Bukan Istana Impian

Bukan Istana Impian
Bab 8. Minta Uang


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan lupa untuk selalu klik like dan komentar. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


Bab 8


     Azizah memberikan ciuman mesra kepada suaminya. Irwansyah selalu memberikan kepuasan dan kenyamanan dalam hari-hari yang dijalaninya sebagai seorang istri. Dia juga berusaha selalu memberikan yang terbaik untuknya.


"Bang, mau mandi bareng atau sendiri-sendiri?" bisik Azizah dengan senyum tipis.


"Kita mandi bersama saja, biar tidak banyak memakan waktu dan abang juga tidak akan ketinggalan untuk sholat berjamaah di masjid," balas Irwansyah sambil merapikan anak rambut di kening Azizah.


"Terima kasih, Bang. Abang selalu mengutamakan kebahagiaan aku," Azizah menatap Irwansyah dengan matanya yang berbinar dan berkata lagi, "padahal Abang pasti merasa lelah setelah kerja lembur kemarin malam."


"Ini sudah kewajiban Abang. Tubuh lelah akan kembali pulih dengan beristirahat sebentar. Semalam selepas sholat Isya, Abang langsung tidur. Jadi, tenaga sudah pulih kembali," balas Irwansyah.


"Abang sudah membuat aku jatuh cinta padamu," lirih Azizah dengan malu-malu.


"Abang juga harap perasaan itu bisa secepatnya hadir di hati Abang juga. Seperti yang kamu rasakan," ujar Irwansyah.


"Abang tidak perlu memaksakan diri. Karena cinta itu tidak bisa dipaksakan. Cukup aku saja yang mencintai Abang sepenuh hatiku," kata Azizah.


"Tidak, aku juga ingin memberikan kamu perasaan cinta yang tulus. Meski tidak akan bisa sepenuh hatiku," tukas Irwansyah.


"Kalau begitu perlahan-lahan saja. Sampai kapanpun aku akan selalu setia sama Abang," pungkas Azizah dengan senyum lebarnya.


"Sebentar lagi masuk subuh. Sebaiknya kita mandi sekarang!" ajak Irwansyah.


***


     Sarapan hari ini dibuat oleh Rela dan dibantu oleh Azizah karena dia sudah selesai membereskan rumah duluan. Sementara itu, menu sarapan hari ini terlalu banyak jenisnya. Anak-anak ingin nasi goreng seafood. Mama Fatonah ingin nasi kuning dan Tante Rose harus sarapan salad buah.


     Azizah membantu membuat sambal goreng tempe dan telur dadar untuk pelengkap nasi kuning. Tidak lupa dengan kerupuk kakap kesukaan suami dan mertuanya.


"Mbak Rela, mau sarapan nasi kuning atau nasi goreng?" tanya Azizah yang hendak menyiapkan nasi kuning.


"Nasi kuning saja. Aku buat nasi goreng hanya untuk anak-anak," jawab Rela yang sedang mengaduk nasi goreng agar tercampur rata semua.

__ADS_1


"Mana sarapan untuk tante?" tanya Tante Rose yang tiba-tiba datang ke dapur.


"Ini punya Tante," kata Azizah sambil menyerahkan satu mangkuk salad buah yang sudah di siapkan oleh Rela, tadi.


"Sayang, Oliv ingin main ke toko nanti sepulang sekolah. Tolong siapkan baju ganti untuknya, ya!" pinta Irwansyah yang baru datang bersama kedua anaknya.


"Iya, Bang." Rela mematikan kompor gas dan mengambil dua piring untuk nasi goreng.


"Irwan, tante juga ingin jalan-jalan ke mall atau ke mana, gitu. Tante bosan jika terus di rumah terus," kata Tante Rose.


      Mereka saling melirik karena tidak ada yang melarang Tante Rose untuk pergi ke luar. Justru Tante Rose itu suka sekali nimbrung dengan ibu-ibu komplek sambil bergosip.


"Tentu saja Tante boleh pergi jalan-jalan, asal jangan sampai kemalaman. Jam sembilan malam sudah harus ada di rumah," ucap Irwansyah.


