Bukan Istana Impian

Bukan Istana Impian
Bab 45. Kita Berpisah


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu kasih like, komentar, dan bintang 5. Semoga hari ini kalian bahagia dan dimudahkan rezekinya.


***


Bab 45


Irwansyah duduk di kursi besi di dampingi oleh Azizah. Air matanya jatuh dengan perlahan membasahi pipi dia. Dia sungguh merasa menyesal sudah meninggalkan Rela semalam. Seandainya saja, dia semalam pulang ke rumah, saat Rela mengalami sakit perut dia bisa langsung membawanya ke rumah sakit tanpa merepotkan orang lain.


Dilihatnya Santi sedang duduk tidak jauh darinya. Gadis itu sedang memegag handphone, entah apa yang sedang diperbuat dengan benda itu. Setahu Irwansyah, asisten istrinya itu kurang begitu suka memainkan benda pipih itu. Bahkan saking jarangnya handphone dia sentuh, dia mengecas benda itu dua atau tiga hari sekali.


Irwansyah ingin sekali mengajaknya bicara dan menanyakan sesuatu padanya. Namun, dia teringat kembali pesan ke-100 yang dia kirim semalam adalah umpatan kasar untuk dirinya. Meski dia tahu kalau itu adalah ungkapan kekesalan dia karena tidak bisa menghubungi dirinya.


Santi pun beranjak pergi setelah menerima panggilan telepon. Irwansyah hendak menyusul dirinya, akan tetapi tangan Azizah menahan tangannya.


"Ada apa?" tanya Irwansyah sambil menatap ke arah Azizah.


"Jangan ke mana-mana. Bagaimana jika Mbak Rela nanti mencari Abang?" Azizah berharap jangan sampai terjadi sesuatu yang bisa membuat Irwansyah dipojokan oleh keluarga istri pertamanya.


Akhirnya, Irwansyah pun duduk kembali. Dia menyandarkan kepalanya ke dinding di belakangnya. Kemudian, dia teringat pada anak-anak.


"Iza. Nanti tolong jaga anak-anak, ya. Kamu kembalilah ke rumah lagi," kata Irwansyah.


"Iya, Bang." Azizah tahu kalau keberadaan dirinya di sini juga tidak bisa berbuat apa-apa.


Terdengar suara tangisan Rela, Irwansyah pun langsung berlari ke arah pintu. Dia tahu itu suara tangisan Rela, tetapi saat dia hendak membuka pintunya, dia mengurungkan niatnya itu. 


Irwansyah hanya berdiri di depan pintu, air matanya juga ikut luruh mendengar suara tangisan wanita yang sangat berarti baginya.

__ADS_1


'Ya Allah, apa yang harus aku lakukan sekarang?' Irwansyah merasa tekanan batin yang sangat kuat.


"Tumpahkan saja tangisan kamu itu, Sayang. Jika, itu membuat kamu merasa lebih baik dan merasa nyaman."


Irwansyah bisa mendengar suara mamanya meski kadang tertutup oleh suara tangisan Rela. Dalam hatinya dia juga merutuki dirinya sendiri karena dia adalah penyebab istrinya menangis.


"Kamu ini berhak bahagia Rela. Jika, lepas dari Irwan bisa membuat kamu bahagia. Tinggalkan dia. Namun, jika dengan berada bersama dirinya bisa membuat kamu bahagia, maka pertahankanlah. Apapun pilihan kamu, mama akan selalu mendukung kamu. Jika, kamu memilih pergi dari sisi Irwan. Bawa mama juga, ya?"


Dada Irwansyah serasa di hujam oleh tombak yang menembus jantungnya. Sakit sekali, tetapi tidak ada darah yang keluar dari dadanya itu.


***


Sudah satu jam lebih Rela berada di kamar bersama dengan Mama Fatonah. Begitu juga dengan Irwansyah yang setia berdiri di depan pintu.


Irwansyah terkejut saat pintu kamar tiba-tiba saja terbuka. Mama Fatonah kini berdiri di depannya dengan wajah sembab.


