekerja hari ini?" tanya ibu Fatonah.
"Barusan mendadak izin sakit. Dan yang lainnya sedang libur," ucap ayah Fatonah.
Keluarga Fatonah yang terdiri kedua orang tuanya beserta kakek dan neneknya itu hendak pergi ke ibu kota atas undangan pengusaha internasional terkenal yang punya banyak anak cabang perusahaan di hampir seluruh negara berkembang dan maju.
Kakek dan ayah Fatonah adalah seorang pengusaha. Mereka punya banyak perkebunan. Diantarnya perkebunan karet, kelapa sawit, dan cengkeh yang ada di Sumatera. Sementara itu, perkebunan teh, sayuran dan buah-buahan ada di puncak.
__ADS_1
Mereka pindah ke rumah yang ada di ibu kota provinsi karena kondisi tubuh Fatonah yang masih bayi, saat itu tidak cocok tinggal di tempat yang dingin dan lembab.
Usaha kakek Fatonah yang mempunyai pabrik teh dan perkebunan pemasok sayur untuk beberapa provinsi membuatnya terkenal sebagai juragan. Dikembangkan lagi oleh ayah Fatonah ke bidang yang lainnya.
"Ayah, kita di Jakarta akan berapa hari?" tanya Fatonah yang duduk dibelakang kakek dan neneknya.
"Sekitar tiga hari," jawab ayah Fatonah.
"Aku ingin liburan ke pantai dulu," pinta Fatonah.
"Sepertinya seru," ucap ibu Fatonah.
"Baiklah kita akan liburan dulu sebelum pulang," balas ayah Fatonah.
Setelah menghadiri undangan pengusaha asing itu, keluarga Fatonah berlibur ke pantai. Atas ajakan seseorang keluarga Fatonah pun berlayar ke kepulauan seribu yang terkenal indah saat itu.
Mereka semua pergi ke tempat yang terkenal indah dan selalu menjadi tujuan wisata. Saat menjelang waktu ashar, mereka pun berniat untuk kembali. Agar bisa pulang hari itu juga ke rumah.
"Ayah, aku takut!" Fatonah memeluk kuat tubuh ayahnya.
"Jangan takut, Sayang. Ada ayah dan Ibu, juga ada kakek-neneknya di sini yang akan menjaga kamu," balas ayah Fatonah.
Badai semakin besar dan angin bertiup dengan kencang dan jarak pandang pun semakin sempit. Tidak terlihat apapun di sana. Hanya ada kabut tebal dan guyuran air hujan yang sangat deras. Terjangan ombak yang ganas membuat perahu kecil itu terombang-ambing semakin kuat, sampai perahu itu terbalik dan hancur. Semua orang yang menumpang di perahu itu berteriak histeris dan jatuh ke dalam lautan.
Fatonah masih berada dalam pelukan ayahnya yang sangat erat. Laki-laki itu tidak ingin putrinya terlepas dalam pelukannya. Dia takut kalau sampai kehilangan putri semata wayangnya di tengah lautan ini. Dia bukannya lupa pada istri dan kedua orang tuanya. Setidaknya orang dewasa tahu cara menyelamatkan diri sendiri sedangkan Fatonah masih berusia 5 tahun dan belum tahu apa-apa. Selain itu dia juga anak kecil yang tidak bisa dan tidak tahu apa-apa.
Ayah Fatonah sekuat tenaga berenang ke permukaan laut agar bisa bernapas. Apalagi di merasa kalau Fatonah sudah tidak sadarkan diri. Dia takut kalau banyak air laut yang masuk ke tubuh putrinya. Saat dia berhasil muncul ke permukaan, tidak ada seorang pun yang bisa dia lihat di sana. Mungkin karena badai masih mengamuk dengan kuat. Bahkan dia dan Fatonah kadang tenggelam kembali oleh gelombang ombak yang sangat besar dan menghantam mereka.
Entah berapa lama badai itu berlangsung. Ayahnya Fatonah merasa tubuhnya yang dingin mulai kaku dan mati rasa karena kedinginan. Namun, dia tetap berusaha kuat mencari daratan agar putrinya bisa selamat. Ditengah-tengah lautan saat badai sudah berhenti, dia melihat ada papan yang lumayan besar dan bisa untuk menahan tubuh Fatonah. Ayahnya membaringkan putri kecil itu di pecahan perahu yang mereka naikin tadi.
Meski ayahnya Fatonah terus berenang tidak tahu arah. Tidak ada satu pun pulau atau pantai yang dia lihat.
"A-yah," panggil Fatonah dengan lirih dengan mata yang terbuka sedikit.
__ADS_1
"Syukurlah, Sayang. Akhirnya kamu sadar." Air mata kebahagian meluncur dari mata bulat milik laki-laki yang selalu memanjakannya.
"I-bu mana?" tanya Fatonah yang masih berbaring lemah di serpihan papan.
Mendengar pertanyaan dari putrinya, membuat dia ingat akan kenyataan kalau istri dan kedua orang tuanya. Juga para penumpang lainnya tidak ada yang terlihat sama sekali. Hanya ada dua kemungkinan yang terjadi kepada mereka semua. Pertama, kalau mereka itu meninggal karena tergulung ombak di tengah lautan. Kedua, mereka semua terpencar karena terbawa ombak yang sangat kuat tadi dan entah berada di mana sekarang.
"Ibu terpisah bersama kita. Makanya kita harus cepat-cepat sampai ke pulau karena ibu sedang menunggu di sana," jawab ayah Fatonah.
***
Kabar tentang perahu yang dinaiki oleh keluarga Fatonah yang terbalik di tengah lautan, sudah diketahui oleh pihak lain. Mereka pun meminta bantuan pada pihak tim SAR untuk mencari para korban.
"Minta bantuan tambahan ke pihak TNI angkatan laut. Kalau ada sekitar sepuluh orang yang berangkat dengan perahu yang menuju ke Kepulauan Seribu sudah tenggelam di tengah lautan!"
***
"Sayang, dengarkan ayah. Kamu harus jadi anak yang baik dan hebat. Sayangi orang-orang di sekitar kamu. Terutama keluarga kamu," kata ayah Fatonah sambil mengusap pipi chubby gadis kecil itu.
"Iya, Ayah. Aku akan jadi anak yang baik dan penurut, juga jadi anak yang hebat agar Ayah senang. Juga akan menyayangi teman-teman, orang-orang yang ada di perkebunan, dan orang yang ada di rumah," sahut Fatonah dengan suaranya yang pelan.
"Terutama keluarga kamu, para pekerja yang mengabdikan diri untuk kita, mereka juga harus kamu sayangi," lanjut ayahnya.
"Baik, Ayah. Keluarga paman Jono juga harus aku sayangi juga, 'kan, Yah?" Suara Fatonah semakin melemah.
"Iya, Nak. Karena mereka itu keluarga satu-satunya yang saat ini kamu miliki," jawab ayah Fatonah dengan derai air mata.
***
Bagaimana kisah Fatonah kecil bisa selamat? Tunggu kelanjutannya, ya!
Sambil menunggu up bab berikutnya, yuk baca juga karya aku yang lainnya.
__ADS_1