Bukan Istana Impian

Bukan Istana Impian
Bab 40. Pergi Dari Rumah?


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu kasih like, komentar, dan bintang 5. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 40


Mama Fatonah menatap tajam pada Azizah sedangkan Rela melihat pada madunya itu dengan tatapan tidak percaya. Sementara Azizah sendiri, merasa ketakutan dengan tatapan yang dirasakan menekan dirinya.


"Aku tidak pernah melakukan hal yang Mama tuduhkan kepadaku," kata Azizah lirih.


"Jadi, maksud kamu adalah mama sudah memfitnah kamu?" Mama Fatonah melotot ke arah Azizah.


Azizah diam tidak bisa membela dirinya sendiri. Saat ini dia tidak tahu harus berkata apalagi.


"Obat itu memang milik Azizah karena dia sempat sembelit. Dia dua minggu tidak bisa buang air besar, makanya dia membeli obat itu," ucap Irwansyah memberi tahu. Dia tidak ingin ada kesalahan pahaman terjadi pada mereka.


"Sembelit selama dua minggu? Kamu pikir Mama akan percaya dengan cerita seperti itu?" Mama Fatonah menatap sinis ke arah Azizah dan Irwansyah secara bergantian.


Irwansyah melihat ke arah Rela, terlihat sekali tatapan matanya kecewa. Padahal dia berharap istri pertamanya itu bisa menenangkan ibunya saat ini. Namun, apa yang dia lihat saat ini. Rela malah membawa kedua anaknya ke kamar mereka di lantai atas.


'Apa kamu sangat marah sekali? Sampai-sampai tidak mengatakan apapun.' Irwansyah bicara dalam hatinya.


Ruangan itu kembali hening karena semua terdiam. Mama Fatonah masih menatap jengah pada Azizah. Sementara Azizah sendiri hanya menundukkan kepala.


"Lebih baik kamu pergi dari rumah ini! Aku tidak mau tinggal satu atap dengan orang yang berusaha mencelakai aku!" bentak Mama Fatonah sambil menggebrak meja di depannya. 


Irwansyah dan Azizah sontak terkejut. Apalagi Azizah yang terlihat sangat ketakutan dan sakit hati atas ucapan mertuanya itu.

__ADS_1


"Ma, jangan seperti ini. Azizah akan tetap di sini sampai rumahnya selesai dibangun. Lalu, semua ini hanya salah paham. Meski itu obat pencahar milik Azizah belum tentu dia melakukan seperti yang dituduhkan oleh Mama barusan," bantah Irwansyah.


"Irwan, yang menjadi korban itu ada tiga nyawa! Kamu masih membela istri muda kamu ini? Bagus. Memang, kalau punya istri baru sering lupa sama itu yang tua. Bahkan tidak akan segan-segan membuangnya demi istri muda," sindir Mama Fatonah dan menohok Irwansyah dan Azizah.


"Mama! Aku tidak akan pernah membuang Rela. Dia itu istriku, wanita yang paling aku cintai! Mana mungkin aku tega melakukan hal yang dituduhkan sama Mama barusan. Itu sama saja dengan aku bunuh diri secara perlahan." Irwansyah bicara dengan nada tinggi. Selama seumur hidupnya dia tidak pernah bicara dengan nada yang tinggi kepada ibunya. Apalagi membentaknya.


"Kamu membentak mama, hanya demi membela wanita ini," kata Mama Fatonah dengan sinis.


Perasaan Azizah seperti apa saat ini? Dia sudah tidak bisa mendeskripsikan perasaannya saat ini. Sakit hati karena merasa difitnah, ungkapan cinta mati suaminya kepada kakak madu, dan harus terusir dari rumah ini. Terasa kumplit sekali rasa sakit yang dia rasakan saat ini.


"Maaf, Ma. Bukan maksud aku …."


"Sudahlah kalau begitu, biar mama saja yang keluar dari rumah ini. Mama akan bawa Rela dan anak-anak juga," kata Mama Fatonah sambil beranjak dari tempat duduknya.