Irwansyah langsung masuk ke dalam kamar itu, terlihat kalau Rela sedang duduk menatap ke arahnya. Langkah kaki Irwansyah tanpa dia sadari berlari ke arah Rela dengan cepat. Laki-laki itu pun langsung memeluk tubuh yang sejak tadi ingin dia peluk.


"Sayang, maafkan aku." Tangis Irwansyah pun pecah. Dia tidak malu menangis di depan Rela sejak dulu juga.


Tidak ada pelukan balasan dari Rela. Kata-kata penenang hati dan penyemangat dirinya tidak terucap dari mulutnya yang pucat.


"Jangan tinggalkan aku. Aku mohon," lirih Irwansyah.


"Aku rasa mungkin dengan berpisah kita akan tahu arti keberadaan seseorang itu berarti atau tidak bagi kita. Begitu juga dengan aku yang ingin menjauh dari dirimu dulu, Bang," kata Rela dengan pelan.


Irwansyah merasa dilemparkan ke dalam dasar jurang yang dalam dan gelap. Dia sungguh bisa membayangkan dirinya, jika tidak ada Rela di sisinya.

__ADS_1


"Tidak. Abang tidak setuju! Aku sudah tahu arti keberadaan dirimu bagiku. Kamu adalah separuh nyawaku, separuh hidupku, dan sumber kekuatan aku." Irwansyah masih memeluk erat tubuh Rela. Dia tidak mau melepaskan pelukannya.


"Tidak untuk sekarang, Bang. Abang sudah punya Azizah saat ini. Aku berani bertaruh, jika Abang akan baik-baik saja, tanpa ada aku di sisimu. Abang masih akan seperti diri Abang biasanya, dengan adanya Azizah di sisi Abang."


"Tidak. Keberadaan kamu tidak sama dengan Azizah."


"Semalam aku berpikir, eh, tidak. Sejak beberapa bulan yang lalu, bahkan sebelum aku hamil. Aku berpikir kalau Abang dan Azizah ternyata sangat serasi sekali. Aku dulu mengira kalau Abang tidak akan mudah ditaklukan oleh Azizah. Tapi, dugaan aku meleset. Abang langsung mencintainya begitu Azizah sah menjadi istri—"


"Tidak. Aku tidak dengan mudah mencintai dirinya. Jujur kalau sekarang rasa cinta untuknya sudah ada dan itu butuh proses yang lama. Aku menyukainya karena ketabahan dia saat di sakiti dan difitnah oleh orang lain, tetangga, bahkan oleh mama. Cinta aku untukmu masih lebih besar dari cinta aku untuknya."


"Tahu tidak, Bang. Kalau barusan Abang sudah memuji wanita lain di depan aku. Bukannya dulu kita sudah buat kesepakatan. Saat kita berdua saja, jangan sampai membicarakan apapun tentang Azizah. Apalagi hal seperti barusan itu membuat aku jadi semakin tidak pantas untuk bersaing dengan dirinya."


Irwansyah terdiam dan melepaskan pelukannya. Lalu, dia pun menatap manik istrinya.


"Apa kamu ingin aku melepaskan Azizah sekarang?" 


Rela terkejut mendengar ucapan suaminya. Dia tidak menyangka kalau kalimat seperti itu akan terlontar dari mulut suaminya.


"Tidak. Abang jangan menyiksa diri sendiri. Jika, itu Abang lakukan yang ada Abang akan hidup menderita. Aku bisa melihat dan merasakan kalau Abang dan Azizah sudah saling melengkapi dan membutuhkan. Tidak ada hal yang tidak bisa dilakukan oleh Azizah. Dia itu wanita yang hampir sempurna tanpa adanya rahim, yang bisa dijadikan seorang istri sholeha."


"Tidak, Sayang. Bagi diriku kamulah yang lebih berarti." Irwansyah menggenggam tangan Rela dengan erat.


"Kita buktikan. Aku akan pergi sampai anak kita ini lahir. Setelah itu kita bertemu dan aku pastikan kalau kamu akan baik-baik saja bersama Azizah."


***


Apakah Rela memilih bercerai dengan Irwansyah setelah mengajukan perpisahan sementara itu? Apa Irwansyah akan baik-baik saja tanpa adanya Rela di sisinya? Tunggu kelanjutannya, ya!

__ADS_1


__ADS_2