
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa kasih like, komentar, dan bintang 5. Semoga hari ini kalian bahagia dan dimudahkan rezekinya
***
Bab 51
Rela mendapat kabar dari Azizah tentang keadaan Irwansyah. Dia sebenarnya sudah ingin pulang, tetapi pengobatan belum selesai. Selain itu, dia juga masih menunggu hasil dari penyelidikan orang yang di suruh untuk mencari tahu kebenaran tentang obat pencahar itu.
"Kenapa?" tanya Satria yang sedang memangku laptop sambil mengerjakan pekerjaan kantornya.
"Rindu sama Bang Irwan," lirih Rela.
"Laki-laki tidak berguna seperti itu saja di rindukan," gumam Satria hampir tidak kedengaran.
"Bagiku lebih berguna Bang Irwan dibandingkan sama Kakak," balas Rela.
"Aku kira nggak bakalan kedengaran," kata Satria sambil nyengir.
Rela ingin sekali melemparkan bantal pada kembarannya itu. Namun, dia masih betah memakai benda itu sebagai sanggahan kepalanya.
"Apa sudah ada kelanjutan dari penyelidikan dia, Kak?" tanya Rela.
"Iya, katanya dia sudah mendapatkan rekaman cctv orang yang membeli obat pencahar di apotek yang jaraknya tidak jauh dari rumah kamu," jawab Satria.
"Benarkah?" tanya Rela.
"Iya, dan dia sudah mengirimkan video itu," balas Satria.
Rela senang, kalau usaha dia membuahkan hasil. Sekarang dia hanya fokus pada penyembuhan penyakit dan kelahirannya.
***
Azizah berusaha agar Irwansyah mau makan banyak. Dia ingin mengembalikan berat badan suaminya seperti semula. Dia memasak makanan kesukaannya. Namun, meski dia berusaha agar keadaan suaminya bisa kembali seperti sediakala tetap saja tidak bisa.
Sudah 15 hari sejak kepergian Rela, bukan hanya Irwansyah saja yang kehilangan semangat dalam hidupnya. Mama Fatonah, Ukasyah, dan Oliv juga kini menjadi pendiam dan pancaran sinar di wajah mereka seakan meredup.
"Kakak dan Adik, makan yang banyak, ya! Nanti ibu ajak kalian ke mall," kata Azizah.
"Kakak nggak ikut, mau di rumah saja," balas Ukasyah.
"Adik juga. Jika nanti bunda menelepon bagaimana?" tanya Oliv.
__ADS_1
"Rela masih suka menghubungi kamu?" tanya Mama Fatonah pada Azizah.
"Masih, Ma. Tapi cuma tiga hari sekali dan menanyakan keadaan kalian semua. Katanya pengobatannya juga berjalan lancar. Ada kemungkinan akan pulang lebih cepat dari perkiraan mbak Rela," jawab Azizah.
"Kenapa bunda tidak pernah menelepon kita?" tanya Ukasyah.
"Bukannya bunda tidak ingin menelepon kalian, tetapi dokter melarang itu. Membalas pesan dari ibu saja cuma tiga hari sekali. Katanya itu juga secara diam-diam," jawab Azizah.
Irwansyah tahu keadaan Rela hanya saat Azizah memberi tahu keadaannya. Dia tahu kalau Rela sedang sakit dan sedang melakukan pengobatan juga dari Santi.
Handphone milik Irwansyah berdering, lalu dia pun pergi menjauh dari meja makan. Dia pergi ke luar rumah karena ada laporan penting untuk dirinya.
"Bagaimana?" tanya Irwansyah kepada orang yang menghubunginya.
"Baiklah. Terima kasih sudah memberi tahu hal ini. Aku ingin kamu melacak keberadaannya," titah Irwansyah pada orang di seberang sana.
Irwansyah pun mematikan panggilan itu saat mendengar langkah seseorang. Dia membalikan badan dan ada Azizah berjalan ke arahnya.
"Ada apa?" tanya Irwansyah dengan pelan.
"Apa Abang baik-baik saja?" Azizah balas bertanya.
"Maafkan aku yang tidak bisa mengurus Abang," kata Azizah dengan wajah sendu.
"Kamu sudah melakukan semampu kamu. Bukan salah kamu kalau tubuh aku menjadi kurus seperti ini," ucap Irwansyah sambil memegang kedua pundak Azizah.