Betapa terkejutnya Irwansyah dan Azizah mendengar ucapan Mama Fatonah. Lalu, keduanya pun ikut berdiri.


"Ma, jangan seperti ini. Kita ini satu keluarga. Seharusnya saling menyayangi dan menjaga. Aku tidak akan pernah izinkan siapa pun keluar dari rumah ini!" ucap Irwansyah dengan tegas.


"Bang, sebaiknya aku pulang ke rumah orang tuaku. Nanti, jika rumah sudah selesai aku bisa segera tinggal di sana," kata Azizah.


"Tidak. Kamu tidak akan pergi ke mana pun. Begitu juga dengan yang lain, semua akan tetap tinggal di sini," balas Irwansyah sambil mengusap pipi Azizah.


"Tapi, Bang—"


"Stttt. Biar mama nanti aku tangani," potong Irwansyah.


"Aku tidak mau jauh-jauh dari Abang," ucap Azizah sambil memeluk tubuh Irwansyah.

__ADS_1


"Iya. Begitu juga dengan aku yang tidak ingin kamu jauh dariku," balas Irwansyah.


Rela berdiri kaku di pintu masuk ruangan itu, karena melihat pandangan yang menyakitkan mata dan hatinya. Tadinya dia hendak menanyakan sesuatu pada Irwansyah. Sebenarnya apa yang sudah terjadi, kenapa ibu mertuanya sampai mengajak dia dan anak-anaknya pergi dari rumah. Kemudian, Rela pun beranjak dari sana diiringi lelehan air mata.


Poligami sering diidentikan oleh para wanita dengan air mata. Kalau tidak istri tua yang menangis, ya berarti istri muda yang menangis. Selama ini Rela bersedia berbagi suaminya dengan Azizah. Dia merasa kasihan padanya dan dia juga yakin kalau mereka bisa bersama-sama membangun mahligai rumah tangga yang sakinah, mawadah, wa rahmah. Sama-sama beribadah mengharapakan surga-Nya. Namun, tetap saja kadang ada penyusup ke dalam hatinya. Mau itu perasaan iri, cemburu, atau berprasangka pada madunya.


***


"Rela, baju dan keperluan anak-anak sudah selesai mama siapkan. Kamu juga bereskan barang yang akan kamu bawa dan juga perlengkapan bayi secukupnya saja. Nanti sisanya kita beli saja," kata Mama Fatonah pada Rela ketika mereka berpapasan di lorong lantai dua.


Mama Fatonah yang biasanya malas naik ke lantai dua, kini menguatkan kakinya untuk naik ke lantai atas. Hanya untuk menyiapkan keperluan kedua cucunya.


"Rela harus bicara dulu pada bang Irwan, Ma," balas menantu pertama.


"Ngapain kamu bilang-bilang, toh, pada akhirnya dia juga akan lebih memilih istri mudanya. Sebaiknya kita cepat pergi dari sini," ujar Mama Fatonah.


Rela pun terdiam. Dia tahu kalau Irwansyah kini sudah mencintai istri keduanya. Namun, bukan berarti dia sudah tidak sayang dan cinta padanya lagi. Dia yakin, kalau cinta dan sayang suaminya untuk dirinya masih ada meski sedikit atau lebih besar dari perkiraan dia.


"Tapi, Ma. Anak-anak saat ini sedang tidur," lirih Rela.


"Kamu siapkan saja semuanya sekarang. Biar pas anak-anak bangun kita bisa langsung pergi," kata Mama Fatonah.


"Bukannya aku sebagai seorang istri harus mendapatkan izin terlebih dahulu dari suami, jika ingin pergi ke luar rumah," kata Rela dan membuat Mama Fatonah sebal.


"Kalau begini, mama yakin Irwan tidak akan pernah mengizinkan kamu pergi dari rumah ini," ucap Mama Fatonah dengan nada kesal.


"Siapa yang akan pergi dari rumah ini?" Tiba-tiba saja Irwansyah sudah berdiri di belakang tubuh Rela.

__ADS_1


***


Akankah Rela dan Mama Fatonah pergi meninggalkan rumah itu? Atau Azizah yang akan pergi dari sana? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_2