Bukan Istana Impian

Bukan Istana Impian
Bab 44. Lepaskan Atau Bertahan


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu kasih like, komentar, dan bintang 5. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 44


Irwansyah, Rela, dan Azizah sangat terkejut mendengar ucapan kakak kembar Rela. Laki-laki itu selain punya sifat keras kepala, dia juga orangnya tegas dan penyayang. Rasa sayang dia kepada Rela melebihi rasa sayang pada dirinya sendiri.


"Maaf, Kak. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah melepaskan Rela," ucap Irwansyah dengan suara di tekan dan sorot mata yang tajam.


Satria tersenyum meremehkan pada adik iparnya itu. Tanpa banyak bicara dia pun melancarkan satu pukulan pada perut Irwansyah. Sampai laki-laki itu terdorong beberapa langkah ke belakang.


"Abang!" teriak Rela dan Azizah bersamaan.


Azizah langsung memegang tubuh Irwansyah agar bisa berdiri tegak. Terlihat kecemasan di wajahnya yang semakin pucat.


"Kak Satria! Apa yang Kakak lakukan?" tanya Rela dengan suara yang melengking.


Rela ingin menghampiri suaminya, tetapi perutnya akan kembali terasa sakit jika dia banyak bergerak. Selain itu, kakinya juga masih terasa lemas.


"Itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa sakit yang adik aku rasakan semalam. Seharusnya aku memukuli kamu selama lima jam, baru kamu akan tahu seberapa sakitnya, rasa yang dirasakan oleh Rela semalaman!" Suara Satria menggelegar di ruang VVIP.


Mama Fatonah hanya diam tidak membela putranya. Dia juga menyalahkan Irwansyah karena dirinya tidak ada di saat istrinya sedang sakit.

__ADS_1


Santi yang baru masuk dikejutkan oleh kemarahan Satria. Laki-laki yang dikenalnya tidak banyak bicara dan mempunyai wajah datar. Kini sedang mengamuk.


'Aduh, aku salah waktu masuk. Tapi, sudah terlanjur.' Santi pun berjalan mendekati brankar di sisi satunya lagi. Dia pun meletakan bubur pesanan Rela.


"Aku akui kalau sudah salah meninggalkan Rela semalam. Tapi, aku tidak akan pernah melepaskan dia seumur hidupku!" ucap Irwansyah dengan tegas.


"Untuk apa? Hanya untuk memberikan kamu keturunan. Bukannya sudah ada Ukasyah dan Oliv. Lalu, sekarang calon anak ketiga sebentar lagi akan lahir. Tujuan kamu sudah tercapai. Jadi, lebih baik kamu lepaskan Rela. Toh, bukannya kamu sudah punya istri yang lainnya," balas Satria.


Irwansyah sangat sakit hati mendengar ocehan Satria. Dia benar-benar tulus mencintai Rela sejak mengenalnya di kampus dulu. Gadis cantik, ceria, dan cerdas itu sudah berhasil mencuri hatinya sejak pertama pertemuan mereka. Dia berusaha mendekati sang pujaan hati yang merupakan juniornya di kampus. Dia sering membantu dan menemani Rela saat mencari bahan untuk tugas-tugas miliknya. Akhirnya setelah 3 bulan masa pengejaran, mereka resmi pacaran. Banyak halangan dalam hubungan yang mereka jalani dahulu. Irwansyah yang merupakan senior tampan dan baik hati, memiliki banyak penggemar dari kalangan kaum hawa. Rela yang terlahir dari keluarga kaya raya. 


Lalu, sekarang kakak iparnya itu menyuruh dirinya untuk menceraikan wanita yang dia perjuangkan sejak dulu. Dirinya, masih waras untuk tidak melakukan hal itu.


"Kakak salah kalau aku menginginkan Rela hanya untuk mencetak anak saja. Dia wanita yang sudah bersama dengan aku selama lebih dari separuh hidupku di dunia ini. Rela adalah hidupku, jika aku melepaskannya makan itu sama saja dengan aku mengakhiri hidupku," ujar Irwansyah.