     Tante Rose mendelikkan matanya. Dia berharap kalau keponakan yang usianya tidak beda jauh darinya itu mengerti kalau dia butuh uang untuk pergi jalan-jalan.


"Tapi, tante tidak punya uang. Selama ini tante selalu di beri uang oleh suami. Semenjak kita mutuskan bercerai, dia tidak memberikan uang bulanan lagi," ujar Tante Rose dengan lirih sambil memasang wajah sedih.


     Irwansyah pun mengeluarkan uang lima ratus ribu. Dia tahu Tante Rose itu orang yang sangat boros dan suka foya-foya. Hal ini juga yang sering memicu pertengkaran dengan suaminya dulu.


'Apa ini? Lima ratus ribu! Pelit amat si Irwan. Biasanya kalau kasih uang tidak akan kurang dari satu juta,' batin Tante Rose menggerutu.


"Irwan, tidak salah ini kasih tante dengan uang segini?" tanya Tante Rose sambil menunjukkan uangnya.


     Rela, Azizah, dan Mama Fatonah mengalihkan perhatian mereka pada Tante Rose. Hal yang tidak terduga adalah reaksi dari Ukasyah.


"Oma Rose, itu yang sangat banyak. Bisa buat jajan dua bulan," kata bocah laki-laki itu yang sehari dikasih jatah 10.000 itu juga untuk nabung dan jajan.


"Jangan samakan Oma dengan kamu dong, Ukasyah. Oma itu sudah dewasa dan banyak hal yang harus dipenuhi kebutuhannya," balas Tante Rose.


"Apa kamu tidak punya uang sama sekali di ATM?" tanya Mama Fatonah.


"Habis, Kak. Banyak sekali uang yang keluar dalam beberapa bulan terakhir ini," jawab Tante Rose.


"Oma Rose, tidak punya uang?" tanya Oliv sambil menatap pada perempuan yang cantik dan body aduhai itu.

__ADS_1


"Iya, Sayang," balas Tante Rose.


"Kalau begitu kerja saja! Sama seperti Ibu dan Bunda. Jadi nanti akan punya uang," tukas Oliv lagi.


"Iya, Oma Rose kerja di bank biar punya banyak uang," sahut Ukasyah dan ini membuat Irwansyah menahan tawanya. Begitu juga dengan Rela dan Azizah.


     Mendapat perlakuan seperti itu membuat hati Tante Rose panas. Dia marah karena keluarga kakak sepupunya itu sangat menyebalkan.


***


     Rela mendatangi toko grosir milik suaminya. Dia membawa bekal makan siang untuknya dan keluarganya. Sebelum itu dia menjemput dulu Ukasyah dari sekolahnya.


"Sayang, masak apa hari ini?" tanya Irwansyah sambil memeluk tubuh Rela yang sedang menata bekal makanan di meja.


"Tumis kangkung, goreng asin, ayam goreng, sambal, lalapan, dan kerupuk. Kesukaan Abang dan anak-anak," jawab Rela sambil membuka satu persatu menu makanan yang dia buat di dapur butik miliknya.


"Asik! Kakak mau makan ayam goreng sama sambal," ucap Ukasyah senang.


"Adik, juga mau makan sambal," ujar Oliv dan membuat yang lainnya tertawa.


"Nggak mau pakai ayam goreng?" goda Irwansyah pada putrinya.


"Ya, tentu saja pakai, Ayah. Masa makan nasi dan sambal saja," gerutu Oliv dengan bibir yang mengerucut.


     Di saat keluarga mereka sedang asik bercengkrama setelah makan siang. Tiba-tiba saja Tante Rose datang dengan berlinang air mata. Dia mengadu sambil menangis kepada Irwansyah.


"Tante Rose, ada apa?" tanya Rela.


***


Apa yang sudah terjadi pada Tante Rose? Kenapa dia menangis dan mendatangi Irwansyah di toko? Tunggu kelanjutannya, ya!


Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh. Kepoin novelnya.


__ADS_1


__ADS_2