Bukan Istana Impian

Bukan Istana Impian
Bab 11. Tante Rose Keras Kepala


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan lupa untuk selalu kasih like, komentar, dan bintang 5. Semoga hari kalian menyenangkan dan penuh kebahagiaan.


***


Bab 11


Mendengar kabar Azizah masuk penjara membuat Irwansyah dan Rela terkejut. Mereka pun mendatangi kantor polisi dan ingin membebaskan Azizah dari sana.


"Kamu tidak apa-apa, 'kan?" tanya Irwansyah saat bertemu dengan Azizah. Dia mengusap air mata di pipi istri keduanya itu dengan lembut. Hatinya ikut sakit saat melihat kesedihan di raut wajah perempuan baik hati itu.


"Aku baik-baik saja, Bang," jawab Azizah dengan memaksakan bibirnya untuk tersenyum.


"Kami akan berusaha untuk membebaskan kamu dari sini," ucap Rela sambil memeluk adik madunya. Dia pun ikut menangis, saat melihatnya berada di sini dengan status sebagai tahanan.


"Terima kasih, Mbak. Aku sungguh tidak punya pikiran sama sekali untuk mencelakai Tante Rose," ujar Azizah dengan memeluk erat tubuh kakak madunya.


Hatinya merasa lebih senang dan tenang karena suaminya dan kakak madunya begitu perhatian. Dia juga merasa yakin kalau mereka akan melakukan yang terbaik untuknya.


"Kamu tenang saja, kita akan menyewa pengacara agar bisa membebaskan kamu dari sini," tukas Irwansyah sambil mengusap kepala Azizah.


"Terima kasih, Bang." Azizah mencium tangan Irwansyah.


***


Irwansyah pulang ke rumah dengan sangat perasaan sangat emosi kepada tantenya itu. Begitu masuk rumah dia memanggil nama Tante Rose dan hal ini membuat dirinya terkejut. Begitu juga dengan Mama Fathonah yang sedang menonton televisi.


"Irwan, ada apa? Kenapa kamu berteriak seperti itu?" tanya Mama Fathonah sambil menghampiri putranya.


Tante Rose yang juga sedang menonton televisi pun menghampiri Irwansyah. Dia memasang wajah lugu dan polos. Seakan tidak tahu apa yang sedang terjadi.


"Tante, apa maksudnya semua ini?" tanya Irwansyah dengan nada tinggi dan mata menatap tajam pada Tante Rose.


"kamu ini bicara apa, Irwan? Tante tidak mengerti," tanya Tante Rose seolah-olah dia tidak melakukan apapun.


"Tante 'kan, yang memasukkan Azizah ke penjara, atas tuduhan percobaan pembunuhan?" tanya Irwansyah dengan nada tinggi dan membuat Mama Fathonah mengangakan mulutnya saking terkejutnya.

__ADS_1


"Rose, apa maksudnya ini?" tanya Mama Fathonah sambil menatap ke arah adik sepupunya itu.


"Saya hanya ingin keadilan karena aku hampir saja mati," jawab Tante Rose sambil mengangkat kedua bahunya.


Terlihat amarah di wajah Irwansyah dan Mama Fathonah, begitu juga dengan Rela. Mereka tidak habis pikir dengan jalan pikiran wanita yang sebentar lagi akan menyandang status janda.


"Tapi, semua itu hanya kecelakaan dan Azizah tidak tahu kamu punya alergi kacang," ujar Mama Fathonah dengan menatap sebal ke arah Tante Rose.


"Mbak tidak tahu rasanya orang yang seperti akan mati. Sakit sekali dan aku merasakan hal itu dalam waktu yang lama. Aku kira dengan memberikan hukuman itu, sepadan dengan apa yang telah dia perbuat kepadaku," balas Tante Rose menatap balik kakak sepupunya.


Irwansyah rasanya ingin sekali menampar wanita yang sudah membuat istri keduanya menderita. Namun, dia bukanlah tipe orang yang suka melakukan kekerasan baik secara fisik maupun mental.


"Tapi, apa yang dilakukan oleh Tante itu salah. Seharusnya tidak perlu melaporkan Azizah kepada polisi. Aku juga yakin kalau Azizah tidak punya niatan untuk mencelakai Tante, apalagi ingin mengunduh Tante," tukas Rela dengan sengit karena iya sungguh merasa sangat kesal sekali pada kerabat suaminya ini.