"Tidak masalah kalau kamu mati juga. Justru itu bagus, sehingga Rela, Ukasyah, dan Oliv bisa aku bawa ke Singapura tanpa ada rasa beban." Laki-laki itu sudah jengah pada adik iparnya.


Irwansyah menatap nanar pada Rela yang kini sedang berada di atas ranjang. Dia ingin sekali memeluk tubuh istrinya itu. Namun, terhalang oleh kakak iparnya. Selain itu ada juga ayah mertuanya yang lebih galak dari Satria.


"Maaf, Tuan. Apa yang Anda katakan itu sangat kasar. Apa Anda memikirkan perasaan Mbak Rela saat ini? Aku tahu kalau Mbak Rela itu sangat mencintai dan menyayangi Bang Irwan. Begitu juga dengan sebaliknya, Bang Irwan sangat mencintai dan menyayangi Mbak Rela, " ucap Azizah dengan menatap ke arah Satria.


"Apa kamu tidak punya rasa malu? Siapa kamu? Berani-berani mengajak aku berbicara," kata Satria dengan senyum miring dan mata yang memicing merendahkan Azizah.


"Kak Satria!" Irwansyah berteriak. Dia tidak suka jika ada yang menghina keluarganya.

__ADS_1


"Kakak yang tidak pantas berbicara seperti itu kepada Azizah," lanjut Irwansyah membela istrinya.


"Oh, bagus. Bela istri muda kamu ini. Sepertinya kamu sudah cinta sama dia. Kalau begitu tidak akan sulit untuk melepaskan Rela," balas Satria dengan alis terangkat sebelah dan senyum miringnya.


Melihat dan mendengar kelakuan kakak dan suaminya, membuat Rela malah semakin merasakan sakit. Dia pun menarik napasnya lalu menghembuskan lewat mulut.


"Bisakah kalian semua keluar dari kamar ini! Aku tidak ingin mendengar suara berisik omongan. Kalau kalian masih mau adu mulut, sana lanjutkan di luar kamar pasien." Rela mengusir semua orang kecuali ibu mertuanya yang terus saja duduk di sofa. Mama Fatonah tidak mau meninggalkan menantu kesayangannya itu.


***


Kini di kamar hanya ada Rela dan Mama Fatonah. Wanita itu menangis dalam diam. Rela tidak menyangka kalau hal ini akan terjadi seperti ini. Dia niatnya akan memberi tahu papa dan kakaknya itu, setelah dia melahirkan. Saat mereka berkunjung nanti, baru dia akan mengenalkan Azizah sebagai adik madunya. Dia juga akan memberi tahu kalau hubungan mereka sangat baik. Namun, sekarang semua itu hancur.


"Tumpahkan saja tangisan kamu itu, Sayang. Jika, itu membuat kamu merasa lebih baik dan merasa nyaman," kata Mama Fatonah.


Rela pun memeluk tubuh mama mertuanya. Dia dan Satria sudah kehilangan sosok ibu sejak mereka masih di taman kanak-kanak. Hanya ayahnya yang membesarkan mereka berdua sepenuh hatinya. Bahkan dia tidak menikah lagi karena takut tidak bisa memberikan kenyamanan bagi kedua putra dan putrinya dari pasangan barunya nanti. 


Rela menangis dengan lepas untuk menghilangkan atau mengurangi rasa sakit di hatinya yang sejak kemarin dia pendam. Dia meluapkan tangisannya dalam dekapan wanita tua yang selalu menyayangi dirinya.


"Kamu ini berhak bahagia Rela. Jika, lepas dari Irwan bisa membuat kamu bahagia. Tinggalkan dia. Namun, jika dengan berada bersama dirinya bisa membuat kamu bahagia, maka pertahankanlah. Apapun pilihan kamu, mama akan selalu mendukung kamu. Jika, kamu memilih pergi dari sisi Irwan. Bawa mama juga, ya?" Mama Fatonah membelai kepala dan punggung Rela.


Rela menatap ke arah wajah mertuanya. Terlihat sarat kesedihan dalam tatapan matanya yang sudah memudar cahayanya.


***

__ADS_1


Pilihan apa yang akan dibuat oleh Rela untuk masa depan rumah tangganya bersama Irwansyah? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_2