"Tetap saja, aku merasa gagal menjadi seorang istri. Keadaan Abang tanpa ada mbak Rela di sini, efeknya sangat besar dalam kehidupan Abang," ujar Azizah. Dia tahu betapa cinta dan sayangnya Irwansyah kepada Rela.
"Ya, mungkin karena setengah hidupku sudah aku habiskan dengan dia. Jadi, saat dia pergi sebagain dalam diriku juga ikut pergi bersama dengannya," tukas Irwansyah dan dia mengajak Azizah masuk kembali ke dalam rumah.
"Bang, malam ini aku ingin tidur bersama Abang lagi," pinta Azizah.
"Hm." Irwansyah mengangguk.
***
Azizah memandangi wajah suaminya yang kini duduk di sampingnya. Meski banyak perubahan pada fisik Irwansyah, tetapi di mata Azizah masih terlihat tampan.
"Kenapa?" tanya Irwansyah.
"Abang sangat tampan," jawab Azizah.
__ADS_1
"Alhamdulillah. Aku termasuk orang yang beruntung di beri rupa seperti ini," ucap Irwansyah dengan seulas senyum.
Azizah menyentuh wajah suaminya, dia ingin memberikan perhatian penuh padanya. Agar Irwansyah melupakan rasa rindunya pada Rela walau hanya sebentar. Dia memberikan sentuhan-sentuhan menggoda suaminya. Malam ini dia ingin memberikan pelayanan terbaik agar suaminya merasa puas.
Selama beberapa hari ini dia merasa kalau Irwansyah bercinta dengannya hanya melakukan kewajibannya saja. Tidak terlihat kepuasan dalam dirinya setelah mereka bercinta. Padahal dulu, mereka selalu merasa bahagia dan puas jika selesai mengarungi surga dunia bersama.
"Bang, lihat aku. Hanya aku. Lupakan semuanya!" lirih Azizah yang kini sedang duduk di atas pangkuan Irwansyah.
Irwansyah tahu apa yang sedang diinginkan oleh Azizah. Padahal kemarin malam mereka sudah melakukannya, tetapi malam ini Azizah menginginkan lagi. Maka, Irwansyah pun mengabulkan keinginan istri keduanya itu.
Malam itu mereka kembali mengarungi surga dunia. Lagi-lagi hanya Azizah yang merasa terpuaskan. Sementara itu, Irwansyah masih sebatas melaksanakan kewajibannya memberikan nafkah batin untuk istrinya.
***
Irwansyah menemui seorang temannya yang selama ini dimintai tolong olehnya. Dia ingin mendapatkan bukti kejahatan Tante Rose yang sudah dia lakukan pada keluarganya.
"Aku sudah menemukan laki-laki yang bernama Baharuddin itu," kata laki-laki yang duduk di depan Irwansyah.
"Sekarang dia sedang berada di mana?" tanya Irwansyah dengan tidak sabar.
"Di kecamatan sebelah," bisik laki-laki itu lagi.
"Pantas saja Tante Rose suka pergi ke sana belakangan ini," ujar Irwansyah sambil mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja.
"Apa saja yang dilakukan laki-laki itu di sana?" tanya Irwansyah setelah di menerima sebuah flashdisk dari temannya itu.
"Aku rasa dia masih berbisnis menjual perhiasan."
"Mereka tidak kapok-kapok sudah ada kejadian dulu juga."
***
Irwansyah pun pulang dan memeriksa flashdisk tadi. Dia melihat video saat laki-laki bernama Baharuddin itu pergi ke apotek dan membeli suatu obat di sana.
Lanjut ke rekaman video lainnya yang berada di sebuah restoran yang tidak jauh dari tempat apotek tadi. Di sana ada Tante Rose dan Baharuddin pun memberikan keresek obat yang baru saja dia beli di apotek tadi dan membicarakan sesuatu sehingga Tante Rose menganggukkan kepalanya sambil memegang botol kecil yang mirip dengan obat pencahar milik Azizah.
"Tante sungguh perbuatan kamu ini tidak bisa di maafkan!" Irwansyah merasa sangat geram.
***
Balasan apa yang akan diberikan oleh Irwansyah untuk Baharuddin dan Tante Rose? Tunggu kelanjutannya, ya!
__ADS_1