"Lagian Tante sendiri tahu punya alergi kacang. Tetapi, malah memakan gado-gado. Sudah jelas ini bukan kesalahan Azizah. Melainkan kesalahan Tante tersendiri," pungkas Irwansyah nyalang.


"Tante hanya ingin keadilan saja. Masa Tante sakit parah dan hampir mati sedangkan dia masih bebas berkeliaran," ucap Tante Rose bersikukuh ingin menyalahkan Azizah atas semua hal yang sudah menimpa dirinya.


"Sudah, sudah! Rose, kamu tarik gugatan terhadap Azizah," pinta Mama Fathonah karena dia pusing masalahnya tidak akan selesai-selesai.


"Uang kompensasi?" Ketiganya sangat terkejut atas keinginan Tante Rose itu.


"Berapa duit yang kamu minta?" tanya Mama Fatonah.


"Cuma 150 juta," jawab Tante Rose.


"Apa?" teriakan tiga orang itu sangat terkejut.


"Itu kalau kalian mau memberikan uang kompensasi kepadaku. Baru aku akan menarik gugatan yang aku layangkan kepadanya," balas Tante Rose dengan nada sedikit angkuh.


"Tante punya rasa malu nggak, sih?" ucap Rela dengan kesal. 


"Kamu bicara begitu karena tidak pernah merasakan apa yang aku pernah rasakan. Bagaimana jika salah satu anak kalian sekarat. Apa kalian akan membiarkan pelaku yang sudah membuat anak kalian hampir mati itu berkeliaran bebas," balas Tante Rose dengan tatapan nyalang dan kepala didongakkan ke arah Rela.


PLAK!

__ADS_1


Mama Fathonah menampar pipi Tante Rose. Terlihat tatapan matanya kini sarat akan kemarahan. Napas Mama Fathonah memburu menandakan amarah yang sedang memuncak.


"Jangan kurang ajar kamu Rose!" bentak wanita yang sudah menua itu. 


"Mama … Tante, sudah. Kalau Tante tidak mau membatalkan gugatan itu, biar pengacara yang mengurusnya. Dan jika Azizah tidak terbukti bersalah, siap-siap saja kita akan melakukan hal yang sama terhadap Tante," tukas Irwansyah mengancam balik.


"Apa kamu mau balik mengancam aku?" hardik Tante Rose menantang Irwansyah.


"Bukan begitu, Tante. Apa Tante tahu, kalau perbuatan Tante ini sudah melukai banyak orang? Bukan hanya keluarga aku, keluarga Azizah, bahkan para murid Azizah yang menyayanginya ikut terluka … tersakiti," jelas Irwansyah.


"Seharusnya kamu itu berpikir panjang saat akan melakukan sesuatu itu," desis Mama Fathonah sambil menunjuk muka Tante Rose.


"Sudahlah, Tante boleh pergi dari sini sekarang. Nanti uangnya akan aku transfer setelah Azizah keluar dari penjara," ucap Irwansyah, lalu pergi meninggalkan wanita tidak tahu diri itu.


***


Setelah mendapat penekanan dari Irwansyah akan mengusirnya dari rumah, Tante Rose langsung menarik gugatannya. Alasannya karena sudah berdamai dan Azizah tidak tahu apa-apa dengan alergi yang dia punya.


Apalagi Irwansyah sudah menghubungi pengacaranya dan akan menuntut balik Tante Rose atas tuduhan palsu. Tentu saja hal ini membuatnya takut.


Irwansyah pun menjemput Azizah bersama kedua mertuanya. Betapa senangnya dia saat melihat istrinya itu tersenyum bahagia.


Azizah langsung memeluk tubuh Irwansyah, saat melihat suaminya datang menjemput. Sesuai janjinya yang akan membebaskan dia dari penjara.


"Abang, terima kasih. Aku senang bisa memeluk Abang lagi," ucap Azizah yang memeluk tubuh Irwansyah dengan begitu erat.


"Abang juga senang melihat kamu bisa pulang malam ini juga," balas Irwansyah dan memberikan ciuman di pucuk kepala Azizah dan membuat jantung wanita itu berdebar.


'Lihat saja akan kubalas kalian! Aku tidak terima dengan perlakuan kalian terhadapku,' batin Tante Rose yang berdiri tidak jauh dari sana.


***


Apa yang akan dilakukan oleh Tante Rose dalam usaha balas sakit hatinya? Tunggu kelanjutannya, ya!


Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan menarik. Kepoin novelnya.

__ADS_1



__ADS_2