
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan lupa untuk selalu kasih dukungan buat aku dengan kasih Bunga, Kopi, dan Vote juga. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 55
Mama Fatonah sangat terkejut saat orang yang sering disebut oleh adik sepupunya itu adalah Baharudin. Anak kecil yang dulu suka bermain ke rumah dan usianya berapa tahun di bawah dirinya.
"Ternyata Baharudin suka jual perhiasan. Padahal dulu keluarganya sama sekali tidak terlihat memiliki potensi menjadi penjual emas," kata Mama Fatonah.
"Kapan terakhir kali mamay bertemu dengan Baharudin?" tanya Irwansyah.
"Terakhir kali Mama bertemu dengan dia adalah saat pemakaman Paman Yudi. Waktu itu dia masih duduk di bangku SMP mau masuk ke SMA," jawab Mama Fatonah. Dia ingat betul karena saat itu Baharudin menangis histeris sambil memeluk pusara ayahnya.
"Lalu, apa Mama punya pemikiran kalau Baharuddin ingin balas dendam kepada keluarga kita?" tanya Irwansyah.
"Apa? Kenapa dia ingin melakukan hal itu?" tanya Mama Fathonah tidak menyangka akan ada hal seperti ini.
"Karena dia berpikir kalau Ayahnya meninggal itu adalah tanggung jawabmu Mama," jawab Irwansyah.
__ADS_1
"Kenapa dia punya pemikiran hal seperti itu? Waktu itu Mama sama sekali tidak memegang atau menjalankan perusahaan, karena mama masih sekolah. Justru perusahaan semua dipegang oleh dan Paman Jono dan Paman Yudi. Mereka berdua yang harus bertanggung jawab akan kehancuran semua perusahaan yang dimiliki oleh ayah dan kakek. Sampai tidak bersisa sedikitpun harga peninggalan mereka untuk mama," jelas Mama Fatonah dengan emosi.
Irwansyah pun terdiam. Dia menjadi agak ragu untuk memberitahu hal penting lainnya. Namun, dia pun memutuskan untuk memberitahu apa yang sudah dilakukan oleh Baharudin terhadap keluarganya saat ini.
"Baharudin itu benci terhadap Mama dan ingin menghancurkan keluarga kita," lirih Irwansyah.
"Apa?" teriak Mama Fatonah dan merata ke arah putranya.
"Dia adalah orang yang telah membeli obat pencahar. Lalu, menyuruh Tante Rose untuk mencampurkan obat itu kepada makanan dan minuman yang akan dikonsumsi oleh Azizah. Dan akan memfitnah Mama sebagai pelakunya," jelas Irwansyah.
"Jadi, dia bermaksud mencelakai Azizah dan menjadikan mama sebagi pelaku yang sudah memberikan obat itu?"
"Iya. Hanya saja waktu itu Tante Rose mengira kalau makanan yang dibuat oleh Azizah itu adalah miliknya. Mungkin Tante Rose pernah melihat Azizah mencampurkan obat itu pada minuman atau makanan, beberapa hari sebelumnya,"
"Dia itu sangat benci kepada Azizah karena ...." Irwansyah terdiam sejenak dan berkata, "Tante Rose selama ini menyukai Irwan."
"Apa?" Mama Fatonah sangat terkejut sekali mengetahui hal ini.
"Dari mana kamu tahu hal itu?" tanya Mama Fatonah tidak percaya.
__ADS_1
"Dari buku harian yang dia tulis sejak masih remaja," jawab Irwansyah sambil memalingkan wajahnya.
Irwansyah sudah mengetahui hal ini saya akan dia masih duduk di bangku SMA kelas 1. Dulu tanpa sengaja dia membaca buku harian milik Tante Rose. Namun, dia mengabaikan hal itu karena menurutnya itu hanyalah rasa suka biasa saja terhadap saudara.
Namun saat Irwansyah duduk di kelas 2 SMA, Dia membaca kembali buku harian milik Tante Rose, di sana dia menuliskan kalau sangat mencinta keponakannya sendiri. Dikarenakan takut nantinya terjadi sesuatu, maka dia pun menerima pinangan dari seorang pengusaha batubara yang bernama Dewa.
Irwansyah mengatakan apa yang dia baca dari buku harian milik Tante Rose. Dia tidak punya bukti buku harian itu karena tidak tahu benda itu ada di mana.
Air mata Mama Fatonah pun meleleh. Kini dia tahu kenapa dulu suaminya sangat marah sekali terhadap adik sepupunya itu. Dulu dia mengira kalau suaminya sudah salah paham. Sebab, mana mungkin Rose itu menyukai Irwansyah, bahkan sering mengintip anak bujangnya itu.
"Ya, mama percaya dengan apa yang kamu katakan," kata Mama Fatonah.
"Jadi, Mama sudah tahu hal ini sejak dulu?" tanya Irwansyah tidak percaya.
"Bukan mama, tapi ayah kamu yang mengetahui hal ini. Sehingga dulu dia sempat akan mengusir Tante kamu itu," jawab Mama Fatonah.
Kali ini giliran Irwansyah yang terkejut dan di waktu yang bersamaan handphone miliknya berdering. Tertera nomor Satria di layar. biarpun dengan cepat menggeser tombol berwarna hijau dan menerima pangilan dari kakak iparnya itu.
"Apa?" Irwansyah sangat terkejut mendengar ucapan dari Satria yang bicara di seberang telepon.
__ADS_1
***
Hal apa yang diberitahu oleh Satria kepada Irwansyah? Tunggu kelanjutannya, ya!